Fri, Jun 22, 2018 9:57 PM

DITEMANI TEMAN TAK KASAT MATA DI GUNUNG CIREMAI VIA PALUTUNGAN

dok.Novi Eka


Narasumber :  Novi Eka (id instagram @noviekawdr )

.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

 

Disini saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya soal mendaki gunung, ya memang sedikit karena ini pendakian ke dua saya hehehe..,

Sebelumnya izinkan saya memperkenalkan diri, nama saya Eka dan saya melakukan pendakian ini bersama teman saya Anin (cowok asli) yang kemudian akan jadi berempat dengan Wisnu dan Ayu. Sekedar info sebelumnya saya membaca cerita yang sama di website ini tentang ciremai via palutungan juga, maka dari itu saya menulis cerita inidan ceritanya lumayan panjang karena per pos itu berkaitan.

 

Saya berdua merencanakan pendakian ini sudah beberapa bulan lalu, dan allhamdullilah bukan hanya sekedar rencana karena memang saya sudah pengen banget banget ke Ciremai. Dan tiba harinya, hari minggu tanggal 1 April 2018 saya berangkat berdua ke Ciremai menggunakan bus dari terminal cileungsi-Bogor dan turun di Taman Cirendang Kuningan lalu dilanjutkan naik ojek ke basecamp, dan sampai di basecamp pukul 01.00 lalu mengurus simaksi dan tidur sampai subuh. Perjalanan naik ini sangat jauh dan di luar akal.

 

Pagi itu tanggal 2 April 2018 di basecamp ciremai dengan cuaca yang sangat mendukung, cerah sekali. Kami berdua berangkat pukul 08.00 dengan mengucap salam dan yang naik hanya kami berdua pada pagi itu karena memang bukan hari libur. Perjalananan dari basecamp ke pos 1 (Cigowong) cukup lama yaitu memakan waktu sekitar 5 jam dan carrier saya yang lumayan berat buat saya, sepanjang perjalanan naik ke pos 1 kami hanya bertemu dengan 2 ranger tanpa bertemu dengan pendaki lain yang turun. Dari perjalanan ke pos 1 saya merasakan carrier saya memang berat padahal bebannya sudah dikurangi oleh teman saya, sampai ditengah jalan kaki saya sempat kram dan lumayan lama. Selepas dzuhur kita sampai di cigowong dan break, 15 menit kemudian munculah 2 orang pendaki yang kemudian saya tau namanya setelah hampir sampai puncak kalo ngga salah hehe, namanya Wisnu dan Ayu. lalu saya berdua melanjutkan perjalanan ke pos 2 (Kuta) dengan waktu  45 menit, sebelum sampai pos 2 saya melihat tongkat yang bersandar di pohon, sudah saya pegang tetapi saya taruh lagi disitu karena pikir saya repot kalau harus pake tongkat.setelah sampai di pos 2 teman saya tidur disamping pohon besar yang bertuliskan KUTA lalu saya didepan pohon itu juga, 10 menit kemudian saya mendengar suara orang ngobrol dan atasan carrier berwarna abu2 yang kemudian hilang di rerimbunan pohon. saya pikir itu wisnu dan ayu, saya tunggu sekitar 15 menit tidak sampai juga, padahal jaraknya carrier yang saya lihat itu dekat, kemudian angin besar yang ada diatas pohon yang berada didepan saya itu sangat terasa dan cukup membuat parno karna saya tidak melihat lutung ataupun hewan lain diatas sana.kemudian saya bangunkan teman saya dan lanjut ke pos 3.

