Wed, Oct 24, 2018 1:32 AM

Belenggu Misteri Gunung Semeru

dok. @urban.hikers


#urbanmystery Narasumber : @aaddhhiii

Assalamualaikum….

Nama saya Adhi, saya ingin sedikit banyak bercerita. Sebelumnya saya infokan bahwasanya,

> Cerita ini berdasarkan kisah nyata, fakta dan tanpa ada rekayasa, penambahan atau majas lain. Hanya sedikit mengurangi kisah lain yang kurang pantas di ceritakan. Jika mungkin cerita ini terlihat lebay, mungkin karena saya amatir dalam menuliskan cerita. Sebagian karakter ada yang di sembunyikan identitasnya karena tak ingin terlalu di ekspos.

> Cerita ini berdasarkan sudut pandang saya pribadi, dan teman lain sudah memberi ijin untuk menuangkan nya ke dalam bentuk ketikan (baca : tulisan)

 

04 juli 2018

Pendakian ke Semeru kali ini akan menjadi titik balik dalam kehidupan saya, agar kedepannya lebih berhati-hati dan lebih baik lagi dalam berkomunikasi, dengan rekan 1 tim. Karena sebaik-baiknya persiapan kita jika tidak di imbangi dengan komunikasi yang baik akan banyak terjadi kesalahpahaman yang berakibat buruk untuk keseluruhan anggota 1 tim.

 

Berawal dari curhatan teman yang ingin  mengantarkan kawan dari negara tetangga, Malaysia menuju ke Semeru. Karena ada beberapa hal yang tidak memungkinkan untuk ikut berpartisipasi, teman saya pun tidak jadi berangkat (1 teman lain juga tidak bisa ikut)

 Akhirnya saya dan 2 teman saya yang lain menggantikan posisi nya sebagai guide untuk kawan dari Malaysia. Setelah proses registrasi dan briefing selesai, kami pun bersiap-siap untuk melakukan Perjalanan.

 

(Sekitar pukul 11.30 )

(Sedikit cerita, dini hari sebelum sampai Ranupani, saya sempat menjelaskan tentang tata krama mendaki gunung di indonesia, antara lain jaga ucapan, perbuatan dan standar lain, serta tak lupa saya ingatkan untuk melepas semua atribut yang bisa menarik perhatian penunggu di sana, bisa berupa jimat kalung, cincin, sabuk, atau lain nya, sudah dengan jelas dan saya ulang berkali-kali).

Total 23 kawan dari Malaysia, dengan 3 guide dari Indonesia.

Satu teman saya berada di posisi depan untuk menunjukkan jalan (sebut saja ukrok). Sedangkan saya dan (sebut saja Mawar) ada di bagian paling belakang. Kenapa kami berdua di bagian belakang? Karena dari awal sudah ada kesepakatan untuk berjaga-jaga jika ada yang tertinggal atau ingin break lebih lama, sudah pasti akan kami tunggu.

Dan juga menurut saya, 4 mata lebih baik dari 2 mata, karena mengawasi 23 orang jika sendirian sudah tentu saya kurang sanggup.

 

Perjalanan mulai dari basecamp menuju pos 1 dan 2 bisa dibilang mulus tak ada halangan berarti, hanya beberapa kawan yang sedikit kelelahan karena proses adaptasi dengan alam saja.

Kabut mulai datang, suhu mulai berubah sedikit lebih dingin, dan gerimis pun tiba.

Pos 2 menuju pos 3 ada beberapa kawan yang berhenti karena ingin kencing, tepat di depan area pohon yang di beri kain yang dianggap keramat oleh penduduk sekitar, (mereka kencing tidak di area pohon, tetapi di depan pohon dan mencari tempat yang tersembunyi).

Saya yang baru sampai pun segera menegur untuk tidak berhenti di area sekitar pohon ini untuk waktu yang lama, feeling udah mulai ga enak.(1)

Perjalanan pun kami teruskan, ada beberapa kawan  yang berhenti tepat di jembatan, perasaan saya makin terasa tak nyaman saat berhenti disana, hingga saya katakan untuk sedikit bergerak maju lagi agar tidak berhenti tepat di jembatan.(2)

Senja datang saat kami tiba di pos 3, sembari menunggu datang dan habisnya  maghrib, kamipun beristirahat di  pos 3. Hingga selepas maghrib ,barulah kami lanjutkan perjalanan menuju Ranukumbolo. Sekitar pukul 8 keseluruhan anggota telah berkumpul, perjalanan agak tersendat karena ada diantara anggota kami yang cedera.

