Fri, Dec 14, 2018 8:25 AM

Kisah Misteri di Pendakian Gunung Merapi 1998

dok. istimewa


#urbanmystery Narasumber @aaddhhiii

 

"Aku nggak mau jalan mas..

Nggak mau..

Tunggu pagi aja.. Tolong mas, jangan di paksa..

Aku di marahin sama si mbah tadi, aku di pelotot in terus dari tadi," ucapku yang di sambut dengan kekagetan dan kebingungan oleh mas Z.

Akhirnya mas Z menuruti apa kataku. Ya. Start pendakian setelah terbit matahari,

 

1998

(Lupa bulan nya dan silahkan menebak umur saya)

 

Pasca kejadian mei 1998 yang merenggut banyak nyawa, dan mengubah struktur pemerintahan, banyak sistem pendidikan di daerah saya saat itu mengalami perubahan dan libur berkepanjangan. Alih alih senang liburan, malah stres yang saya dapatkan.

 

Menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa tragisnya kejadian saat itu membuat ku stres, karena beberapa minggu tak boleh keluar rumah, terasa seperti terpenjara di rumah sendiri.

Untuk mengurangi rasa stres dan menghilangkan penat, akhirnya kuputuskan untuk meng-iyakan ajakan kakak dari temanku untuk mendaki ke Merapi.

Walaupun saat itu masih benar-benar miskin pengalaman, buta trek, tanpa persiapan (peralatan seadanya saja setelah mendengar instruksi dari kakak temanku yang notabene adalah mapala dari salah satu universitas swasta di daerah asal ku Solo, Jawa Tengah) , karena baru pertama kali mendaki, tetap tak menyurutkan semangatku untuk ikut serta dalam perjalanan ini.

 

Hitung-hitung ilangin stres setelah mengalami tragedi yang bisa membuat trauma. Apalagi saat itu aku masih SMP (Sekolah Menengah Pertama), emosi masih labil, dipaksa untuk menyaksikan banyak mayat tergeletak di jalan.

 

Kalian sanggup? Aku tak yakin..

Berani lihat mayat gosong kebakar?

Berani lihat orang lari kebakar kemudian di tusuk?

(ya pasti ada yang berani)

Ah lebay, kayak film.

NO. Itu REALITA. aku termasuk saksi bisu, karena berada pada tempat dan waktu yang salah.

baca artikel, cari berita yang berhubungan dengan tragedi mei 1998.

Baca aja, pasti kuat, asal jangan liat secara langsung (pasti nggak kuat, biar saya aja. Kalo ini baru film)

 

(Mungkin next time saya ceritakan tentang mei 1998 versi saya pribadi, kalau ada yang mau, ping me haha iklan ajgkrmh).

 

Oke skip..

Ada beberapa aktivis yang saat itu menawarkan kegiatan untuk proses rehabilitasi mental (udah kaya orang gila kan gue) di daerahku, untuk anak-anak yang menderita trauma, pasca kejadian. Tapi aku tak ingin ikut, aku tidak selemah itu (pikirku saat itu).

Tapi lama kelamaan perasaan itu muncul kembali, kadang mual, makan nggak nikmat, tai kucing nggak rasa coklat.

 

Akhirnya tawaran untuk mendaki Merapi datang, dan aku pun meng-amin-i nya.

Keluarga ku pun saat aku berpamit mendaki untuk pertama kali nya, sangat pertama kali nya, langsung mengizinkan.

Wew. Aku yang berharap sedikit di khawatirkan ternyata tidak.

(makanya jangan kebanyakan berharap ke manusia)

Hanya di tanya :

"Berangkat sama siapa?"

"Naik apa?"

That's it.. Itu aja..

Atau aku salah pamit, pamit sama si mbah kakung (kakek) yang notabene adalah seorang veteran anak buah langsung dari Presiden Soekarno dan juga Presiden Soeharto.

 

(Heh.. Kalau di ingat ingat sih bikin nyengir kuda, pamit dan minta di khawatirkan sama veteran yang banyak pengalaman pahit nya).

