Fri, Dec 14, 2018 7:18 AM

Senyum Seorang Nenek Di Gunung Prau

dok. @urban.hikers


#urbanmystery Narasumber Mrs E

 

Waktu itu bulan Oktober, cuaca sudah mulai hujan tapi saat tiba di Wonosobo cuaca masih bersahabat. Aku bersama sekitar 24 orang dalam rombongan pada saat itu. Kenapa kami mendaki dengan jumlah rombongan yang banyak? Karena event pendakian tersebut bertepatan dengan hari jadi komunitas kami.

Pendakian terbagi menjadi 4 kelompok. Masing-masing 5 orang, sedangkan 4 orang bertugas sebagai tim advance. Mereka bergerak cepat didepan untuk memilih tempat dan mendirikan sebagian tenda yang mereka bawa. Aku berada di kelompok paling belakang, bertugas menemani teman-teman yang berjalan santai. Karena akupun termasuk dalam golongan pendaki santai :D

 

Kami memulai pendakian sekitar jam 3 sore, sampai di pos cacingan itu sekitar jam 5 sore. Ya cukup lama, karena kelompok belakang adalah kelompok yang berjalan sangat “santai”. Ada sekitar 2 orang yang kurang enak badan. Tiba-tiba salah satu dari mereka berjalan sedikit menjauh dari tempat kami berhenti. Sebut saja dia Mbak Erni. Mbak Erni kemudian bersandar di sebuah pohon, terdiam dan kemudian menangis. Mas Nico yang melihat kejadian tersebut pertama kali langsung memanggilku.

“Dut, itu si Erni kenapa dah nangis?”

Aku langsung melihat ke arah mba Erni dan benar, aku mendapati dia sedang menangis sambil menutup wajahnya. Aku segera menghampirinya.

“Mba Erni kenapa nangis?” Tanya ku sambil merangkul pundaknya

Kemudian aku melihat dia berusaha menguasai dirinya. Menghapus airmatanya dan berusaha bicara padaku.

“Nggak apa-apa kok, aku takut nyusahin kalian aja…” serunya sambil masih sedikiti terisak.

“Nyusahin apa mbak? Gak kok, kita kan jalannya santai… aku juga capek kok. Jadi jalannya pelan.” Aku berusaha menenangkan dia. Padahal aku pun heran, apa maksudnya nyusahin. Padahal sedari tadi kami berjalan santai sambil bercanda dan ketawa ketawa tanpa ada yang merasa terbebani. Mba Erni pun begitu.

 

Singkat cerita kami melanjutkan perjalanan, masih di trek yang terjal kami berhenti sejenak karena sepertinya akan adzan magrib. Sudah lumayan gelap. Tiba – tiba terdegar seperti ada helicopter mendekati kami. Angin bertiup dengan sangat kencang. Sepertinya ada badai di atas. Aku yang panik langsung berteriak ke teman – teman yang berada di dekatku.

“Pegangan ya… pegangan apa aja yang di samping kalian…”

 

Diatas suara gemuruh itu masih terus berlangsung sekitar 15 menit. Kemudian tiba – tiba berhenti dan kabut tebal turun menutupi pandangan. Kami segera menyalakan headlamp dan senter yang sedari tadi sudah aku instruksi kan untuk dikeluarkan.

Berhubung aku adalah kelompok terakhir pada saat itu, jadi sudah ada kelompok kami yang sampai diatas. Mbak Erni yang tadi nya bersamaku sudah berjalan sedikit lebih dulu di depan dan kutitipkan ke Way yang menjemput kami dari atas tadi.

Aku masih berjalan bersama mamski yang jalannya sangat pelan karena sudah mulai lelah dengan trek terjal. Aku di temani mas Isa, Mbak End, dan Akang.

Tiba – tiba aku mendengar Way berteriak memanggil nama Mba Erni, “Mba Ernnnniiiiiiiii….. wooyyy… Mba Erniiiiii….. “

 

Kami semua kaget, dan kemudian panik. Aku sudah membayangkan yang tidak-tidak.

“Akaannggg… cepet naik liat ada apa….”

 

Akang langsung berlari keatas, mencari tau apa yang terjadi diatas. Aku berjalan terus sambil menggandeng mamski bersama mbak End. Sesampainya diatas kami langsung mencari dimana tenda kami berada.

 

Aku bertemu dengan Akang, Way dan mbak Erni sedang duduk di pinggir jalan yang sudah datar menuju puncak gunung Prau. Wajah mbak Erni sudah pucat sempurna.