Buka tenda, kami bagi tugas, agar semua lebih cepat terselesaikan. Ada 6 tenda untuk kelompok kami, dan kami tidak mendirikan tenda di area sekitar shelter, kami camp di area Ranukumbolo awal setelah menuruni tanjakan dari pos 4, karena saat itu ramai dan pasti sulit menemukan tempat yang muat untuk 6 tenda dengan posisi melingkar.

 

Makan sudah, rokok sudah, kopi pun sudah, mata mulai lelah, yang lain pun sudah terlelap. Saya pun ikut andil untuk memeriahkan suasana tidur bareng berjamaah, dan suara dengkuran memecah keheningan malam di Ranukumbolo. Tapi.. tidur saya tak nyaman,  saya tak bisa menjelaskan apa yang membuat saya merasa gelisah. Hanya saja ini membuat mata sulit terpejam ,saya hanya diam, untuk bergerak sedikit pun malas sekali.

 

Disini, keanehan mulai terjadi, banyak kejadian yang menurut saya diluar batas logika.

Kadang ada wangi kamboja dan melati.

Kadang ada bau seperti singkong di bakar.

Terkadang seperti ada yang sedang bersiul tepat di samping saya.

Hingga saya mengingat satu persatu apa saja kejadian hari ini yang membuat perasaan saya gelisah. Apa kesalahan yang telah saya perbuat? Atau ada kawan lain yang berbuat kesalahan.. (3)

 

Lelah berpikir sepertinya telah membuat saya tertidur hingga sekitar pukul 3 dinihari saya terbangun, biasalah kebelet pipis. Cari tisu, pakai headlamp, kemudian keluar tenda, sekitar 5-7 meter saya melangkah posisi kebelakang tenda (posisi nya didepan tenda itu adalah rakum, di belakang tenda arah ke jalur ayak-ayak). Ada perdebatan antara hati dan pikiran, saat logika bertatap batas dengan perasaan

Baru sekali ini saat sedang kencing, entah kenapa terasa lamaaaaa banget nggak selesai-selesai keluar terus airnya, yaudah dinikmatin aja sambil sebat dah. Saat itu sedang kabut dan gerimis. Asyik kencing liat sebelah kiri ada rakum (hanya sedikit bias air yang terlihat ),

 giliran liat ke kanan, eh ada sepasang mata berwarna kuning buram (mungkin sebesar tutup botol air mineral gedean dikit lah).

“ah, paling kucing,” gumamku berusaha menenangkan diri sendiri.

Wait, holy shit tai suci. Mana ada kucing mau kena air hujan, (jika bukan karena terpaksa), mungkin anjing, tapi kenapa hanya mata, mana badan nya. Apa saya salah lihat.

(FYI, headlamp yang saya pakai termasuk jenis headlamp yang (maaf) baik jenisnya, jadi kabut bisa tertembus sinar walaupun tidak sampai jauh)

 

Dan lagi, sebenarnya saya tak ingin melihat.

Semakin dalam perasaan saya untuk menolak melihat ke arah kanan, tapi kenapa semakin menolak malah semakin penasaran ingin melihat, itu lah manusia.

Akhirnya saya menyerah dan kembali melihat ke kanan. Sepasang mata berwarna kuning buram masih ada disana, dan di belakang mata tersebut sosok hitam, besar sedang duduk (posisi duduk kira-kira setinggi tenda kami), hanya duduk diam.

Ah paling halusinasi atau perasaan saja,” ujarku dalam hati.

Tapi kalau hanya halusinasi, kenapa gerimis nya bikin basah dan air kencingnya keluar terus, keluar asap pula, saya sadar, 103% sadar.

Astaghfirullah, ucap saya dalam hati, merinding sih, tapi yaudah ucap salam aja, perlu di hormati tapi tidak untuk ditakuti. Itu prinsip saya.