 

Oke cukup cerita pribadi nya, dari tadi curhat mulu nggak selesai- selesai malah makin panjang dan ga ada Hiking Point nya, bikin admin kesel karena bakal lama untuk proses editing dan pembaca  dan yang lain pun kesel karena cerita makin melenceng dan beda arah dan juga tanpa kalian sadari penggunaan kata "DAN" sedari tadi terlalu banyak dan kalian tetap membacanya walaupun tanpa titik dan koma dan lagi lagi dan. (enough ; cukup)

 

Pagi hari, setelah malam mendapatkan undangan untuk ikut mendaki, kami berkumpul di rumah teman yang kakak nya akan ikut membantu dalam proses pendakian.

6 orang yang ikut termasuk 2 mapala (1 orang perempuan mantan pacar kakak temanku yang sekarang sudah dinikahi nya) yang akan menemani ku dalam perjalanan saat itu.

 

Aku, B, C, D  (baru pertama kali mendaki)

X, Z (mahasiswa/wi yang mendampingi kami ber empat)

 

Berangkat dari Solo pagi setelah subuh.

ke terminal, kemudian carter angkutan umum (sejenis mid bus travel) menuju Selo (saat itu masih Selo, belum ada New Selo).

 

Sampai Selo saat itu masih pagi, kami pun di instruksi kan untuk beristirahat dulu, sebelum start pendakian.

 

Entah kenapa sebabnya, saya lupa atau memang tidak diberi tahu, yang pasti kami tidak start mendaki pada hari itu juga, kami menginap di basecamp dulu semalam, padahal saat itu masih pagi menjelang siang, dan baru keesokan hari nya mulai hiking.

 

Baru pertama kali menginjakkan kaki di area lereng gunung, merasakan dingin nya, sejuk, ah.. sensasi nya tak akan pernah hilang di rasa.

 

"Cinta sejati itu untuk selama nya

Tapi cinta pertama tak akan terlupa"

Sil

#Eaaaa #gblk #ajg #krmh #dmynt #kenyeh (tolong jangan diedit, dibiarkan saja part ini)

 

Pagi hari sebelum mulai mendaki, mas Z dan mbak X menginstruksikan untuk membeli bekal yang di butuhkan jika belum membawa dari rumah. Tas ku pun di geledah oleh mas Z, di keluarkan semua dan di bantu packing dengan benar (thank you mas, kalau ngga ketemu panjenengan, saya tak akan kenal gunung sampai nanti punya pacar atau menikah).

 

-Baju, celana panjang, mie 3 bungkus

-Roti tawar setengah setel (setengah lagi di bawa teman)

-Ransum tentara

-Parafin, korek

-Air 2 botol besar

-Rokok Arda*h (sekarang udah ga ada padahal enak beud) Djar*m, dan 77(-1)

Selebihnya peralatan pribadi yang nggak penting banget (karena nggak ada pengalaman).

Rokok? Iya saya udah jadi perokok berat waktu SMP (jangan ditiru di rumah tetangga, mending ke warkop aja)

 

Selesai bongkar-bongkar, kita diberikan sedikit penjelasan tentang tata krama pendakian saja oleh mas Z, selebihnya tentang trek, seingat saya tidak ada pemberitahuan nya, mungkin surprise.

 

Matahari masih ramah, dan Selo masih nyaman sebelum menjadi New Selo (rokok sebungkus masih sekitar tiga ribu lima ratus)

 

Kami pun start hiking, yeah..

(Saya tidak tau berapa biaya simaksi karena di bayari dan tidak ingin tau karena hanya ingin bersenang senang, maklum lah anak ingusan).

 

Seingat saya dulu itu, trek merapi dominasi tanah liat (kecuali setelah pasar bubrah) entah kalau sekarang , sudah berapa puluh tahun. Perjalanan yang saya rasakan hanya naik..naik.. Dan teruuusss naik.

 

Sampai akhirnya sore menjelang maghrib kami sampai di area pasar bubrah.

Sepi. Sejauh mata memandang hanya pasir. Tenda pendaki lain? saya tak melihat, bahkan satu pun.

 

Yang saya lihat saat itu hanya beberapa penduduk sekitar yang akan turun kembali ke desa, entah dari mana mereka. Selebihnya hanya 5 orang teman saya.

 

Mas Z mendirikan 2 tenda. 1 tenda untuk kami ber empat. 1 tenda untuk mas Z dan mbak X.

