Fri, Dec 14, 2018 7:37 AM

Aroma Kemenyan Gunung Lawu

ilustrasi saja


#urbanmystery Narasumber : Dana

Gunung Lawu via cemoro kandang. Banyak para pendaki yang ingin ke puncak Lawu lebih memilih jalur via cemoro sewu. Jalurnya yang cepat dan sudah ditata membuat mereka lebih senang untuk mendaki lewat sana. Akan tetapi saya sudah hampir dua kali lewat sana dan pendakian hari itu saya putuskan untuk mencoba jalur yang beda yaitu cemoro kandang

Kami sampai di basecamp pukul 4 sore. Cuaca cukup cerah. Saya mendaki dengan teman yang bernama sarip. Menuju ke loket pendaftaran untuk membayar administrasi dan tulis nama. Terlihat dalam buku tamu, pendaki terakhir yang naik lewat cemoro kandang yaitu pukul 8 pagi. Saya sudah membayangkan, bahwa kami tak akan menemui siapapun dalam perjalanan naik sebab ini juga bukan hari libur atau akhir pekan alias kamis.

Aroma kemenyan di basecamp ini begitu kental. Mahklum di sini ada tempat untuk persembahyangan bagi umat hindu.

Setelah berdoa, jam setengah lima kami berdua memulai perjalanan. Kawanan monyet menyambut kedatangan kami. Sunset malu malu terlihat. Suara pipa air menemani kaki melangkah ke atas dan maghribpun tiba tepat saat kami berada di pos satu. Sembahyang sejenak dan makan. Perjalanan di mulai kembali dengan lancar dari pos ke pos. Yang aneh di setiap pos atau air rembesan ada satu atau lebih kemenyan yang masih menyala dan baru habis seperempat atau separo. Yang lebih saya bingungkan kembali. Orang terakhir yang naik lewat jalur ini naik pukul 8 pagi. Lalu siapakah yang memasang kemenyan dan bunga? Entahlah tapi saya tetap positif pikirannya.

Sampailah kami di pos tiga yang terdapat bangunan tertutup. Badan sudah tak mau berkompromi akhirnya kami memutuskan tidur di pos tersebut. Kami hanya menyedu satu gelas kopi dan memutuskan langsung tidur. Suasana saat itu sepi hanya ada suara kepingan seng yang menari nari ditiup angin yang menimbulkan suara gesekan. Mata terpejam kami pun tertidur pulas. Selang satu jam saya bermimpi. Kejadian mimpi itu juga di tempat yang saya tempati saat itu. Saya bisa melihat badan saya tidur. Lalu, datanglah beberapa pendaki kurang lebih lima sampai sepuluh orang. Pos yang semula sepi menjadi ramai. Saya dibangunkan seorang pendaki. Saya terbangun dan mereka meminta korek api untuk menyulut rokok tapi saya tak punya. Akhirnya mereka, meminta izin untuk beristirahat sejenak di pos itu sembari membuat perapian di dalam pos. Padahal mereka korek saja tak punya tapi bisa bikin perapian?

Akhirnya saya terbangun dari mimpi dan tanpa saya sadari sarip juga bangun bersamaan dengan saya. Kami berdua hanya saling memandang dan bercerita bahwa tadi ada beberapa pendaki minta korek dan mimpi itu sama seperti yang saya alami. Pertanda apakah ini?

Angin makin kencang menerpa dinding pos. Suara gesekan makin keras terdengar. Saya memutuskan untuk kembali tidur sembari menutup mata dengan sarung. Sarippun juga menirunya. Suara-suara aneh makin terdengar tapi kami tak hiraukan. Dalam hati kami berdoa kepada Tuhan.

Akhirnya malam berubah pagi. Dinginnya lawu mulai menusuk tulang. Sayangnya sinar matahari masih terhalang bukit. Panggilan alam pun merelakan saya untuk berdiri keluar dan membuang hajat. Karena sepi saya pilih di belakang pos. Setelah jongkok dan melepas penat hehehe dengan kaget saya melihat kemenyan yang baru menyala di dekat pohon edelweis. Eh badan saya terkejut dan mengakhiri proses hajat tadi lebih cepat hehehe. Yang saya takuti, siapakah orang yang menyulut kemenyan itu? Saya bercerita pada sarip, apakah tadi ada orang lewat? Dia menjawab tidak. Kami berdua berkemas dan langsung melanjutkan perjalanan hingga ke puncak dengan selamat dan lancar.

Di puncak tak ada orang, hanya kami berdua. Hampir satu jam kami habiskan di puncak yang juga dipenuhi dengan kemenyan tapi saya yakin di sini yang masang kemenyan pasti mbok yem. Sebenarnya mau turun lewat cemoro kandang karena agak takut kami memilih untuk lewat jalur cemoro sewu. Di perjalanan turun, warung dekat sendang tutup kami tak menjumpai orang sama sekali. Baru di pos empat kami menemukan ibu-ibu yang naik mungkin yang punya warung di atas. Hingga akhirnya perjalanan turun kami lancar dan selamat.

Sesampai di basecamp kami bertanya kepada petugas. Adakah pendaki yang mendaki setelah kami? Jawabannya tidak. Kami anggap saja itu say hello dari mereka untuk kami berdua. Asal kami tetap selamat sehat wal afiat.

Kami langsung bergegas pulang. Sarip yang bawa motor. Saya dibelakang di setiap melihat orang seperti melihat hantu. Pinggiran jalan dipenuhi sesosok mahkluk. Kejadian itu hampir saya lihat dari cemoro kandang sampai ke karanganyar setelahnya kembali normal. Halusinasi atau kecapekan? Entahlah.

Yang terpenting tetaplah berdoa dan selalu menjaga tata bicara dan tata perilaku saat di gunung. Karena gunung itu suci. Terima kasih. (tamat)

 

 

 

Punya cerita misteri saat pendakian? atau memiliki tips/ilmu/pengetahuan soal pendakian? Punya kisah tentang seseorang yang menginspirasi? Memiliki referensi film atau acara televisi yang mungkin akan bermanfaat bagi orang lain, terutama para pejalan? Punya toko outdoor untuk dipublikasikan?  Memiliki kisah perjalanan ke suatu tempat wisata beserta tipsnya? Ada event seperti lari, panjat tebing, navigasi darat (kecuali open trip dan pendakian massal yah).

Punya info tersebut? Mau berbagi ke website kami?
Silahkan untuk mengirimkan materi tulisan ke redaksi kami > urbanhikersmagazine@gmail.com < 


Dimohon jika itu tulisan milik orang lain untuk tidak lupa mencantumkan sumbernya.


Sumber : instagram @urban.hikers