Akhirnya selesai kencing, masuk ke tenda, si Mawar yang sedari tadi bangun saya ceritakan tentang apa yang saya lihat pun bilang mana ada kucing doyan kehujanan. Udahlah, mungkin saya lelah saja. Mungkin saya berimajinasi. Dan berusaha menyangkal walaupun akhirnya selalu gagal.

 

03.30

Kawan dari malaysia di tenda sebelah bangun keluar tenda, saya tanya mau kemana dia bilang mau pipis, saya berikan senter dan tisu. Kabut makin tebal, dan gerimis pun makin menjadi hujan. Sampai 15 menit anlah, kok nggak balik balik itu orang katanya cuma pipis, perasaan saya nggak enak, takut ada apa-apa karena merasa bertanggung jawab, akhirnya 10 menit kemudian kawan tadi datang, ternyata saat pipis tetangga sebelah ikut mau keluar jadi yaa, butuh injury time.

Saya lihat jam, waktu masih menunjukkan sekitar pukul 4 subuh, entah kenapa waktu terasa lama sekali, akhirnya untuk mengatasi rasa jenuh saya minta kompor ke teman, masak air lah, karena gerimis belum reda, masak pun saya lakukan di dalam tenda, lumayan lah untuk sedikit menghangatkan badan.

Ngopi, sebat, akhirnya ngantuk.

Pukul 8 pagi saya buka tenda, dan sudah ada kawan yang mulai berfoto di tengah dinginnya ranukumbolo. Tak ada sinar matahari yang menyapa kami, kabut tebal saat itu membuat malas untuk beraktifitas.

 

Skip..skip..skip..

Sekitar pukul 10 pagi setelah sarapan , kami briefing sebentar untuk mengagendakan kegiatan selanjutnya. Setelah selesai briefing diputuskan untuk hanya melanjutkan perjalanan hingga cemoro kandang, karena menuju Kalimati atau pun puncak akan membutuhkan waktu sehari lagi, dan itu tidak mungkin dilakukan karena kawan kami dari Malaysia sudah booking tiket untuk pulang pada esok hari sekitar pukul 20.00 WIB, jadi mau tidak mau kita harus selesaikan kegiatan pendakian pada hari itu juga, dan berkemas menuju basecamp Ranupani.

 

Siang sekitar jam 1, Rombongan kami tiba di area Cemoro Kandang, saya duduk di sekitaran area tempat berjualan para penduduk sekitar dan sedikit berbincang dengan mereka. Sementara kawan-kawan dari Malaysia sedang melakukan kegiatan macam PR dari kampus nya. Sempat terjadi perdebatan karena ada beberapa anggota dari rombongan mereka yang sedikit kurang bisa untuk bersosialisasi. Namun untung saja tidak sampai berkelanjutan.

 

Saat mereka sedang berfoto dan beraktifitas di area Cemoro Kandang, saya sempat melihat 2 anjing, yang menggonggong ke arah rombongan kami, padahal saat itu banyak pendaki lain, tapi hanya rombongan kami yang di "marahi" oleh anjing tersebut.

 

Saya yang sempat curiga pun melihat ke arah mereka, dan saya lihat ada seseorang yang memang terlihat pucat. Dari sudut pandang mata saya pribadi, (sebut saja X, seorang perempuan) mbak X ini memang berbeda, ada lingkaran hitam yang mengelilingi mata, seperti orang yang kelelahan mungkin.

 

(menurut saya, normalnya ada kehitaman di bawah mata itu biasa, tapi ini luar biasa karena mencakup keseluruhan area bawah mata dan melingkar hingga kelopak mata, saya yakin itu bukan makeup jenis gothic. Dan sayangnya saya tak berfikir untuk memfoto nya)

Saya jadi teringat film yang di bintangi oleh almarhumah Suzana.

“Ya Tuhan, selamatkanlah saya dan rombongan saya dari hal-hal yang dapat mengganggu keamanan dan kenyamanan perjalanan kami,” ucap saya refleks dalam hati.