Seingat saya saat itu masih sore, menjelang maghrib lah.

 

Setelah tenda selesai di pasang frame dan di pasak, akhirnya kami melepas lelah, ketiga teman saya masuk ke tenda, hanya saya yang masih di luar, menikmati kesendirian yang luar biasa hebat, melihat sedikit ke atas di depan saya adalah puncak Merapi.

 

“Tunggu ya,” ucapku dalam hati seraya tak sabar untuk bertemu karena penasaran.

 

Malam pun datang, mas Z keluar tenda memberi perintah untuk mengeluarkan bawaan kami dari dalam tas, semua logistik di kumpulkan. Mulai lah acara memasak dan makan malam.

 

Seingat saya hanya masak air, dan masak mie instan yang walau namanya instan tapi tetap saja harus di masak (bisa langsung makan sih. okelah instan, nggak usah didebat)

 

Minum kopi kita..

Ngerokok dulu sambil nunggu mie mateng, eh ada singkong yang dibawa mas Z, mantab.. Pake B.

 

Jaman dulu masih tenar hiking bawa singkong sama ubi, sekarang kalah sama Sneake*s..

 

Kebelet pipis deh, saya bilang sama mas Z kalau mau pipis, trus saya tanya pipis dimana?

Mas Z jawab, "pipisnya .... Dan .... Dan.... Jangan lupa juga Permisi".

(Titik titik adalah ucapan yang saya tidak ingat/dengar karena saat itu teman saya juga mau ikut pipis dan berbicara kepada saya, jadi saya fokus ke teman yang berbicara tadi)

 

Saya masuk tenda dulu ambil senter, baru sebentar aja ambil senter, 3 orang tadi udah ga ada, udah duluan kencing, padahal saya yang pamit duluan, ah udahlah. Akhirnya saya biarkan 3 teman tadi pipis berjamaah, saya sendirian.

 

Saya jalan agak jauh dari tenda, nyari tempat yang agak datar lah biar nyaman dikit sih pikir saya.

 

Baru aja buka resleting, mau kencing, di tepuk pundak saya,

"Ojo nguyuh neng kono"

(Jangan kencing disitu)

 

Otomatis kaget lah, tengok belakang, saya pikir teman saya atau mas Z yang ngomong, tapi suara nya berat banget dan serak kaya embah embah, eeh nggak ada orang.

Senter tangan yang saya pakai kemudian saya arahkan ke sekitar belakang saya berdiri, tapi nihil ga ada siapapun.

 

Aneh.. kayak denger suara orang tadi, jelas banget suara nya tapi nggak ada orang nya..

 

Saya hiraukan dan lanjut kencing, tetap di tempat saya berdiri sebelumnya (namanya juga anak SMP, bandel lah gue).

 

 

selesai kencing, saya balik ke tenda, udah keliatan tenda mungkin jarak 30 meter lah, (tak bisa memastikan jarak karena hanya melihat senter dari teman di tenda, selebih nya gelap lah)

 

Baru sebentar jalan di tepuk lagi (sepertinya bukan di tepuk, rasanya lebih seperti di timpuk batu kecil tapi kenceng).

 

"Kowe wes tak kandani ojo nguyuh neng kono, kok ngeyel"

(Kamu sudah saya bilangin jangan kencing disitu tapi kok nekat)

 

Kaget lagi kan, saya tengok ke belakang , eh ada mbah-mbah pake baju abdi dalem keraton (pakaian adat jawa tengah, istilah nya karyawan dari keraton)

Beliau serasa marah besar (saya nggak kelihatan muka nya)

 

(Senter saya jadul banget, cahaya berwarna kuning, senternya berat berbahan seperti almunium/besi deh kalau kalian tau senter jadul)

 

Senter tangan yang saya bawa aneh nya seketika menjadi samar seakan langsung habis daya baterainya, kaget bercampur takut, mau teriak nggak bisa, seinget saya saat itu di belakang Si mbah tadi ada 2 orang yang membawa tombak tapi nggak jelas, minim cahaya, hanya seperti bayangan .

 

Beberapa detik kemudian seingat saya, saya sadar dan berbalik arah menuju tenda, tapi ngga lari, bukan nggak mau, tapi nggak bisa, jalan aja rasanya beraaaat banget, serius, kalau nggak percaya rasain aja sendiri.

