Fri, May 25, 2018 9:31 PM

Ditemani Sepanjang Perjalanan Merbabu via Suwanting

ilustrasi saja


#urbanmystery Narasumber : Id Instagram @vaniaanabilaa

 

Sebenarnya sudah lama saya mau kirim ini ke Urban Mystery, tapi karena terhambat kesibukan jadi ga dilanjut-lanjut. Eh udah keduluan dulu sama postingan Urban Mystery Suwanting kemarin hehe jadi semangat nulis lagi deh. Mungkin baru beberapa hari lalu Urban Mystery upload tentang Merbabu via Suwanting, tetapi memang Merbabu via Suwanting selalu punya cerita sendiri untuk setiap pendaki. Saya mau berbagi cerita yang sangat panjang sih sebenernya hehe tapi saya coba singkat biar nggak terlalu panjang. Tentang perjalanan yang membuat saya tau apa itu arti SOLIDARITAS, TOLERANSI, TEMAN DAN CINTA. Tepatnya pada tanggal 8-9 April 2016 lalu. 

 

Jauh hari sebelum UNBK (ujian nasional berbasis komputer) dilaksanakan, saya diajak oleh teman untuk mendaki dalam rangka refresh setelah kelulusan nanti. Sebenarnya hanya beberapa orang saja yang saya kenal karna teman main saya, yang lain baru kenal saat kita briefing beberapa minggu sebelum pendakian. Terdiri dari 14 orang, 9 pria dan 5 wanita. Kami berangkat tanggal 8 April jam 4 sore dari Semarang dan tiba di basecamp Suwanting sebelum Maghrib. Kami beristirahat sejenak untuk aklimatisasi dan ngopi dulu. Selagi mempersiapkan diri, ketua rombongan sudah mengurus simaksi dan kami pun di breafing oleh pengelola basecamp. Selain menjelaskan mengenai peta dan jalur yang akan dilalui, beliau sangat menghimbau mengenai Lembah Manding. Beberapa peraturan yang sangat saya ingat adalah :

1. Mengucap salam ketika memasuki area Lembah Manding

2. Tidak boleh berkata kasar

3. Tidak boleh berbuat senonoh

4. Tidak boleh berfikir negatif

5. Tidak boleh mengeluh! Katanya kalo kita udh sekali ngeluh, kita ga akan bisa sampai puncak

 

Hari ke - 1

Kami memulai perjalanan sesudah isya, sekitar jam setengah 8 malam. Kami memutuskan naik pada malam hari karena katanya biar nggak kerasa capek. Baru sebentar perjalanan belum sampai pos 1, seorang teman yang saya lupa namanya bilang nggak kuat (padahal macho badan gede :v) dan salah seorang teman yang saya lupa namanya juga memutuskan untuk menemani nya kembali ke basecamp (gugurlah 2 orang yang saya lupa namanya itu :v). Kami terus melanjutkan perjalanan.

 

Singkat cerita, entah bagaimana bisa terjadi rombongan kami terpecah menjadi 3, yang di depan rombongan pejalan cepat, saya (vania) dan pacar saya (yoga) di tengah dan rombongan pejalan santai di belakang. Tetapi jarak antar kami lumayan jauh satu sama lain. Oh ya dalam rombongan ada 2 orang yang peka terhadap "dunia lain", yaitu saya dan khoir. Perjalanan kami terasa lama sekali. Entah efek cewek-ceweknya yang lamban atau ada yang tidak beres saya kurang ngeh. Tetapi selama saya berjalan berdua dengan pacar saya, saya merasa aneh. Di setiap perjalanan saya merasa ada yang mengikuti. Disepanjang semak-semak berasa ada yang mengawasi. Bahkan saya beberapa kali memergoki rerumputan bergerak sendiri namun bukan karena pengaruh angin. Tapi saya coba pendam semuanya sendiri, karena yoga itu orang yang nggak peka banget. Jadi percuma ngomong sama dia. Lama kelamaan saya merasa tubuh saya lemas sekali, pusing, dan bahkan mual. Awalnya saya kira anemia saya kambuh, namun semakin lama kesadaran saya hanya setengah.

 

Menurut cerita yoga, sepanjang perjalanan dia ngajak ngobrol saya dan memanggil-manggil nama saya namun saya tidak menjawab. Saya hanya diam saja dan muka saya sangat pucat. Yoga hanya memaklumi karena dia juga mengira anemia saya kambuh. Akhirnya semua rombongan bertemu di satu titik sebelum pos 2 untuk break. Disitu saya disuruh makan roti dan minum tolak angin oleh marisa karna takutnya masuk angin. Khoir yang tau mengenai keadaan saya tiba-tiba berkata sendiri dengan nada agak keras, "wes melu aku wae kabeh, ojo ganggu konco-koncoku" (sudah, ikut saya saja semuanya, jangan teman-temanku).

