Fri, Dec 14, 2018 7:18 AM

Kemarahan Penghuni Gunung Kencana

dok. Bayan


#urbanmystery Narasumber : Bayan

Assalamualaikum….

Nama saya Bayan, saya ingin sedikit bercerita. Sebelumnya saya infokan bahwasanya cerita ini saya sampaikan berdasarkan fakta dan apa yang telah saya rasakan dan alami di dalam suatu perjalanan ke gunung Kencana yang bertempatkan di arah Barat Puncak Bogor.

 

4 Juli 2018 
Saya dan kawan kawan saya yang beranggotakan 7 orang ingin kembali mengenang dan melepas rindu terhadap gunung, dan kami memutuskan hari ini untuk meredamkan rindu kami ini dengan mendaki gunung yang tak terlalu tinggi tetapi dapat kebersamaan dan keasyikannya.

 

Oke singkat cerita kami bersiap siap (packing) dari jam 10 siang karena direncanakan nya kami akan  memulai perjalanan jam 4 sore dari Depok menuju Puncak Bogor dengan mengendarai sepeda motor. Karena kami di haruskan menuju ke pasar dahulu untuk membeli segala perlengkapan seperti halnya ; logistik, air, dan segala barang yang kami butuhkan untuk bercamping di sana, jadi kami menghabiskan waktu dalam perjalanan cukup lama.

Sesampainya kami di gerbang (pos) Gunung Kencana pada pukul 10 malam, kami berhenti sejenak untuk mengembalikan stamina yang lumayan terkuras karena macetnya di dalam perjalanan menuju tempat tujuan ini. Oke cukup istirahat sebentarnya kita kembali melakukan perjalanan dengan mengendarai sepedah motor yang kami pikir tak jauh dari gerbang menuju pos pendakian Gunung Kencana (Basecamp), kami pun heran dengan jalur yang teramat sulit dilalui dengan motor matic karena jalan berbatu dan jarak pandang yang tak begitu kelihatan disertai sebalah kiri jurang dengan tanaman teh.

 

Pikiran sudah mulai kesal karena mendapat jalur kendaraan yang sulit dan jauh untuk menuju Basecamp. Pada akhirnya kita sampai di Desa yang bernamakan Desa Cikoneng untuk istirahat sejenak karena jalur yang cukup sulit. Dan ketika abang sayang mengecek carrier nya, terdapat satu barang yang hilang yaitu berupa slayer komunitas yang bisa di bilang cara mendapatkannya susah dan tidak bisa di beli dengan uang, akhirnya saya dan abang saya berjalan kaki untuk kembali menelusuri jalan yang sempat kita lalu dengan kegelapan dan hanya di terangi oleh cahaya dari handphone, tetapi hasilnya nihil. Dan kami pun mulai merelakan slayer itu lalu segera kembali ke Desa Cikoneng untuk menemui teman kami yang menunggu disana, sesampainya di sana tak lama akhirnya kita kembali untuk meneruskan perjalanan menuju basecamp.

 

Singkat cerita kami telah sampai di basecamp dengan kondisi tangan pegal karena menahan kendali motor yang terus menghantam track berbatuan, akhirnya kita istirahat dan packing ulang barang untuk segera melakukan pendakian. Saat melakukan pengecekan barang kembali, terdapat satu waist bag hilang entah jatuh atau kemana hilangnya, saya berpikir mungkin jatuh di jalan karena hanya di ikatkan pada kepala carrier. Akhirnya kami merelakan lagi barang yang telah hilang tanpa harus mencari dikarenakan jalur untuk mencari dengan motor sangatlah rumit bila memakai motor matic.