Pukul 3 siang menjelang sore, kami menyudahi kegiatan di Cemoro Kandang untuk bergegas kembali menuju Ranukumbolo, mampir dulu ke area sabana Ayak-ayak untuk berfoto, kemudian lanjut masak, makan, dan packing. Rencana awal kami turun ke Ranupani pukul 6 sore, meleset menjadi pukul 7 malam, karena memang suhu saat itu bisa di bilang ekstrim, membuat kegiatan kami agak tersendat, ada kawan dari Malaysia yang berkata suhu berkisaran minus 0-3 (diukur dengan alat/jam mungkin)

 

Oke, skip…

Pukul 7 malam, kami mulai berdoa, saya berikan sedikit arahan untuk trek malam, tentang bagaimana berucap,bersikap, dan lain lain. Belum ada keanehan yang terjadi, hanya ada beberapa hal yang mengganjal pikiran saya, nggak enak banget rasanya. Jika dibuat perandaian, mungkin seperti (maaf) habis buang air besar tapi ngga cebok. Atau bisa juga mungkin, cemburu tak beralasan. Ya, pada dasarnya ini gejala Malarindutropikangenmantan (tolong untuk admin jangan di edit di kasih spasi).

 

Oke, cukup..

Selesai berdoa dan briefing, kami start treking, masih dengan keadaan saya tadi yang dipenuhi perasaan gelisah, dan tak ada seorang pun yang tau. Penasaran, saya pun melihat ke jalur area ayak-ayak (ini reflek, saya tak berharap melihat ke area tersebut) seperti ada yang menyuruh saya melihat kesana. Mata kuning buram itu ada disana.

Dan ini jujur bukan halusinasi saya, bukan pula kunang-kunang, atau bias air yang terkena sinar. Tapi tak ada sosok hitam lagi dibelakangnya, atau memang tak terlihat, karena gelap dan sinar headlamp saya tak akan sampai untuk jarak sekitar 30-50 meter.

Saya punya firasat jika sosok tersebut sedang menunggu atau mengawasi rombongan kami, tapi entah siapa dan mengapa. Tak ingin melihat lebih lanjut, saya pun mengalihkan pemandangan ke area lain. Sebenarnya bukan takut, cuma nggak mau keinget.

Karena sekali lihat bakal inget terus, seakan akan udah jadi pengingat permanen dan seperti hukum wajib !!! Ah..saya benci perasaan ini.

Tidak berhenti sampai disitu, saat rombongan kami sedang antri untuk giliran melewati jalur (ada semacam jalur air yang kebanyakan dijadikan untuk buang air besar, di bawah tanjakan Ranukumbolo arah menuju Ayak-ayak) ada seperti sentuhan di lengan kanan saya, refleks saya bertanya pada teman saya, "ngapain??"

Teman saya pun balas bertanya, "Apanya"

Saya diam tak melanjutkan pembicaraan. Selang beberapa detik ada sentuhan lagi, tapi seketika saya menoleh ke kanan saya (arah Ranukumbolo) ada samar bayangan kakek-kakek lewat tepat di samping saya.

Deg.. Speechless.. Apa salah saya.. Apa yang saya lakukan.. Mengapa kalian menampakkan diri.. Apa kalian terganggu.. Maafkan kami.. Pikir saya dalam hati yang kemudian saya ingat sesuatu yang sudah saya katakan di awal sebelum pendakian kepada rombongan 1 tim.

 

Baru ingin menghentikan rombongan, untuk briefing sebentar,  ternyata mereka sudah berhenti terlebih dahulu karena ada beberapa insiden. Beberapa orang ada yang terkena jebakan betmen, karena memang jalur yang kami lalui adalah jalur yang biasa di gunakan untuk buang air besar. Seketika buyar pikiran saya yang saat itu ingin memberikan sedikit arahan. Hilang perasaan waswas digantikan dengan tawa.

 

Tapi hanya beberapa saat, karena disinilah letak kesalahan saya terjadi. Seharusnya ada koordinasi yang baik antara bagian depan, tengah dan belakang dalam 1 rombongan, apalagi terdapat HT (handy talkie), sehingga mudah dalam melakukan komunikasi, tapi saya bagian belakang tidak membawa HT, kebetulan saat itu memang HT adalah milik kawan Dari Malaysia. Saya tidak dapat memperkirakan keadaan kawan di depan, maupun di tengah, walaupun ada 1 teman saya yang hafal trek, tetap saja ini tak baik. Padahal itu trek malam dan jalur yang sempit, seharusnya komunikasi terus dilakukan jika ada sesuatu yang terjadi bisa cepat tersampaikan kabar ke kawan lain.