Aku menghampiri mbak Erni, mamski dan mbak End duduk di sisi kiri dan kanan mbak Erni. Aku tepat berada di depan mbak Erni dan mulai bertanya, “Mba Erni ga apa apa? Udah minum belum?”

Dia mengangguk dan terus mengatur nafasnya.

Aku menatap Way yang tadi berteriak, “kenapa?” tanyaku.

 “Tadi mba Erni gue suruh tunggu mak ditempat datar yang aman, gue suruh duduk tungguin gue sampe gue dateng lagi. Terus gue turun mau jemput lo. Mau bawain tas salah satu dari kalian kan. Nah tiba – tiba turun kabut tebel kan tuh, trus gue balik lagi ke tempat mbak Erni eh gue liat mbak Erni ga ada. Gue cari dia, gak tau nya dia lagi jalan ke arah jurang itu mak.” Way menjelaskan dan aku merinding.

“Kenapa mbak Erni gak dengerin omongan Way buat diem nunggu dia?” aku bertanya pelan ke mbak Erni.

Mbak Erni menarik nafas panjang dan mulai berbicara, “tadi aku udah nungguin Way, terus pas kabut tebal itu turun. Aku liat Way jalan di depan aku dan nggak nengok sama sekali ke arah aku. Aku panggil – panggil juga nggak nengok sama sekali. Yaudah aku kejar dia kan, terus tiba – tiba ada Way di belakang aku dan narik aku trus jalan kesini.”

 

Oke, aku memahami kondisi ini tidak baik untuk diteruskan sekarang dan dalam kondisi ini. Kasihan mamski juga yang sudah kelelahan. Akhirnya aku mengajak mereka beranjak dan segera mencari dimana tenda rombongan kami.

 

Tenda kami berada lumayan jauh dari  titik puncak. Karena kami membawa banyak tenda jadi kami membutuhkan tempat yang lumayan luas. Satu tenda kami gunakan untuk memasak, karena angin masih lumayan kencang karena badai tadi. Dan benar tadi sempat terjadi badai angin yang lumayan kencang. Sampai tenda yang sudah didirikan sempat roboh.

 

Aku dan mba End sudah siap memasak di dalam tenda dapur. Rombongan yang lain sudah berganti pakaian dan sedang menikmati minuman hangat. Kami berdua memasak makan malam secara singkat dan langsung menyantap makanan yang langsung dingin karena udara gunung prau yang dingin parah. Aku belum sempat makan karena tiba tiba Way memanggilku.

“Mak, Mba Anggi kayanya gejala hipo deh. Liat dah di tendanya…”

Aku segera lari ke tenda untuk 4 orang itu. Aku masuk dan mendapati Anggi ditemani Oma sedang kedinginan. Anggi dan Oma tadi berada di kelompok depan dan sampai duluan di tenda.

“Dia udah ganti baju belom oma?” tanyaku.

“Kayaknya belom deh, tadi gue keluar bentar ngambil makan buat dia. Dia udah masuk sleeping bag gini trus menggigil.”

“Bantuin gue yuk oma…” aku segera membuka pakaiannya. Melilitnya dengan thermal blanket yang ada di tas kecilku. Dan menyelimutinya lagi dengan sleeping bag. Way dan Akang diluar tenda sudah memasak air panas untuk dimasukkan ke dalam botol.

 

Ditengah kami menangani gejala hypo nya, tiba – tiba Anggi menangis. Dia menangis semakin kencang tapi air matanya tidak keluar. Aku dan oma bertatapan. Oma berbisik ke aku, “kesurupan deh kayanya. Gue takut dut”

Aku mengintruksikan ke oma untuk tenang dan baca – baca surat Al – Quran yang dia bisa.

 

“Anggi… Anggi kenapa nangis? Masih dingin ya? Udah diem dong kan ini udah di selimutin. Nanti juga ilang dinginnya.” Seruku masih positif dia hanya ke dinginan saja.

Anggi menangis makin keras. Aku takut yang lain diluar malah jadi panik dan ketakutan. Aku langsung memeluk Anggi berusaha menenangkan dia membaca syahadat dan takbir di kupingnya. Way dan Akang membuka seleting tenda dan ikut berdoa sebisa mereka.

“Udah dong nggi… jangan nangis terus…”  

      

Tapi bukannya diam tapi Anggi malah semakin keras menangis dan mulai berontak dari pelukan ku. Oma, Akang dan Way segera membantuku memegang Anggi.

“Anggi udah sih jangan nangis terus… anggi kenapa? Bilang doonggg…. “ seru oma panik.

“Kulo Mboten Anggi, Ngumah Kulo ning ndhuwur bukit iku… “ jawab Anggi sambil menunjuk ke arah belakang dia duduk dengan mata tetap terpejam.