 

Oke akhirnya kita akan melakukan pendakian pada pukul 12 malam. Mulai lah berdoa agar di jaga dari segala kendala apapun nantinya. Dan di sinilah kesalahan saya di mulai, saya mulai mengeluarkan kamera untuk mengambil foto teman saya yang berjalan di depan karena posisi saya di belakang mereka sebagai koordinator pendakian. Pada saat melalu jalur kebun teh, beberapa kali saya mengambil gambar teman saya yang di depan, dan seketika pikiran entah kemana saya merasa ada yang aneh, saya mencoba untuk menepis pikiran itu karena tidak ingin malah lebih kepikiran kedepannya. Akhirnya pikiran pun kembali normal, dan saya kembali memegang kamera untuk mengambil foto untuk kesekian kalinya, dan pada saat saya ingin membuka tutup lensa, tiba tiba tutup lensa itu pun hilang, saya dibuat bingung dengan kemana jatuhnya tutup lensa itu, akhirnya saya berteriak kepada teman di depan saya untuk berhenti dan tunggu sebentar.

 

Saya pun putar balik arah dan melangkah dengan ritme lumayan cepat tetapi malah lambat di karenakan seperti ada yang menarik tas, jaket, bahkan tangan saya dari balik pepohonan teh. Karena saya berpikir untuk mencari tutup lensa jadi saya buang pikiran apa yang menarik barang bahkan tubuh saya saat itu, pada akhirnya tutup lensa pun tidak ketemu juga, dan saya kembali ke teman saya dengan langkah laju yang lumayan cepat karena perasaan sudah mulai tidak enak. Sesampainya di Gapura Tanjakan Sambalado kami berhenti dan saya menceritakan tentang hilangnya tutup lensa saya tanpa menceritakan ada sesuatu hal yang menarik saya dalam perjalanan mencari tutup lensa.

 

Kami kembali melanjutkan perjalanan dengan menaiki tanjakan yang begitu curam atau bisa di bilang lutut bertemu dengan kepala. Kondisi saat itu ada salah satu kawan saya yang tidak pernah berolahraga dan pertama kalinya dalam mendaki gunung, jadi saya dan satu teman saya berjaga di belakang untuk mengawasi apabila teman saya yang melakukan pendakian perdana nya ini bila lelag dan meminta untuk istirahat. Dan benar dia meminta istirahat dan 4 kawan kami sudah jauh di depan, oke lah saya bilang jangan dipaksakan kalau memang tidak kuat. Kami melakukan istirahat sekitar 10 menit lalu melanjutkan perjalanan, dan baru saja jalan 5 langkah teman saya kembali meminta untuk istirahat, ya saya bilang "okelah istirahat sampai kembali lagi staminanya", setelah istirahat selesai kami melakukan perjalanan kembali dan kali ini saya tak hitung langkahnya kembali teman saya meminta istirahat. Saya dan satu teman saya yang bisa di bilang (lebih mengerti tentang pendakian) memaklumi karena ini pendakian perdana teman saya ini, pada akhirnya saya pun lelah juga dikarenakan harus beristirahat, jalan, beristirahat, jalan.

 

Pikiran saya sudah tidak terkordinir karena lelah serta kesal dengan hilangnya barang barang bawaan. Sampai lah pada kesalahan terbesar saya melalu ucapan yang seharusnya tak boleh di ucapkan pada gunung manapun, saya berkata "An*ing, gunung pembawa sial, barang ilang ilangan".

 

Seketika saya merinding setelah mengucapkan kata tersebut, dan saya sadar saya salah. Segeralah saya meminta maaf kepada penghuni gunung melalu kata kata Istighfar serta mengakui kesalahan saya. Tapi rasa merinding pun tak kunjung hilang, akhirnya saya pun mengajak teman saya untuk kembali melakukan perjalanan karena saya sudah merasakan tidak enak untuk terus berdiam diri disini. Saat perjalanan pikiran saya entah kemana dan raga yang tadinya tak lelah menjadi cepat lelah, saya pun berkata ke teman saya "saya tidak kuat", tapi bukan karena fisik, melainkan di hantui oleh rasa merinding yang terus menerpa diri saya sehingga mudah lelah dan pikiran selalu takut.