Apalagi rombongan paling belakang memang sedikit lebih lambat karena ada kawan yang merasakan sakit pada dada, jadi sedikit kesulitan untuk bernafas, dan membuat kami tertinggal cukup jauh dari bagian depan rombongan kami.

Baru sampai pos 4 diatas Ranukumbolo bagian paling belakang tim saya hentikan sementara untuk memberi waktu agar teman yang sakit bisa memulihkan keadaannya, sambil memandangi langit, kebetulan saat itu cerah, epic momen untuk saya pribadi karena langit penuh dengan bintang. Perjalanan kami lanjutkan. Walaupun dengan menahan rasa sesak dan sulit bernafas tetap tak mengurangi semangat dari kawan kami, karena rekan dari 1 tim selalu memberikan semangat, memberikan kekuatan tambahan secara psikologis, saya kagum pada mereka, kalian semua orang hebat.

Dengan langkah lambat kami menyusuri jalan setapak yang sempit, sampai akhirnya kami bertemu pos 3.

 

Sesaat sebelum pos 3, mbak X sakit perut, tak kuasa menahan hajat, akhirnya buang air besar disekitaran sebelum pos 3, saya yang datang paling akhir dari rombongan bertanya kenapa mereka berhenti, dan di jawab jika mbak X sedang buang air besar di area yang saya tak ingin berhenti bahkan untuk sejenak saja. Tapi mau bagaimana lagi, sudah terjadi.

Melamun itu adalah bagian dari pikiran yang merasa kesepian

Dan kesepian bisa membunuhmu ..

Ungkapan itu mungkin benar adanya. Baru saja turun tanjakan, dan baru saja ingin duduk, saya lihat kawan dari Malaysia, (sebut saja Mbak Y) duduk di bawah pohon tepat di depan pos 3, nah kebetulan juga ada “kawan" lain yang duduk disebelahnya, entah karena kelelahan, ngantuk atau sebab lain, kawan saya ini melamun.

Big mistake, kesalahan yang sangat besar dan fatal jika anda melamun di gunung saat malam saat perjalanan !!! Karena "kawan" yang disampingnya tadi mulai tertarik untuk mendekati mbak Y.

Sebelum kejadian buruk terjadi, saya hampiri mbak Y dan saya tepuk bagian belakang pundaknya untuk membangunkan dia dari lamunan indah nya.

Jujur saya tepuk dia agak kencang, bunyinya pun sedikit nyaring hingga dia melihat ke arah saya, saya pikir dia merasa sakit, tapi ternyata tidak, dia hanya diam dan melihat saya. Mungkin mbatin. Saya bilang jangan melamun, perbanyak istighfar. Untung saja belum terlambat. Satu kejadian fatal telah terhindar. Terima kasih ya Allah ya Tuhan ku karena memberikan banyak karuniamu untukku menjadi lebih peka.

(Beberapa hari setelah pendakian saya meminta maaf karena tepukan saya yang kencang dan mungkin menyakiti dia, tapi dia bilang tidak merasa sakit, hanya seperti di sentuh)

 

Pos 3

Saya tak ingat pukul berapa, tapi sekitar 15 sampai 30 menit kami istirahat disana, untuk mengobati rekan yang sakit, dan memulihkan stamina. Akhirnya saya ingat apa yang ingin saya katakan saat di Ranukumbolo setelah saya melihat samar seorang kakek-kakek tadi.

Tapi saya memutuskan untuk tidak mengatakan apapun, biar saya pendam sementara, dan keputusan pun saya ambil, saya akan berada di posisi paling depan, untuk mengurangi sedikit resiko hal buruk terjadi , karena memang resah ini tak mau pergi. Dan saya tau dimana akar permasalahannya. Kemudian saya instruksikan untuk kawan yang sakit dan yang rawan bencana untuk berada di belakang saya di bagian depan kelompok.

Termasuk mbak X yang memang saya anggap rawan (yang saya ceritakan di area cemoro kandang dan yang buang air besar)

 

Oke, lanjut..

Pos 3 menuju pos 2

Jalur yang menurut saya pribadi memang "rawan", saya putuskan untuk berada di depan untuk mengawal/menemani/memberi instruksi kepada rekan lain. Sampai di jembatan saya memberi aba-aba untuk sedikit lebih cepat, hingga sampai di area Watu Rejeng, area dimana ada pohon yang di ikat kain dan dianggap keramat oleh penduduk sekitar, perasaan saya mulai gelisah, saya instruksikan untuk semua headlamp tak terkecuali jangan sampai ke arah atas, cukup hanya bagian jalan/kaki kawan di depan nya saja yang terkena sinar headlamp.

