Wed, Aug 15, 2018 1:00 AM

Pesan Penjaga Gunung Lembu

dok.id instagram @nieketiaraamelinda


#urbanmystery Narasumber : @nieketiaraamelinda

 

Berniat menutup tahun 2015 dengan travelling bareng, akhirnya tercetus ide untuk nanjak ke Gunung Lembu di Purwakarta. Karena biasanya Desember musim penghujan, jadi kami memutuskan untuk ambil hari di bulan November. Setelah mencocokkan jadwal akhirnya kami fix berangkat tanggal 14 November. Rencana awal berangkat 4 orang – Saya, Erna, Alin dan Dede – tiba-tiba Erna nggak bisa ikutan akhirnya tinggal bertiga. Mau cari orang tapi udah mepet dan ada yang sudah kami ajak tapi juga nggak bisa, karena beberapa logistik udah di beli dan list barang bawaan udah dibagi-bagi sayang kalau nggak berangkat, akhirnya kami memutuskan untuk tetap lanjut. Kami memang berniat untuk ngecamp semalam, walau katanya ke Gunung Lembu tektok juga bisa. Kami pun sepakat Sabtu pagi kumpul di terminal Kampung Rambutan dan naik bus jurusan Purwakarta.

 

Karena dari bertiga belum ada yang pernah kesana jadi kami mengandalkan catper (catatan perjalanan) dari internet, baik transportasi menuju kesana maupun gambaran trekking nya. Di beberapa catper dan review orang-orang memang trekking Gunung Lembu bersahabat bagi pemula, tidak seperti naik gunung yang beribuan mdpl itu dan memang sih Gunung Lembu tercatat hanya 792 mdpl. Sempat ragu karena takut kami bertiga nggak paham jalur, tapi setelah tanya teman yang udah pernah kesana, katanya, "jalurnya jelas dan pasti nanti ketemu banyak pendaki kok," ujar salah satu teman saya, membuat saya jadi agak sedikit tenang lah. Untuk sampai ke basecamp Gunung Lembu memang agak susah transportasinya, kebanyakan menyarankan untuk carter, kami sempat bingung hanya bertiga sewa angkot biaya otomatis mahal kan, optimis bisa ketemu pendaki saat turun bus di Purwakarta tapi ternyata nihil. Hahaha.. kasian :’D Mau gak mau kami bertiga sewa angkot. FYI, kebanyakan pendaki memilih transportasi via kereta jadi kalaupun mau join kebanyakan ya dari stasiun atau rata-rata juga banyak yang membawa kendaraan pribadi.

Kami pun tiba di basecamp sekitar jam 10an. Setelah beristirahat dan membayar biaya simaksi kami pun berniat untuk langsung naik. Yaa kami sengaja naik siang karna kami ingin jalan santai saja, kalaupun telat kan masih sore masih terang (kalo saya sih anti trekking malem. Selain meminimalisir “hal-hal yang tidak diinginkan” – you know what I mean - trekking malam ga leluasa buat melihat jalur). Saat di basecamp, kami pun diberikan selembar kertas yang isinya peta jalur dan pos-pos apa saja hingga ke puncak gunung Lembu nya. Lumayan lega lah. Saya yang suka mengabadikan momen saat sedang travelling terutama video, agak cukup kaget juga sih pas liat pemandangan sepanjang jalur, rata-rata pohon bambu semua. Waduuww.. hahaa. Dalem hati udah ‘waspada’ aja, padahal masih siang lho itu. Saya pun mengurungkan niat untuk intens mengambil video, hanya sesekali yang dikira ‘trekking nya unik’ sebagai dokumentasi perjalanan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Siapa yang bilang trek Gn. Lembu gampang? Ternyata oh ternyata belum apa-apa udah nanjak terus. Ampuunn dije >_< Mungkin bagi yang ‘kaki dewa’ ini mah gampang tapi bagi kami yang dikenal dengan sebutan ‘pecel lele – pendaki cepat letih dan lelah’ trek gunung Lembu ini cukup menguras tenaga juga apalagi kami trekking di saat siang hari bolong. Panas terik matahari nya luar biasa. Bikin cepat cape dan haus jadinya sebentar-sebentar kami istirahat. Untung aja niatnya jalan santai kan. Hehe.. Kami pun tertolong saat tiba di pos 1 (kalau gak salah). Ini seperti  area lapangan cukup luas, sepertinya ini alternatif buat ngecamp kalau tidak mau diatas. Disini juga banyak saung-saung seperti gazebo, mushola dan juga warung. Kami hanya mampir sebentar buat foto-foto dan memulihkan tenaga. Lanjut jalan lagi ternyata jalannya masih nanjak dan ada warung lagi. Kami pun memutuskan untuk beristirahat lagi. Kali ini kami sambil memesan es nutri sari. Wah surga dunia sih, pas banget lagi panas-panasan hampir dehidrasi eh ketemu yang seger, ada juga es kelapa, pokonya kalo di gunung yang di kota keliatan biasa malah jadi luar biasa enaknya. Betul gak?

