Wed, Nov 14, 2018 6:14 AM

Ekso"mistis"me Gunung Butak

dok. @gusmugusmus


#urbanmystery Narasumber @gusmugusmus

 

Sedikit berbagi pengalaman spiritual sekaligus saran bagi kawan hikers khususnya yang akan mendaki Gunung Butak.


Kami berenam mulai melakukan pendakian via pos Panderman-Butak hari Rabu 2/8/17 pukul 20.00 WIB. Kebetulan beberapa dari kami termasuk orang-orang yang memiliki kelebihan kepekaan indera, atau istilahnya indera keenam (indigo).
.
Sedari awal salah seorang indigo mulai merasakan gesekan dengan energi lain ketika melalui simpangan jalur Panderman-Butak 
.
Gesekan mulai terasa menguat ketika kami menyusuri hutan basah sebelum tebing Jancuk (istilah merujuk pada tulisan di batu bawah pohon). Salah seorang dari kami mengaku ada sesuatu yang mulai mengikuti kami. Ia menyebutnya khodam penjaga yang memang ditugaskan untuk menemani kami selama melakukan pendakian. Kebetulan kami memang membawa sebuah golok/ gaman yang menjadi wasilah/ perantara keselamatan, sebagai ikhtiar kami menyusuri hutan butak. Terutama menjaga diri dari ancaman binatang seperti kera dan babi hutan yang mungkin saja kami temui di sepanjang perjalanan 

Gesekan begitu terasa ketika kami mulai mendaki tebing Jancuk, seorang indigo di antara kami melihat sesosok wujud menyerupai orang yang sedang sholat sambil menggoyangkan badannya 

Fenomena lain dialami seorang indigo yang lain, saat menelusuri jalur tepian lereng, ada sebuah energi yang menarik kaki kirinya hingga ia hampir saja terperosok ke jurang. Untung anggota di belakangnya sigap menolong sehingga ia tak sampai terperosok. Hanya saja kakinya mulai terkilir dan cedera 

Di pos 2 kami memutuskan mendirikan camp karena kondisi tim yang sudah kelalahan, ditambah kabut dan gerimis embun yang mulai kerap menyelimuti, suhu pun mulai turun sekian °celcius. Fenomena erangan seperti binatang juga mulai mengusik istirahat kami berenam hingga akhirnya pagi menjelang 

Cerita berlanjut saat kami mendirikan camp di sabana, sewaktu malam padang bulan, suhu begitu rendah dan 2 orang indigo di antara kami lagi-lagi menemui fenomena suara, yang menurut pengakuan mereka adalah alun nyanyian sinden serta gamelan jawa yang sayup terdengar di keheningan malam. Kejadian itu di iyakan oleh sekelompok pertapa laku tirakat yang kebetulan mendirikan camp selokasi dengan kami di dekat sumber air. Mereka bercerita bahwa di Gunung Butak terdapat beberapa petilasan kuno, salah satunya adalah petilasan Angling Dharma yang melegenda di masyarakat Jawa. Menurut pendapat mereka pula bahwa Gunung Butak adalah gunung termistis kedua setelah Gunung Lawu 

Sekelompok pertapa tersebut juga menceritakan bahwa boleh saja pendaki memburu ayam hutan, babi hutan serta kijang di Gunung Butak, asal tidak memburu burung-burung, karena mereka merupakan peliharaan Si mbah yang menunggu di situs sumber air sabana tempat kami mendirikan camp. Sekaligus cerita mengenai banyaknya benda-benda pusaka yang ada di lokasi Gunung Butak. 

Kami melakukan perjalanan pulang pada hari Jum'at 4/8/17 pukul 12.00 WIB. Kami memutuskan untuk membagi tim menjadi 2 regu masing-masing 3 orang. Regu 1 melakukan penurunan dahulu, regu 2 agak belakangan, karena 2 orang termasuk saya, mengalami cedera fisik terutama di kaki, yang memerlukan perjalanan agak slow. Kami pun berpisah di camp ground antara hutan cemara dan sabana

Regu 2 (regu saya) ketika menuruni tebing Jancuk, dihadang oleh sekelompok monyet liar berjumlah 4 ekor. Tentu saja kami cukup terperanjat mengingat golok/ gaman dibawa oleh regu 1 yang telah turun dahulu. Dengan usaha dan alat seadanya, kami berusaha menghindari "agresi" monyet-monyet itu, meskipun kami harus kehilangan sebungkus energen dan sebotol minuman, sisa logistik yang kami butuhkan untuk perjalanan pulang. Seekor burung abu-abu mulai mengikuti perjalanan kami setelah melewati hutan cemara, sambil berkicau secara teratur. Salah seorang pertapa tadi mengatakan bahwa burung dengan ciri-ciri seperti itu adalah burung pengantar pulang. Dan kami mengalaminya sendiri.