Sedikit saya jelaskan posisi saat itu, di area kanan saya sekitaran pohon, ada telapak tangan besar hitam legam, saya hanya melihat telapak saja kemudian tak ingin melihat lebih jauh dan lebih lama lagi. Alhamdulillah tak ada kejadian yang buruk yang tidak diingin kan. Sampailah kami di pos 2.

Ada beberapa grup pendaki yang sedang beristirahat disana, saya tak ingat jam berapa saat itu, yang pasti sudah lebih dari jam 9 malam. Break sebentar, karena saya rasa sudah aman, saya putuskan untuk kembali ke bagian paling belakang tim.

 

(Saat perjalanan dari pos 3 menuju pos 2 saya sempat berbincang sedikit dengan mbak X, ada sedikit kejanggalan memang, tapi saya tak bisa memastikan benar atau tidaknya yang saya rasa. Samar saya rasakan terjadi perubahan sikap dari mbak X dari yang ceria menjadi pendiam. Sempat saya liat wajahnya saya sinari menggunakan headlamp, area bawah matanya mulai menghitam lagi).

 

Pos 2 menuju basecamp

Singkat cerita, setelah beberapa jam perjalanan kami sampai di area awal trek pendakian (tulisan selamat datang pendaki di gunung Semeru) kami istirahat di warung sekitar situ. Alhamdulillah tidak ada kejadian yang aneh-aneh lagi lah pikir saya saat itu. Saya letakkan tas, menyalami anggota tim, rasa bangga, lelah, sedih, senang semua bercampur dalam satu ikatan perasaan. Saya masuk ke warung menuju bagian dalam untuk memesan minum, ada juga kawan yang duduk disana, salah satu nya mbak X. Saya pun menyalami mbak X, mengucapkan selamat atas perjalanannya.

Sampai saya sadar tangannya tak mau lepas dari bersalaman, saya pikir dia bercanda, saya pun tertawa dan sedikit lebih kencang melepaskan tangannya, tapi tetap tak mau lepas, rasanya seperti bersalaman dengan seorang pria. Saya lihat wajahnya saat itu di tutup oleh buff, jadi saya tak bisa melihat dengan jelas wajahnya. Tak lama tangannya pun terlepas.

 

Saya lalu meninggalkan mbak X dengan kawan lain, saya pun menuju bagian depan warung untuk menikmati teh panas, baru saja ingin duduk dan minum, terdengar teriakan dari arah dalam warung. Suara perempuan menangis, tidak kencang tapi suaranya sangat menyayat.

“Allahuakbar,” ucap saya sembari bergegas menuju ke suara itu. Melihat kedalam warung ternyata mbak X yang menangis. Hal yang tak diinginkan pun terjadi, mbak X kesurupan.

Yang lain berkumpul, saya instruksikan untuk tidak ada yang melamun, tidak usah panik dan Jangan menangisi keadaan, cukup berdoa, menurut agama dan Kepercayaan masingmasing. Pertolongan awal dilakukan oleh kawan lain rekan 1 tim, kebetulan ada yang paham bagaimana cara menanggulangi orang yang kesurupan. Saya diam, duduk dan melihat saja, hanya membantu sebisanya, kemudian Saya keluar dari warung, saya tinggalkan mereka dengan rasa sakit yang saya pendam. Di satu sisi ingin menolong, tapi disatu sisi saya sudah berjanji kepada orang tua untuk tidak ikut campur urusan orang lain yang berhubungan dengan "makhluk lain".

 

(Sedikit cerita tentang saya, walaupun mungkin kalian tak ingin tau. Pernah sewaktu saya SMP, membantu menolong/mengobati teman saya yang kesurupan, memang saat itu berhasil tetapi efek samping nya "makhluk" tersebut malah ikut saya sampai ke rumah dan tidak mau pulang, hingga saya di marahi orang tua karena terlalu ikut campur, walaupun niat nya menolong, tapi cara saya salah saat itu karena menyuruh makhluk itu keluar dan bukannya menyuruh pergi, malah saya ajak bermain,itu sih menurut orang tua saya)

 

Oke, lanjut cerita kesurupannya..