 

Sampai di area camp, saya langsung masuk ke tenda.

Hanya duduk, diam..

Seperti kena paralyze dari Shock Relic nya Saint, atau Bind dari Priest.

 

Mas Z yang mungkin paham mendatangi saya, saya hanya dengar beliau tanya

 

"Ada apa, kenapa lama banget kencing nya, setengah jam dari mana aja," saya hanya geleng -geleng, nggak jawab apa-apa sambil mikir kencing saya setengah jam?

 

Akhirnya, jatah mie di berikan ke saya di dalam tenda, makan pun tak nikmat tai kucing tak terasa coklat (2). Sembari makan mas Z bilang kalau ke puncak bakal di mulai berangkat jam 3 dini hari, biar santai jalannya dan bisa dapet sunrise yang indah.

 

Saya tak menghiraukan, sambil terus mengunyah mie yang sudah menjadi bubur, mas Z masih cerita.. bla..bla..bla, whatever ..

(Sorry mas, haha)

 

Selesai makan acara memejamkan mata dimulai. Entah hanya saya sendiri yang tak bisa tidur atau ada teman lain yang belum tidur, karena sudah tidak ada lagi suara kehidupan dari mereka.

 

Tengah malam, saya nggak paham jam berapa, (belum punya jam sih), ada suara gaduh dari luar tenda, terdengar seperti suara langkah kuda (logis nggak sih). Dan hentakan kaki dari pasukan baris berbaris.

 

Takut????? iya pasti..

Nggak bisa gerak hanya mata saja yang berkedip, itu pun jarang karena konsen dengerin suara di luar tenda, sampai akhirnya terdengar suara orang dehem, "ehem"

Tepat di belakang kepala saya di luar tenda. Dengan suara berat dan berwibawa (bisa bayangin?).

Langsung merem...

“*&$+*;"?#)#;#)';;#+….,”

 

Mau tidur ga bisa, berharap pingsan juga nggak bisa pingsan. Cuma bisa nahan napas aja sambil deg-degan. Sampai akhirnya mas Z buka tenda kami dan bilang waktunya untuk ke puncak, kami di suruh siap siap.

 

Legaaaaaaaa banget sumpah.

Tapi keluar sekarang??

Sudah pasti BIG NO !!!

 

Semua udah keluar dari tenda dan siap siap buat ke puncak, cuma saya yang masih di dalem tenda, sampe temen saya ngomel-ngomel, padahal dia yang dari awal pendakian ngeluh capek terus, eeh, sekarang semangat beud..

 

"Adhi ayo, kamu ikut ngga?, kita udah meleset setengah jam dari jadwal, kasian teman lain nunggu." Pertanyaan yang saya ingat saat itu karena begitu selesai bertanya, saya pun membuka tenda berharap untuk mas Z di depan tenda.

 

Tapi begitu saya buka tenda, yang saya lihat orang berpakaian adat jawa khas abdi dalem keraton yang membelakangi saya (saya lihat punggung nya saja saat itu).

 

Faaaakk, kaget lagi dan masih tetap tak bisa bergerak, kemudian "sesuatu" berpakaian adat jawa tadi berbalik ke arah saya, DEG.. Wajahnya nggak ada, rata.. flat kek tv LCD..

(FYI di dalam tenda ada senter yang di gantung di tengah tenda, jadi ada cahaya samar)

 

Ya Allah, saya lemes.. Mau nangis ga bisa, teriak nggak bisa, pingsan nggak bisa, seketika langsung nunduk.. Merem dah..

Lama nggak gerak akhirnya saya ngerasa badan di goyang-goyang in sama mas Z, "Adhi, Ayo bangun, jangan tidur sambil duduk."

 

Saya jawab pelan, kaya males ngomong rasanya,

 

"Aku nggak mau jalan mas. Nggak mau.”

“Tunggu pagi aja.. Tolong mas, jangan di paksa. Aku di marahin sama simbah tadi," ucapanku yang disambut dengan ke kagetan dan kebingungan oleh mas Z.

 

Akhirnya mas Z menuruti apa kataku..