Seorang dari regu 2, mulai mengalami gesekan dengan energi lain ketika menyusuri hutan basah. Dan anehnya lagi, seekor monyet dewasa, yang sepertinya adalah ketua dari kelompok monyet tadi, terus saja mengikuti kami dari belakang. Kami pun sempat keheranan, mungkinkah seekor indukan monyet meninggalkan kelompoknya sampai sejauh 2 KM? Namun kami masih berusaha menepis persepsi non logis, sambil melanjutkan perjalanan dengan tetap waspada dengan monyet yang mengikuti kami, pun juga si burung abu-abu yang setia menunjukkan petunjuk jalur pulang.

Ketika hari menjelang senja, embun pekat serta gelap menyergap. Dalam kondisi lelah dan cedera yang kami alami sepanjang perjalanan, kami berhenti sejenak mengecek peralatan penerangan sambil berharap ada keajaiban untuk kami melanjutkan perjalanan pulang tanpa logistik makanan dan minuman apapun. Syukur, ada lampu tenda di dalam tas, dan baterai yang masih full, yang bisa kami pergunakan sebagai penerangan senja hutan. Cahaya dibantu dengan senter HP milik seorang di antara kami. Kami juga menemukan sebilah pisau AK-47 milik seorang dari tim kami di dalam tas, padahal kami kira semua peralatan keselamatan sudah dibawa oleh regu 1. Kami berhusnudzon, tangan Tuhan menolong kami. Burung abu-abu pun berkicau terus-menerus seperti mengisyaratkan pada kami untuk segera keluar dari hutan.

Keluar dari hutan basah, keadaan semakin mencekam. Saya berada di depan sambil membawa pisau tadi, 2 orang indigo di belakang saya membawa lampu penerangan. Mereka berdua semakin kelelahan di samping cedera yang diderita. Yang paling belakang kondisinya semakin memburuk. Gesekan demi gesekan energi ia alami. Telinganya mulai budheg (istilah jawa), seperti ada sesuatu yang menutupi.


Burung abu-abu sudah tak terlihat rimba serta kicaunya saat kami memasuki hutan sebelum simpangan jalur Panderman-Butak. Wallohi, kami bertiga benar-benar merasakan dan mengalami apa yang disebut dorongan gaib. Salah seorang dari kami mendapat bisikan isyarat untuk sesegera mungkin keluar dari hutan Butak.

Seperti ada sebuah energi yang mendorong kaki-kaki kami untuk segera berlari keluar dari hutan Butak. Allah, saya pribadi meskipun berkali-kali mengalami kaki terkilir, kedua kaki ini entah kenapa terus saja berjalan dan berlari. Pun juga dialami 2 orang yang lain. Logikanya, dengan kondisi yang seperti itu, kami seharusnya sudah dalam kondisi yang amat parah dan tak mungkin berjalan lagi. Dan lagi-lagi, tangan Tuhan memberikan pertolongan melalui dorongan energi tadi. Kami berhusnudzon, perantara tersebut adalah Simbah penunggu Butak, yang menurut penuturan seorang pertapa tadi, bilamana Simbah senang dengan kehadiran seorang pendaki, ia akan membantu pendaki itu untuk menemukan jalan pulang.

Tanpa logistik makanan dan air untuk diminum, kaki kami seperti tiada berhenti untuk berlari dalam kondisi cedera parah, baik fisik maupun non fisik. Dan demi Gusti Yang Maha Perkasa, hanya lantunan dzikir sebagai lentera hati kami di gelapnya jalur yang kami lalui. Billahi, nyawa kami adalah sepanjang rapalan dzikir dan asma-Nya Yang Maha Mulia.

Hingga akhirnya kami mendekati pos bawah, disambut sayup-sayup sholawat diba' dengan secercah cahaya lampu, kami pun akhirnya sampai di pos bawah.