 

Trekking awal setelah dari gerbang

 

Trekking batu juga ada. Ngeri-ngeri sedap bawahnya langsung jurang

 

Tanjakan lagi >_< (disemangatin sama plang dipohon “Jangan menyerah” katanya)

 

Masih tanjakan (bonus nya dikit banget)

Lanjut trekking ke pos 2 disambut dengan tanjakan lagi (hahha. Bonus nya dikit banget asli. Hiiks). Saya rasa kalau hujan ini bakal licin banget karna pijakan tanah nya bener-bener ga ada. Untung pas kami kesana tidak abis hujan. Jarak dari pos 1 ke pos 2 sih ga terlalu jauh. Sampai pos 2 pun kami beristirahat lagi. Tempatnya pas dibelokan dan hanya ada 1 bale (tempat duduk) tak jarang kami bertemu dengan bocah-bocah, sempet malu sih kami kebanyakan istirahatnya. Hahaha.. Pas lagi istirahat tiba-tiba angin kenceng banget, pohon-pohonnya kan tinggi-tinggi ya, goyangnya kenceng juga karna kami kira mau hujan akhirnya kami langsung lanjut perjalanan. Ga jauh dari situ ternyata ada makam, jangan lupa ucapkan salam ya dan permisi (itu sih ajaran ortu saya kalo lewat makam ya permisi katanya, pengalaman waktu kecil saat berziarah di kampung saya karna belom paham apa-apa akhirnya saya ‘ketempelan’ katanya). Lanjut jalan lagi dan ketemu makam lagi, kalo yang ini di kasih semacam atap gitu. Kalau yang sebelumnya cuma dipagerin. Berdasarkan peta yang dikasih saat di basecamp sih benar akan melewati 2 petilasan.

 

Jalur setapak yang bawahnya langsung jurang

 

Menuju pos 3 ternyata jalan nya tak mudah. Jeng..Jeng.. kami dihadapkan dengan jalur yang cukup ekstreme. Ternyata ada jalur yang pakai tambang juga, wooww.. tambang nya sih uda diikat di batang pohon gitu sih, kalo pijakan kaki kita kuat mungkin ga perlu, tapi safety nya sih ya pegangan aja ya daripada kenapa-kenapa. Soalnya jalan nya agak menurun gitu dan sebelahnya jurang. Turunan itu selesai, tantangan selanjutnya melewati jalan setapak pijakan batu bawahnya jurang. Ini sih uda ga bisa dibilang remeh lagi jalurnya – bagi saya. Hahaa.. Jangan percaya 100% sama catper orang ya gaes, kali aja si reviewer itu termasuk yang ‘kaki dewa’ :D hehee.. Akhirnya kami sampai di pos 3. Pos 3 juga hanya dataran landai sedikit sih, jadi kami memutuskan lanjut aja. Gak lama akhirnya kami sampai di titik Puncak Lembu. Disini tanah nya cukup datar tapi ga luas. Kalaupun mau ngecamp saya rasa cuma muat 4-5 tenda. Sisanya bisa disepanjang jalur tapi itu pun sempit. Saat kami sampai belum ada tenda yg berdiri, itu artinya kami yg pertama ngecamp. Cihuyy.. agak horror juga sih kalo misal cuma kami doank, soalnya dikelilingi pohon yang tinggi dan lumayan rapat. Sinar matahari aja masuk cuma dari celah-celah daun, gimana kalo malem gelap banget pasti.

 

Jalur menurun yang menggunakan tambang

 

Jalan setapak pijakan batu bawahnya jurang

Kami pun langsung mendirikan tenda memilih tempat yang pewe :D Beberapa pendaki lewat, tapi sepertinya hanya tektok karna mereka hanya memakai tas ransel biasa. Kami pun bersiap memasak. Saat baru mulai masak, terdengar suara grasak-grusuk dari arah semak-semak dan pohon. Tiba-tiba nongol seekor monyet tidak jauh dari tempat kami masak, karena kaget dan takut, kami pun langsung mematikan kompor dan langsung masuk tenda. Makin lama makin bertambah monyetnya. Kami tidak tahu kalau disana memang banyak monyet nya dan kami baru tahu setelahnya - diceritakan oleh kawan saya yang sudah kesana. Agak cukup lama monyetnya gak pergi, dan sial nya tidak ada pendaki yang lewat itu artinya monyet itu memang tidak akan pergi. Kocaknya teman saya – Dede - punya ide untuk menyemprotkan parfum dalam tenda untuk mengalihkan bau makanan. Tapi nyatanya tidak pergi juga monyetnya, malah parfum saya yg tinggal sedikit -_- lumayan lama kami nunggu tapi akhirnya monyetnya pergi juga.