Ya.. Start pendakian setelah terbit matahari, itu yang kuharapkan, sinar mentari (bukan provider, oke ganti matahari tapi bukan pusat perbelanjaan)

 

Mas Z pun mengalah, mempersilahkan saya untuk istirahat dan menunggu datang nya pagi dengan sinar matahari. Saya tak tau apa yang di perbincangkan oleh mereka (mas Z dan kawan lain), yang pasti saya lelah, ngantuk.

 

Entah berapa lama kemudian saya di bangunkan kawan saya, disodorkan nya gelas berisi kopi ke saya (perhatian bat dah, untung aja muhrim, kalau bukan muhrim bisa khilaf gue).

 

"Tangi le, mucak pora we"

(Bangun bray/kuy/cok, muncak apa nggak)

 

Berat rasanya mata buat melek, tapi akhirnya melek juga sih dengan berat hati.

 

Sekitar setengah jam lah, ga sampai sejam, saya prepare, sarapan dulu, Karena mas Z bilang udah jam 8 an, kita kudu muncak sekarang, karena nanti biar turun nya ngga kemaleman.

 

Oke skip cerita hal yang nggak penting (nggak sadar diri yang ngetik/nulis)

 

Perjalanan menuju puncak aman. Sampai puncak Garuda, saat itu puncak Garuda sebelum Merapi erupsi besar (tahun berapa ya, lupa). Tetapi.. Tetap saja, Hingga kini..

Merapi masih gagah dan angkuh, walau sudah ber-evolusi dan bongkar "rumah".

 

Foto bentar, nggak banyak gaya, karena pake foto yang masih kudu di Afdruk-in, per photo 15-20 ribuan, mahal cuk.

 

Selesai foto, kami bergegas turun, mas Z bilang, ikutin aja batu yang di tumpuk, jangan terlalu ke kanan (saya bingung jelaskan posisinya, maap ya)

"Fokus aja sama arah tenda," Itu yang di katakan mas Z sebelum kami turun. Tapi emang dasar saya aja yang pelupa, atau nggak fokus karena terlena keindahan alam yang baru pertama saya rasakan. Jadi ngga fokus, turun nya misah. Saya paling belakang, karena lama berhenti untuk liat pemandangan.

 

Turun turun turun..

Kok tenda nggak keliatan, temen lain juga nggak keliatan, yang saya lihat di bawah hanya pasir, batu besar, dan menjorok kebawah itu entah jurang entah hutan.

 

Bingung, panik, saya lihat batu yang di tumpuk, tapi nggak ngerti fungsinya apa (baru inget saat sudah kembali di tenda dan di jelaskan lagi oleh mas Z).

Akhirnya saya duduk, udah mulai panas banget matahari nya.

 

Ngantuk yang saya rasa saat itu. Kena angin kenceng, rasanya kaya di belai rambut nya sama ibu. Nyaman..

 

Sampai akhirnya ada kerikil mungkin yang jatuh ke daerah punggung, kaget lagi, ada mas Z yang panggil panggil dari bawah sebelah kiri jauh banget jarak nya. Astaga..

 

Saya ikutin instruksi/aba-aba dari tangan nya untuk mengarah ke kiri lebih jauh menuju ke arah mas Z, sampai akhirnya ketemu deh penampakan tenda.

 

Sampai di tenda dimarahin mas Z karena area yang saya tuju itu mendekati jurang, diomelin, kenapa ngga ikutin batu tumpuk..

Yaah, maaf mas merepotkan..

 

By the way, saat saya sampai tenda hari sudah sore, dan ya, bisa di pastikan kemungkinan besar saya tertidur, saat perjalanan turun dari puncak.

 

Setelah maghrib di putuskan untuk start turun ke basecamp. Perjalanan yang tadi nya ceria malah bikin bete karena saya diomelin terus , sama mas Z, sama temen lain, sama Mbak X juga, padahal Mbak X ini tak banyak omong.

Kesal, saya pun misuh-misuh (mengumpat/berkata kotor) dalam hati.

 

Sampai akhirnya melewati area (seingat saya, CMIIW) perkebunan warga, saya reflex menoleh ke belakang, karena terasa ada hembusan angin di area leher, padahal angin nggak kenceng, dan saya di posisi paling belakang (karena ngambek dan nggak mau jalan bareng)

Pas noleh ke belakang kok kaya liat obor, ada api nya aja, yang bawa obor nggak keliatan.