 

Setelah itu kami berniat melanjutkan perjalanan, namun khoir ijin untuk tinggal dan akhirnya rombongan kami terpecah menjadi 2. Saya ikut rombongan yang melanjutkan perjalanan. Saat saya berdiri, tiba-tiba saya merasa tubuh saya sangat ringan, tidak seberat tadi. Kepala saya sudah tidak pusing dan perut sudah tidak mual. Disitu saya sadar bahwa ternyata ada sosok yang berusaha untuk memasuki tubuh saya. Dan saat khoir mengucap kata-kata tadi, dia berusaha berkata kepada "mereka" yang mengganggu kami untuk mengikuti khoir saja. Benar saja, sosok yang mau masuk ke tubuh saya berpindah mengikuti khoir, makanya tubuh saya sudah ringan. Rombongan satu akhirnya sampai di pos 2, namun waktu menunjukan pukul 2 dini hari. Perjalanan yang sangattt…, lama dan melelahkan. Akhirnya kami memutuskan untuk buka tenda dan istirahat. 

 

Hari ke - 2

Pukul 6 pagi kami bangun. Hawa dingin yang sangat menusuk tulang menjadi teman ngopi dan sarapan. Ternyata, semalam rombongan khoir tidak melanjutkan perjalanan dan memilih camp di tempat break tadi malam. Saat hari sudah cerah, kami sadar bahwa tempat mereka camp ada dibawah kami dan kelihatan dari tempat kami. Kami pun bisa saling berkomunikasi dengan teriakan. Setelah ngopi dan sarapan, yoga mengajak teman-teman yang lain untuk melanjutkan perjalanan. Tetapi ditolak oleh salah satu teman saya dengan alasan karena tim di bawah tidak mau naik. Terjadi sedikit perdebatan disini. Akhirnya teman saya yang menolak tadi berkata "yaudah, kalo kalian mau naik silakan, kami tunggu disini". Saya memutuskan menemani yoga untuk naik dengan kesepakatan kita akan kembali ke pos 2 jam 12 siang. Akhirnya kita berdua naik dengan membawa 1 daypack berisi logistik secukupnya.

 

Perjalanan dimulai..

Tak jauh dari tempat kami mendirikan tenda, kami sudah disambut oleh pintu masuk Lembah Manding. Dengan pohon nya yang rindang, saya melihat ada tante "K" (kuntilanak) duduk di ranting pohon yang rindang itu. Saya mengucap salam dan seketika agak merinding ketika lewat dibawahnya. Kuakui, lembah manding sungguh unforgettable. Treknya yang panjang dan curam tanpa bonus, lengkap dengan suasana horor nya.

 

Sepanjang perjalanan ada seekor burung yang selalu mengikuti kami. Suaranya cantik, tapi saat kami cari tidak pernah terlihat wujudnya. Kami tidak berjumpa dengan pendaki lain yang naik maupun turun. Tetapi ketika melewati jalur yang curam dengan tali, yoga bilang katanya melihat ada 2 pendaki yang naik di belakang kami. Dia mendengar suara derap kakinya tidak jauh dari belakang kami. Masing-masing membawa carrier warna merah dan biru. Tapi jujur saja saya tidak mendengar dan melihat ada pendaki lain di belakang kami. Yoga masih kekeuh mendengar suara senda gurau nya. Akhirnya aku memutuskan untuk break sejenak sambil menunggu pendaki tersebut dan berencana ingin mengajak mereka naik bersama. 10 menit, 15 menit berlalu namun batang hidungnya tak kunjung terlihat.

 

Aku mulai gelisah dan bertanya pada yoga "mana? Katanya ada pendaki dibawah kita? " yoga menjawab "ada yo, aku liat tadi. Jaraknya ga jauh kok cuma sekitar 5 meteran". Jika di logika, jarak 5 meter nggak mungkin 15menit ditunggu nggak ketemu. Firasatku mulai tidak enak, aku tahu yang dilihat yoga bukan benar-benar manusia. Akhirnya setelah 20 menit aku memutuskan untuk jalan kembali. Selama melewati lembah manding aku tau kita tidak hanya berdua.

 

1) ada burung yang selalu menemani kita

2) ada sosok kerdil namun wajahnya seperti hewan yang jelek sekali yang selalu menunggu kita di tikungan depan.

 

Jadi saat di depan jarak 5 meter ada tikungan, dia sudah menunggu kami di ujung tikungan tersebut, namun setelah dekat dia menghilang dan sudah menunggu di tikungan depan lagi. Asik kan? :v

 

Jujur, sebenarnya aku sudah tidak kuat meskipun aku tidak membawa apa-apa karena daypack dibawa yoga. Tapi terasa lelah sekali. Hingga akhirnya kami tiba di pos 3 pukul setengah 11 siang. Rasanya legaaa…, sekali. Tapi kita memutuskan tidak lanjut naik ke puncak karena saya tidak kuat.

 

Akhirnya kami makan bekal yang kami bawa sambil istirahat sejenak sebelum turun lagi. Pukul setengah 12 siang kami memutuskan untuk turun. Beruntung kami tidak sendiri, kami bertemu dengan rombongan mas-mas ganteng dari pekalongan yang berjumlah 5 orang. Mereka sangat asik dan baik. Kami cerita kalau teman kami menunggu di pos 2 dan mereka bersedia menemani kami hingga pos 2.