Tenda kami

 

Finally, I did it ^_^

Sekitar jam 5an ada satu rombongan cowo-cowo (4 orang) yang tiba dan mendirikan tenda. Mereka bangun 2 tenda, posisi nya didepan kami. Untunglah ada teman nya. Fiuuhh.. Kami pun berbincang-bincang sambil masing-masing memasak. Tidak lama ada rombongan pendaki (sepertinya anak kuliahan sih) lumayan banyak anggotanya, saya lupa berapa, terdiri dari beberapa cewe dan cowo. Memang dari jauh sih suara mereka sudah terdengar dan “agak cukup mengganggu” kalau menurut saya. Sudah suaranya kencang, attitude nya agak sedikit ‘nyeleneh’. Kalau diliat dari pakaian nya sepertinya bukan ‘pendaki’ karena terlalu modis, kalau menurut saya mereka sekelompok anak muda yang memang suka travelling aja bukan yang pendaki beneran. Tiba-tiba salah satu dari mereka naik keatas batu besar dekat camp ground kami (yg uda pernah ke Lembu pasti tau), kemudian diikuti dengan yang lain. Tiba-tiba yang udah diatas sana teriak-teriak (saking hebohnya liat view nya mungkin) terus sambil bercanda juga tapi suaranya cukup kencang seperti yang saya katakan tadi, dari jalur aja sudah kedengeran kan.

Tidak lama seteleh mereka, ada rombongan pendaki lain lewat tenda kami – kalau tidak salah ingat ada 2 cowok 1 cewek – mereka hanya melewati saja tidak berhenti buka tenda (mungkin mau camp dekat batu lembu kali), tapi tiba-tiba setelah melewati kami, yang cewek berbalik dan menghampiri kami lalu bilang ke saya dkk dan 4 pendaki yang ngecamp bareng kami itu “mbak mas tolong bilangin temennya jangan teriak-teriak, jangan naik kesitu (batu besar)” sambil muka melas dan gemeteran. Kami sempat bingung saat tiba-tiba dibilang begitu, kami refleks bilang “oh bukan rombongan kami itu”. “tolong donk bilangin mas” lanjut cewe itu, dan tiba-tiba bruuukkk.. cewe itu pingsan. Kami yang masih kebingungan langsung ngikutin apa yang mba itu bilang. Saya, Alin dan teman rombongan si cewe itu bantuin baringin si mba nya ke atas matras kami lalu saya minta tolong ke mas-mas yang 4 orang itu untuk samperin rombongan ‘modis’ itu dan suruh mereka turun. Kami mencoba bangunin si mbak nya dengan memberikan kayu putih di hidungnya, cukup lama sih si mbak nya sadar tapi untungnya sadar juga tapi badannya lemas dan ekspresi ketakutan gitu, lalu dia bilang ke temen rombongan nya gini “mas.. tolongin. Ada yang mau ambil salah satu dari mereka. Aku gak mau. Aku udah ga kuat buat cegahin. Tolongin mas. Penjaga disini marah”

Saya yang mendengar dan melihat ekspresi nya langsung kaget plus bingung, wahh maksudnya apa nih. Langsung aja kami cepat-cepat samperin rombongan ‘modis’ itu dan menyuruh mereka benar-benar turun sekarang dari atas batu dan menyuruh jangan berisik. Mereka untungnya menurut tapi berlalu dengan rasa tidak bersalah dan hanya melihat aneh kepada kami yang sedang panik menenangkan si mbak itu. Saat kejadian itu hampir menjelang Maghrib. Menurut info dari rombongan si mba nya sih, dari bawah memang rombongan ‘modis’ itu sudah cukup berisik, makanya mereka jaga jarak dengan rombongan ‘modis’ itu karena dari bawah si mbaknya sudah ‘dapat warning dari si penjaga’. Karena kejadian itu, rencana awal saya yang ingin bersantai malam hari dipinggir Batu Lembu melihat kerlap-kerlip waduk jatiluhur jadinya batal. Huhuu.. Yaiyalah suasananya tegang begitu gimana mau keluar. Akhirnya saya dkk menghabiskan malam hanya di tenda saja, esoknya baru sunrise.

View sunrise dari Gunung Lembu

Rame banget uda kaya pasar. hehee

 

Setelah kejadian itu kalau dipikir-pikir, setiap kami melewati 2 makam yang disana dan berhenti, selalu datang angin yang kencang. Kami baru menyadari saat turun, terutama saat kami di Pos 2 yang pas naik. Mungkin gak boleh lama-lama berhenti disana kali ya, hanya pendapat sih. Hehe.. Apapun itu, mitos tentang hentikan aktivitas saat Maghrib atau pun gak boleh keluar rumah saat Maghrib – kata orang tua dulu – mungkin memang benar.

Keep clean and salam lestari. (tamat)

 

 

Punya cerita misteri saat pendakian? atau memiliki tips/ilmu/pengetahuan soal pendakian? Punya kisah tentang seseorang yang menginspirasi? Memiliki referensi film atau acara televisi yang mungkin akan bermanfaat bagi orang lain, terutama para pejalan? Punya toko outdoor untuk dipublikasikan?  Memiliki kisah perjalanan ke suatu tempat wisata beserta tipsnya? Ada event seperti lari, panjat tebing, navigasi darat (kecuali open trip dan pendakian massal yah).

Punya info tersebut? Mau berbagi ke website kami?
Silahkan untuk mengirimkan materi tulisan ke redaksi kami > urbanhikersmagazine@gmail.com < 


Dimohon jika itu tulisan milik orang lain untuk tidak lupa mencantumkan sumbernya.

 


Sumber : instagram @urban.hikers