Aneh, pikir saya dalam hati, lanjutlah jalan, penasaran noleh lagi ke belakang tapi udah nggak ada, giliran mau jalan lagi kesandung, jatuh dan senter lepas dari tangan, otomatis gelap dan hanya area sekitar sinar dari senter aja yang kelihatan, nah pas area sinar itu saya lihat ada blangkon (penutup kepala pakaian adat jawa). Ada rambut nya juga, tapi hadap ke belakang, dan kenapa kepala di bawah, badan nya mana.

Akhirnya jalan cepet, sambil manggil-manggil temen, lumayan jauh. Senter nggak saya ambil, mau coba ambil? Nggak apa-apa kalau mau pingsan sih. Mau lari nggak bisa, serius, karena gelap juga, akhirnya ketemu temen, nafas ngos-ngosan, diomelin lagi. Astaga.. Lemes, asli..

 

Sampai basecamp udah malam dan nggak ada angkutan umum, akhirnya nginep di basecamp (saya lupa nama basecamp nya).

 

Alhasil rencana pulang hari itu gagal, tidur dulu, sampai nunggu pagi lagi. Merapi yang normal nya 1 hari 1 malam atau tiktok juga bisa,( kecuali emang datang dengan niat ngecamp beberapa hari) kami tempuh 3 hari.. Pheww..

 

Tapi tak apa lah, banyak pelajaran yang saya petik.

3 hari asal selamat, karena memang taruhan nya di luar sana tak main main.

 

Mas Z yang bercerita kepada pemilik basecamp perihal yang terjadi di atas sana, dan pemilik basecamp hanya tersenyum melihat saya.

Sebelum saya pulang, saat berpamitan beliau berpesan, "sokmben yen enek wektu dolano rene meneh, niat sing apik nggih, nyuwun ngapuro," (suatu saat kembali kemari lagi, niat yang baik ya, meminta maaf)

 

"oh nggih"

Jawab ku singkat..

 

(Saya lupa nama pemilik basecamp juga, saat itu beliau sudah sepuh/tua. Dan pesan beliau pun sudah saya laksanakan, kembali ke Merapi untuk meminta maaf, dan beberapa kali lagi ke Merapi, Alhamdulillah nya tidak ada hal buruk terjadi kepada saya).

 

Oh ya, maaf jika ada kesalahan ketikan, dan maaf untuk tak bisa mengingat dengan pasti waktu atau tempat yang saya lewati saat dalam perjalanan. Untuk tempat yang saya kencing i pun saya lupa tempat nya, inti nya semua tempat dimana pun jika memang ingin buang hajat lebih baik permisi dulu. Dan cerita ini pengalaman pribadi, bukan cerita khayalan efek nonton film horor , atau ketakutan yang berlebihan akibat melihat undangan pernikahan "you know who"..

 

Terima kasih untuk mas Z yang sabar menuntun saya dalam pendakian untuk pertama kali.

Terima kasih untuk pemilik basecamp untuk wejangannya

 

Terima kasih Admin sudah memberi kesempatan (lagi) untuk saya bercerita .

 

Sekali lagi, cerita ini hanya sekedar share pengalaman pribadi, bukan untuk merugikan / membunuh karakter/ bermaksud buruk kepada pihak lain.

 

Terima kasih

Keep hike, safe hike, wassalam..

 

 

 

Punya cerita misteri saat pendakian? atau memiliki tips/ilmu/pengetahuan soal pendakian? Punya kisah tentang seseorang yang menginspirasi? Memiliki referensi film atau acara televisi yang mungkin akan bermanfaat bagi orang lain, terutama para pejalan? Punya toko outdoor untuk dipublikasikan?  Memiliki kisah perjalanan ke suatu tempat wisata beserta tipsnya? Ada event seperti lari, panjat tebing, navigasi darat (kecuali open trip dan pendakian massal yah).

Punya info tersebut? Mau berbagi ke website kami?
Silahkan untuk mengirimkan materi tulisan ke redaksi kami > urbanhikersmagazine@gmail.com < 


Dimohon jika itu tulisan milik orang lain untuk tidak lupa mencantumkan sumbernya.


Sumber : instagram @urban.hikers