Sementara mereka didalam untuk mengobati mbak X yang kesurupan. Saya dilema, ingin menolong, tapi sudah terlanjur berjanji. Setelah saya pikir konsekuensinya, dan akan jujur ke orang tua saya nanti. Akhirnya saya masuk ke dalam, saya lihat bagaimana kondisinya. Ternyata lumayan buruk, sempat keluar, masuk lagi. Sampai 2 kali. Akhirnya saya instruksikan teman saya untuk menjaga area jari, keseluruhan jari tangan dan kaki, belakang telinga, pusar/udel dan kepala. Sementara teman lain mencoba untuk mengeluarkan makhluk tersebut, saya bantu pelan-pelan doakan dan berusaha berkomunikasi, meminta maaf atas semua kesalahan dari teman kami, dan berjanji tak akan lagi mengulanginya.

 

Alhamdulillah setelah sekitar 1 jam kemudian mbak X sadar, saya instruksikan untuk mbak X membaca Al-quran (aplikasi di hp) agar terhindar dari hal buruk lain. Karena yang menyerang mbak X ini banyak. Dan tak ingin pergi, entah dimana letak kesalahannya, karena saya sudah mulai curiga sejak di cemoro kandang. Setelah di rasa aman, kami bergerak menuju basecamp, mbak X berjalan di tengah dan harus terus diajak Bicara, berjaga jaga agar tidak melamun. Sampai di basecamp, sebagian besar dari rombongan mulai terlelap, mereka terlalu lelah menghadapi kenyataan, saya yang tak bisa tidur dengan beberapa kawan pun mulai berbincang.

 

Saya buka semua hal yang membuat kejadian buruk ini. Ingin marah rasanya, tapi untuk apa. Dari awal saya sudah instruksikan untuk melepas semua atribut yang berhubungan dengan jimat/pedinding. Karena semua itu akan menarik perhatian makhluk lain penjaga/penghuni gunung. Tapi ada sebagian dari rombongan yang tak mengindahkan instruksi saya. Saya tak ingin bicara siapa saja orangnya, yang pasti saya tau, ada beberapa teman cewek yang memiliki jimat, dan ada beberapa dari cowok juga. Jadi itulah akar masalahnya, disamping mbak X yang berak di area rumah penghuni gunung tanpa permisi.

 

Pelajaran berharga untuk saya dan semua anggota rekan 1 tim. Alhamdulillah semua kawan selamat dan sehat , dan sampai sekarang masih berhubungan dengan baik.

Saya pun meminta ijin mereka terlebih dahulu untuk menceritakan tentang perjalanan kami dan kisah misteri yang kami alami. Cerita ini dibuat tidak untuk merugikan atau membunuh karakter atau tempat atau apapun dalam kehidupan yang sebenarnya, Hanya sebatas kisah pribadi yang dialami dan dijadikan dalam bentuk ketikan/tulisan/cerita pendek.

 

Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan area/jalur pendakian atau cerita yang mungkin kurang berkenan di hati dan pikiran kawan kawan semua. Semoga kita di berikan waktu dan kesempatan lain untuk di pertemukan kembali, dan melakukan perjalanan bersama lagi, dengan cerita yang tentunya berbeda. Amin.

Keephike, safehike. Wassalam.. (tamat)

 

Punya cerita misteri saat pendakian? atau memiliki tips/ilmu/pengetahuan soal pendakian? Punya kisah tentang seseorang yang menginspirasi? Memiliki referensi film atau acara televisi yang mungkin akan bermanfaat bagi orang lain, terutama para pejalan? Punya toko outdoor untuk dipublikasikan?  Memiliki kisah perjalanan ke suatu tempat wisata beserta tipsnya? Ada event seperti lari, panjat tebing, navigasi darat (kecuali open trip dan pendakian massal yah).

Punya info tersebut? Mau berbagi ke website kami?
Silahkan untuk mengirimkan materi tulisan ke redaksi kami > urbanhikersmagazine@gmail.com < 


Dimohon jika itu tulisan milik orang lain untuk tidak lupa mencantumkan sumbernya.


Sumber : instagram @urban.hikers