 

Teman saya pun kembali meminta berhenti, kembalilah kami berhenti dan ternyata yang merasakan tidak enak bukan hanya diri saya, melainkan teman saya yang (senior) ini juga, akhirnya dia berdiri dan meminta untuk berjalan kembali walau keadaan teman saya yang satu nya lelah. Tapi kita memaksa untuk melanjutkan karena hawa kali ini cukup membuat lebih merinding, tak lama berjalan akhirnya kami sampai puncak sekitar jam 1:30 pagi, dan tenda sudah di bangun oleh abang saya dan ke tiga teman saya lainnya. Setelah di tenda, teman saya yang senior tadi bercerita mengapa dirinya memaksa berdiri dan melanjutkan perjalanan, karena dia melihat sesosok kepala berambut panjang yang bertepatan di pohon sebelah saya, pada akhirnya saya pun hanya merasa bersalah atas apa yang saya ucapkan tadi, dan selalu istighfar dan meminta maaf atas perkataan yang tidak baik.

 

Jam 2 pun kami memasak karena sudah mulai lapar, dan saya keluar tenda untuk berfoto karena view yang sangat bagus dari terlihatnya gunung Gede Pangrango dan gunung Salak yang gagah disertai bintang dan lautan kabut yang berbaris menyerupai awan. Ketika saya berfoto kembalilah saya ke dalam tenda dan membantu untuk memasak. Selesai masak kami pun makan dan langsung melanjutkan tidur, kami bangun jam 8 pagi dan kembali memasak lalu turun pada jam 10 siang nanti. Setelah selesai makan dan kami berkemas untuk kembali pulang, dengan hati yang terobati karena rasa rindu terhadap gunung. Dan setelah saya sampai rumah saya kembali mengecek foto foto diri saya yang di ambil oleh teman saya melalui kamera.

Ketika saya tegasi foto itu seperti ada yang janggal, dan saya zoom ke arah yang membuat saya merasa janggal itu, dan benar tersapat sesosok kepala yang teman saya ucapkan tentang kepala berambut panjang itu, saya berpikir kalau itu plastik, tapi setelah saya bandingkan dengan foto pagi, tidak ada sampah plastik satupun. Dan benar ketika saya tanga ke teman saya, itu sosok yang ia lihat pada saat di trek.


Sekian, terimakasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca cerita saya.

Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan dalam berkata atau cerita yang mungkin kurang berkenan di hati dan pikiran teman teman sekalian.

 

Pesan dari saya, jangan pernah menjadi seperti saya yang berkata yang tak seharusnya di lontarkan walau dalam keadaan lelah dan kesal di gunung, kita hanya pendatang (tamu) dan kita datang untuk menikmati, bukan mencaci. Saya sebagai peran yang menuliskan cerita ini memohon maaf kepada penghuni Gunung Kencana dan memohon kepada kawan kawan semuanya agar tidak memojokan saya dikarenakan kesalahan saya dalam berprilaku di gunung.

Keep Hike, Safe Hike. Wassalam. (Tamat)

(PS : Gambar penghuni nya nih min, sebelah kiri pojok bawah.)

 

 

.

Punya cerita misteri saat pendakian? atau memiliki tips/ilmu/pengetahuan soal pendakian? Punya kisah tentang seseorang yang menginspirasi? Memiliki referensi film atau acara televisi yang mungkin akan bermanfaat bagi orang lain, terutama para pejalan? Punya toko outdoor untuk dipublikasikan?  Memiliki kisah perjalanan ke suatu tempat wisata beserta tipsnya? Ada event seperti lari, panjat tebing, navigasi darat (kecuali open trip dan pendakian massal yah).

Punya info tersebut? Mau berbagi ke website kami?
Silahkan untuk mengirimkan materi tulisan ke redaksi kami > urbanhikersmagazine@gmail.com < 


Dimohon jika itu tulisan milik orang lain untuk tidak lupa mencantumkan sumbernya.

 

Sumber : instagram @urban.hikers