Alhamdulillah, kami berenam selamat meskipun 3 orang di antara kami, termasuk saya, mengalami cedera fisik berat. Namun saat beristirahat di warung dekat pos, salah seorang anggota kami mengerang kepanasan di bagian telinga. Dan ternyata ada energi yang menempel pada punggungnya, berwujud kera. Mungkin saja kera yang membuntuti kami cukup jauh tadi, merupakan manifestasi dari energi tersebut. Pasalnya, anggota kami yang "ketempelan" itu, mengaku mengalami gesekan energi saat berusaha mengusir indukan kera yang membuntuti kami sewaktu di hutan basah 

Akhirnya anggota kami yang memiliki kemampuan menetralisir energi negatif, berusaha sembari berdo'a membersihkan tubuh anggota kami dari tempelan energi gaib berwujud kera. Ia juga menuturkan, bahwasannya mendapat isyarat berupa bisikan, untuk segera pulang meninggalkan kawasan Butak 

Setelah mengumpulkan energi dan stamina di tubuh kami, kami bergegas menata perlengkapan untuk pulang. Tak lupa, kami berkumpul melingkar sambil memanjatkan do'a keselamatan bagi seluruh anggota tim kami. Golok/ gaman kami putuskan untuk ditaruh di carrier anggota kami yang "ketempelan" energi gaib, sebagai wasilah untuk menjaganya dari gangguan energi gaib yang mungkin saja kami temui sepanjang perjalanan Batu-Jombang. Mengingat, kondisi fisiknya yang masih lemas 

Dan alhamdulillah kami selamat sampai Jombang dan sampai tulisan ini diterbitkan 

Hikmah dan saran setelah rentetan kejadian tersebut yang bisa kami bagikan adalah :
- Kekuatan do'a merupakan bekal yang teramat mendasar, selain kekuatan fisik dan manajemen logistik yang baik
- Bagi kawan hikers yang melakukan pendakian, disarankan untuk melakukan perjalanan ketika hari terang. Karena ketika hari gelap, panca indera bekerja lebih berat dan berimbas pada forsiran energi di tubuh. Karena siklus harian tubuh manusia adalah istirahat di malam hari. Kalaupun terpaksa melakukan perjalanan di malam hari, usahakan bijak dalam memanajemen waktu dan stamina di tubuh
- Patut digaris bawahi juga untuk tidak melakukan pemisahan anggota/ tim. Karena pengalaman berat yang kami alami, salah satunya adalah karena kesalahan kami melakukan pemisahan anggota tim 
- Menjaga ucapan dan tindak laku selama melakukan kegiatan pendakian

Sekian tulisan ini saya bagikan, mohon maaf apabila ada di antara pembaca yang kurang setuju dengan apa yang saya tuliskan, namun saya memaklumi apabila ada perbedaan pendapat dan pandangan. Maaf juga apabila ada kata di tulisan ini yang kurang sesuai dengan hati pembaca, namun tulisan ini semata-mata untuk dijadikan pengingat bagi kita semua untuk senantiasa menjaga akhlak dengan alam sekitar. Karena manusia diciptakan sebagai Khalifah di muka bumi, bukan untuk merusak apalagi menghancurkan tatanan yang telah digariskan Ilahi. Karena daya hancur yang kita perbuat, kelak akan berimbas pada diri kita sendiri. Semoga bermanfaat. Salam lestari ! (tamat)

 

Foto diambil ketika saya dan tim beristirahat ketika memasuki kawasan hutan basah Rabu malam.

 

 

Punya cerita misteri saat pendakian? atau memiliki tips/ilmu/pengetahuan soal pendakian? Punya kisah tentang seseorang yang menginspirasi? Memiliki referensi film atau acara televisi yang mungkin akan bermanfaat bagi orang lain, terutama para pejalan? Punya toko outdoor untuk dipublikasikan?  Memiliki kisah perjalanan ke suatu tempat wisata beserta tipsnya? Ada event seperti lari, panjat tebing, navigasi darat (kecuali open trip dan pendakian massal yah).

Punya info tersebut? Mau berbagi ke website kami?
Silahkan untuk mengirimkan materi tulisan ke redaksi kami > urbanhikersmagazine@gmail.com < 


Dimohon jika itu tulisan milik orang lain untuk tidak lupa mencantumkan sumbernya.

 


Sumber : instagram @urban.hikers