 

Sesampainya di pos 2, aku dan yoga dibuat terkejut karena tenda dan teman-teman kami sudah tidak ada. Dan terkejutnya lagi, kami ditinggali sebuah carrier 80L yang sangat overload. Jujur kami kecewa, mereka bilang akan menunggu kami turun namun kenyataan berubah 360°. Dengan rasa kecewa akhirnya kami membongkar lagi tas carrier overload itu dan membaginya dengan daypack yang akan kubawa turun. Mas-mas dari pekalongan tersebut jadi emosi sendiri dan kasian melihat kami seperti ini. Mereka bilang, "sekarang lu tau kan mana yang temen beneran. Mereka bukan temen lu. Kalo sampe nanti lu sampe basecamp tapi mereka nggak ada, berarti emang bangsat beneran".

 

Mas-mas ini sangat baik sekali mau menemani kami sampai turun. Apalagi saya cewek, otomatis lambat banget, tapi mereka sabar menunggu saya. Di tengah perjalanan gerimis mulai turun, jalanan sangat licin. Beberapa kali aku dan yoga terpeleset. Beruntungnya lagi, sehari sebelum pendakian kakiku tersandung mesin cuci dan kuku jempolku hampir lepas. Aku sempat pesimis diijinkan muncak tapi aku nekat hehe dengan jempol dibalut perban. Aku dan yoga sangat lelah dengan beban berat ini, ditambah rasa kecewa kami dengan teman-teman kami.

 

Tapi untungnya canda tawa rombongan mas ganteng ini membuat perjalanan turun tidak begitu suram. Sampai di hutan pinus, hujan turun semakin deras. Sialnya kami cuma membawa 1 jas hujan. Yoga menyuruhku memakainya dan dia hujan-hujanan. Kasian sih sebenernya apalagi dingin banget waktu itu. Basecamp semakin dekat, kami sampai di perkebunan warga, namun cobaan datang menimpaku.

Jackpot! Aku tersandung batu besar tepat di jempol kaki ku yang luka. Aku menangis sejadi-jadinya sampai mas-mas ganteng panik dan berniat menggendongku :3 Tapi aku jaim dan tetap berjalan sambil pincang :v Sampainya di basecamp jam setengah 5 sore, kami mencari teman-teman kami, tapi penjaga basecamp bilang mereka sudah pulang duluan sekitar 1 jam yang lalu. Dan mas-mas ganteng seketika langsung menasehati kami :)

 

Akhirnya kami bersih-bersih diri dan beristirahat sejenak sebelum pulang. Teman-teman basecamp juga prihatin mendengar cerita kami. Mereka sangat bersimpati kepada kami. Setengah 6 sore kami memutuskan untuk pulang dengan sisa tenaga yang kami berdua punya. Kami terburu-buru karena tidak mau terlalu malam sampai rumah. Sampai lupa kalau teh anget nya belum dibayar :v Maaf bu hehe

 

Dari perjalanan ini saya belajar banyak hal. Mulai dari menjaga sopan santun, menghargai keberadaan mereka, sampai menghargai arti solidaritas dan toleransi. Memang cerita saya ini setengah horor dan setengah drama. Silahkan ambil positifnya dan buang negatifnya. Saya tidak memaksa anda semua mempercayai apa yang saya ceritakan. Tetapi percaya lah "mereka" memang benar ada. Semua kembali ke kepercayaan masing-masing. Dan tetap jaga solidaritas tim kalian saat pendakian, itu sangat penting gengs. Terimakasih basecamp Suwanting untuk kehangatan dan keramahan nya. Semoga saya bisa kesana lagi untuk membayar utang teh anget nya wkwk. Kalau untuk naik suwanting lagi? Emm enggak deh makasih wkwk. Terimakasih juga buat admin yang udah mau baca cerita ini. Sukses untuk kita semua. GBU. (tamat)

 

 

Punya cerita misteri saat pendakian? atau memiliki tips/ilmu/pengetahuan soal pendakian? Punya kisah tentang seseorang yang menginspirasi? Memiliki referensi film atau acara televisi yang mungkin akan bermanfaat bagi orang lain, terutama para pejalan? Punya toko outdoor untuk dipublikasikan?  Memiliki kisah perjalanan ke suatu tempat wisata beserta tipsnya? Ada event seperti lari, panjat tebing, navigasi darat (kecuali open trip dan pendakian massal yah).

Punya info tersebut? Mau berbagi ke website kami?
Silahkan untuk mengirimkan materi tulisan ke redaksi kami > urbanhikersmagazine@gmail.com < 


Dimohon jika itu tulisan milik orang lain untuk tidak lupa mencantumkan sumbernya.

.

.

Bagi yang mau mendukung atau beriklan di website, silahkan hubungi

> Phone: (+62) 857-7792-0672 atau kirim email ke : urbanhikersmarketing@gmail.com <

 


Sumber : instagram @urban.hikers