 

Oh iya selepas pos 2 ini saya merasakan carrier saya sangat ringan, ringan sekali. Aneh, karena bebannya sudah tidak lagi di kurangi bahkan di tambah air 1 liter. Saya juga nggak merasa capek -capek banget, perjalanan ke pos 3 (Paguyungan Badak) ini lumayan jauh dibanding ke pos 2 tadi dan memakan waktu 1 1/2 jam, jauh kami berjalan wisnu dan ayu juga belum keliatan muka nya, akhirnya kami memutuskan menunggu mereka ditrack dan naik bareng ke atas, perjalanan menjadi berempat, saya melihat Ayu berat bahkan sangat berat membawa badannya bahkan daypack nya sudah dibawa oleh wisnu, kemudian yang saya lihat dia hanya membawa tongkat yang saya pegang tadi di pos 2, tapi saya nggak berpikiran apa-apa. Di track menuju pos 3 kita banyak ketemu pendaki baru turun kemudian iseng nanya "bang, apa masih ada pendaki lain diatas?" lalu dijawab "wah udah nggak ada mbak, mas, udah sepi diatas dan kabutnya lagi tebal banget,"

"oke deh, makasih bang." Setelah itu kita nggak lagi bertemu dengan pendaki lain yang sama dengan diatas cuma ada kita berempat!! Fix sepi banget hehe…, 

 

Lanjut ke pos 4 (Arban) kita mencar lagi, saya tetap sama teman saya duluan karena hari sudah semakin sore dan gelap, dan janjian bertemu di pos 4, kemudian belum sampai juga di pos 4 teman saya minta break (baru pertama saya denger dia minta break) ternyata jarak saya dan wisnu break tidak jauh hanya sekitar 200 m (mereka cerita pas di basecamp turun) kalo mereka masak di track dan nggak lama ada suara auman yang kenceng banget, tapi saya dan anin nggak denger apa-apa dengan jarak 200 m tersebut. oke sampailah di pos 4 dengan pohon yang besar banget dan carrier saya yang masih sangat ringan dan aneh rasanya. Saya hanya menatap pohon besar itu dan bilang "yakin mau ngecamp disini?" dan teman saya jawab "iya soalnya udah gelap," dan itu sekitar jam 17.30 WIB. lalu disusul oleh wisnu 10 menit kemudian, dan teman saya bikin tenda tepat dibawah pohon besar yang ada tulisan ARBAN itu, disamping pohon itu yang cuma muat buat satu tenda itu loh, karena belakangnya hutan dan sampingnya hutan juga. dan jarak tenda saya ke wisnu cukup jauh karena dia bikin tenda di seberang track.

 

Malam itu pkl 19.00 hujan rintik-rintik terus terdengar diluar tenda, setelah selesai makan dan beres-beres kita istirahat sebelum tidur teman saya bilang, "jangan hiraukan suara lain diluar tenda," saya cuma diam, takut ada babi hutan. dan juga ditenda saya hanya memakai satu senter yang sudah hampir redup ditaruh di luar tenda tapi didalem layer. Gelap sekali didalem biar saya bisa tidur. Tapi mata saya segar sekali malam itu bahkan teman saya sudah tidur duluan (jam 8 saya sepertinya sudah tidur tapi gak pules), dan kebangun sekitar jam 10'an karena saya mendengar suara langkah kaki dari bawah (masih merem matanya) dalam hati saya bilang "allhamdullilah ada teman lagi, semoga ngecamp disini," nggak lama saya mendengar mereka sampai di pohon besar atau tepatnya didepan tenda saya, karena itu masih bisa bikin satu tenda.

 

Lalu saya buka mata saya, tapi aneh saya gak melihat ada cahaya senter dari luar. Saya masih di posisi tiduran, lalu samar-samar saya mendengar suara mereka ngobrol dan saut-sautan tapi suaranya lirih sekali, dan kemudian ada suara cewek yang sangat jelas didepan tenda saya, "mau ngopi dulu nggak?" katanya, lalu hening. Disitu saya sudah mulai deg-degan dan bangunin teman saya tapi nggak bangun-bangun. Lalu nggak lama ada suara cowok bilang, "kita ngecamp disini,"  dan suara-suara mereka bongkar carrier dan bikin tenda. lalu saya tertidur dan dibangunkan jam 12 oleh wisnu yang teriak, "bang, summit jam berapa," saya langsung bangun dan bangunin teman saya, kemudian saya suruh dia buka tenda. Dan ternyata disana hanya ada tenda saya dan tendanya wisnu. Itu artinya diatas gunung ini yang kakinya masih menapak ditanah hanya kita berempat.