 

Kami semua kaget mendengar jawaban Anggi. Pertama, suara nya berubah menjadi seperti suara seorang nenek. Kedua Anggi bukan orang Jawa melainkan orang sunda tulen, bagaimana dia bisa berbicara bahasa jawa fasih dengan logatnya.

 

Oke, mungkin ini yang dinamakan “kerasukan” atau “kemasukan”. Tidak bisa kututupi aku takut, begitu pula dengan beberapa orang yang ada di dalam tenda itu. Aku, Oma, Way dan Akang. Tapi walaupun takut hal ini tidak dapat kami hindari. Bagaimanapun kami harus menolong Anggi dan menyadarkan dia kembali.

 

Disitu hanya aku dan Way yang sedikit mengerti bahasa jawa, aku pun memberanikan diri untuk bertanya. “Nyuwun Sewu mbah, wonten nopo ya mbah?”

 

Aku lupa apa saja yang dikatakan oleh “si nenek” itu. Yang aku ingat, Beliau bilang Anggi ini tadi sempat pipis dekat rumahnya dan tidak permisi. Aku mengerti bahasa Jawa tapi tidak lancar berbicara bahasa Jawa. Seadanya banget. Jadi sebisanya aku meminta maaf dan meminta “Si nenek,” untuk pulang. Tidak lama kemudian, Anggi langsung muntah. Tapi tidak mengeluarkan apapun dari mulutnya. Setelah itu Anggi membuka matanya dan sadar. Kami segera memberi Anggi minuman hangat dan mengajak dia bicara banyak supaya konsentrasi nya kembali. Setelah semuanya kembali normal Anggi pun kembali memakai pakaiannya dan tidak lupa jaket tebal.

 

Aku segera keluar dari tenda Anggi setelah semua nya sudah kembali normal. Aku sendiri belum berganti pakaian sejak sampai karena langsung memasak. Baru saja aku keluar dari tenda nya Anggi aku sudah kembali dikagetkan dengan apa yang aku lihat di belakang tenda Anggi. Aku melihat seorang nenek berdiri tidak jauh dari tenda, di tempat sepi yang tidak ada satupun tenda. Walaupun tampilannya tidak seram tapi aku tetap saja kabur masuk ke tendaku setelah si nenek itu tersenyum kepadaku.

 

Malam itu di gunung Prau pemandangannya sangat indah dan cerah. Walaupun sore tadi sempat badai angin tapi malam ini kami diberikan pemandangan langit yang luar biasa. Tapi aku sudah tidak ingin berada di luar tenda. Aku segera berganti pakaian dan masuk ke dalam sleeping bag. Aku satu tenda dengan mba End dan Ndon sahabatku.

“Bray, lo nggak mau keluar bray pemandangannya bagus tau…” seru Ndon dari depan tenda.

“Kaga ah, gue ga tahan dinginnya. Mau tidur aja.” Padahal wajah si nenek itu terngiang terus di kepalaku. Tapi bukannya keluar Ndon pun ikut masuk tenda dan tidur disampingku, begitu pula dengan mba End.

Walaupun sedikit masih takut tapi akhirnya aku bisa tidur tenang sampai pagi. Dan sampai kami turun lagi ke bawah sudah tidak ada kejadian aneh lagi. Semua turun dengan selamat dan sehat. Dan kembali ke Jakarta tepat waktu.

 

Intinya adalah dimanapun kita berada, di gunung pendek atau pun tinggi semua resiko nya sama. Tetap harus mawas diri dan jangan pernah tinggalkan teman sendirian di gunung. Kita berangkat bersama pulang pun harus bersama. Hormati semua aspek yang ada, alam dan sekitarnya. Karena kita bertamu maka ada baiknya memberikan “salam” kepada tuan rumah. (tamat)

 

Punya cerita misteri saat pendakian? atau memiliki tips/ilmu/pengetahuan soal pendakian? Punya kisah tentang seseorang yang menginspirasi? Memiliki referensi film atau acara televisi yang mungkin akan bermanfaat bagi orang lain, terutama para pejalan? Punya toko outdoor untuk dipublikasikan?  Memiliki kisah perjalanan ke suatu tempat wisata beserta tipsnya? Ada event seperti lari, panjat tebing, navigasi darat (kecuali open trip dan pendakian massal yah).

Punya info tersebut? Mau berbagi ke website kami?
Silahkan untuk mengirimkan materi tulisan ke redaksi kami > urbanhikersmagazine@gmail.com < 


Dimohon jika itu tulisan milik orang lain untuk tidak lupa mencantumkan sumbernya.


Sumber : instagram @urban.hikers