 

(Ayu cerita pas sudah dibasecamp, turun) jam 9 ayu (maaf) pipis diluar tenda tapi masih didalem layer. kemudian dia bilang dia denger suara saya ngobrol, padahal jam 9 sudah nggak ada aktivitas ditenda saya" dia buka sedikit layernya dan tengok ke tenda saya dan yang dia lihat adalah tenda saya sangat sangat terang, terang banget banyak cahaya tapi hanya diluar tenda saya ( diatas sudah dibilang saya hanya menggunakan satu senter redup ditenda) kemudian juga dia mendengar suara saut-sautan orang ngobrol. Jam 11 dia kembali ke luar tenda dan membuka layer lumayan lebar dan kembali melihat ke tenda saya dengan sedikit ada yang berbeda yaitu seseorang yang berdiri disamping tenda saya tepat posisi tidur kepala saya, dan angin yang berhembus kencang didepan mukanya. (pantesan, pas jam 01.00 summit mukanya pucet banget)

 

Summit jam 01.00 saya merasa ramai, sangat ramai entah cuma saya yang merasa apa memang teman-teman saya juga merasa, tapi sampai hari ini saya tidak banyak cerita mengenai ini (takut anin kapok nemenin saya naik hehehe) diperjalanan itu ramai, banyak suara dari samping kiri dan kanan, kemudian tanpa sadar saya bilang "mereka ikut ke puncak" lirih, dan saya rasa anin denger karna dia bilang "jangan bengong" lalu saya seperti baru sadar, dan sepertinya mereka memang menemani saya sampai turun karena mungkin pas mereka datang saya bilang "allhamdullilah ada teman lagi" sampai pos pos berikutnya sebenarnya aman, dan saya masih sangat merasa mereka ada disamping saya tapi nggak ganggu, hanya saja kadang-kadang saya merasa dingin parah dibagian tertentu hanya bagian tertentu. Lalu dalam hati saya bilang "boleh temani tapi jangan ganggu" padahal asli takut banget.

 

Anehnya adalah, kenapa teman saya begitu berat bawa badannya hanya badannya tanpa daypack bahkan sampai merangkak, dan kotor semua bajunya, tapi tongkatnya selalu dia bawa, ya saya tetap menunggu agar bisa sampai puncak bareng-bareng karena diatas hanya berempat. 

dan sampailah di puncak pkl 15.00 luar biasa bukan? 14 jam pos 4 sampai puncak. sejam dipuncak, lalu turun pkl 16.00 kabut sudah naik dan mulai gelap.

 

Saya dan anin turun duluan dengan lari-lari kecil, karena aneh badan saya luar biasa ringan. kemudian saya menunggu wisnu dan ayu di track yang ada pohon tumbang sebelum pos 7 sanghyang ropoh, tiba-tiba hujan karena saya orangnya nggak bisa dingin, disitu saya dipaksa anin "kita harus jalan, tempat ini nggak aman" saya langsung berdiri dan berani, karena merinding juga gelap banget asli. hanya ada headlamp dan senter hape yang tinggal 10% . Saya berdua memutuskan turun duluan dan bilang akan minta bantuan di pos pasanggrahan 2 ke anak sispala (sebelumnya ketemu pas turun di track sebelum pos 7) malam itu sangat mencekam, dan saya tidak hanya berdua, ada beberapa yang saya lihat diujung track, disamping, dan di depan lalu hilang, begitu terus, juga anehnya adalah jalan turun yang menjadi bercabang, 3 cabang lalu bingung "jalannya yang mana ya" aku bilang, jarak pandang hanya satu meter, kabut benar-benar tebal. Kami coba mencari jalan jika kiranya itu hutan kami putar arah dan pengetahun survival nya anin digunakan dengan melihat badan pohon yang ada bekas tulisan tangan, artinya jalur itu dilewati orang. Kilat dan hujan yang semakin deras menambah ke horroran disana, ketika langit menyala beberapa detik, disitu semua terlihat kabut seolah-olah hilang dan mereka masih ada disampingku. Anin selalu didepan dan beberapa kali terjatuh karena jalannya astagfirullah licin. sampai di pos pasanggrahan bertemu tenda sispala dan minta tolong, tapi mereka nggak berani jemput ke atas. akhirnya saya berdua tetap turun dengan penerangan satu headlamp karena hapenya lowbat.

 

Pkl 21:00 kami sampai di tenda kami di Arban, kemudian bersih-bersih dan istirahat, sebelum tidur saya bilang dalam hati, "siapapun kalian, terimakasih" beberapa detik kemudian bersambut dengan riuhnya suara saut-sautan dari seberang tenda saya, kemudian saya tertidur dan dibangunkan siang hari jam 11.00 oleh suara teriakannya wisnu "bang, teh kalian didalem tenda" katanya, saya bangun dan "allhamdullilah mereka nggak apa-apa" dalem hati, kemudian keluar, bikin makan dan beres-beres bersiap untuk turun karena sudah nggak mandi tiga hari hehehe…, stok minum juga sangat tipis karena sumber air hanya ada di pos 8 goa walet sebelum puncak dan di pos 1 cigowong. oiya dari pos 4 turun kebawah carrier saya masih ringan, sama seperti naik. tapi, setelah sampai di cigowong disitu carrier saya mulai agak berat, sampai pegel pundak dan baru terasa capek semua badan saya, padahal jarak ke basecamp deket waktu turun hanya memakan waktu 2 jam. (sepertinya cuma ditemani sampai situ) lalu saya kembali mengucap salam dan terimakasih.

 

Kemudian sampai di basecamp jam 17:49 WIB (saya langsung liat jam dan mengucap syukur).

 

NB : tongkat yang dibawa ayu dari pos 2 sampai puncak, kemudian patah pas banget pas baru sampai puncak, dan badannya masih sangat berat bahkan pas udah turun sampai basecamp, sampai jalan merangkak, tapi salut karena kuat sampai puncak ciremai. Terimakasih juga untuk teman teman sispala yang sudah mau membantu kita dan khususnya membantu ayu dan wisnu malam itu dengan mengijinkan nginep ditenda. terimakasih.

 

Dan, perjalanan ini mengajarkan saya bahwa yang terjadi bukan hanya sekedar perjalanan tapi juga mengalahkan ego demi kebersamaan. Hormati istiadat setempat, karena kita hanyalah tamu.

jangan sembarangan mengambil atau memindahkan apapun. Ucapkan salam ditempat baru, ibaratnya gerbang adalah pintu.

 

Sekian dan terimakasih untuk abang-abang dan kakak-kakak yang sudah membaca, dan terimakasih ciremai sudah banyak mengajarkan saya tentang hal baru yang sebelumnya saya tidak tahu.

 

Wassallamuallaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…, (tamat)

 

Punya cerita misteri saat pendakian? atau memiliki tips/ilmu/pengetahuan soal pendakian? Punya kisah tentang seseorang yang menginspirasi? Memiliki referensi film atau acara televisi yang mungkin akan bermanfaat bagi orang lain, terutama para pejalan? Punya toko outdoor untuk dipublikasikan?  Memiliki kisah perjalanan ke suatu tempat wisata beserta tipsnya? Ada event seperti lari, panjat tebing, navigasi darat (kecuali open trip dan pendakian massal yah).

Punya info tersebut? Mau berbagi ke website kami?
Silahkan untuk mengirimkan materi tulisan ke redaksi kami > urbanhikersmagazine@gmail.com < 


Dimohon jika itu tulisan milik orang lain untuk tidak lupa mencantumkan sumbernya.


Sumber : instagram @urban.hikers