Wed, Oct 24, 2018 2:19 AM

Tersesat di Jalur Lahar dan Diganggu Suara Anjing Tak berwujud

dok. Aries K


#urbanmystery Narasumber : Aries K.

.

Cerita ini bermula ketika liburan akhir semester datang. Waktu itu akhir desember 2015. Biasanya kami bersama teman-teman seperjuangan (teman segerombolan)  selalu ngetrip, entah itu ke pantai, air terjun, candi, dll., pokoknya kami wisata tipis-tipis. Tapi liburan kali ini teman-teman yang berdomisili di luar kota pada pulang kampung semua. Aku yang asli Surabaya belum ada rencana mau kemana.  

 

Temanku yang bernama Rudi, yang sama-sama tinggal di Surabaya (sama-suka suka ngetrip juga) tiba-tiba bertanya,"ries, gak ada rencana ngetrip? Teman-teman pada ngetrip semua tuh." Memang menurut pantauan saya dari instagram, teman-teman seperjuangan yang lagi pulang kampung sedang terpantau ngetrip dengan agendanya masing-masing.  Seolah tak mau kalah, aku pun spontan bilang ke Rudi kalau kami mendaki saja. Gayung bersambut, Rudi pun setuju.

 

Sehari sebelum keberangkatan, kami mematangkan rencana di salah satu warung dekat kampus tercinta.  Waktu itu aku mengajak temanku satu lagi yang bernama Rio, yang nantinya akan kami ajak mendaki juga. Kami sepakat mendaki bertiga (meskipun sebenarnya kami bertiga ragu-ragu). Kami akan mendaki Gunung Penanggungan via Jolotundo. Kami pilih jalur ini karena jalurnya melewati 5 candi sebelum sampai puncak. 

 

Sekedar info, kami bertiga belum pernah melewati jalur ini. Sementara pengalaman kami dalam pendakian sangat minim. Kami mencari info tentang jalur ini hanya melalui internet. Belum lagi alat-alat pendakian yang sangat terbatas. Bahkan kami tidak membawa tenda. Tapi dengan modal nekat akhirnya kami berangkat. 

 

Di pagi yang cerah itu kami bertiga berangkat dari Surabaya menuju Jolotundo dengan semangat yang membara. Bekal dan perlengkapan pendakian pun kami bawa seadanya. Yang terpikir di benak kami waktu itu : pokoknya ngetrip.. !!

 

Sekamir jam 9 pagi kami sampai di pos pendaftaran jolotundo, petugas mengatakan bahwa jalur ini ditutup karena rawan longsor, kami disarankan untuk lewat Tamiajeng (dari sini sebenarnya aku sudah berfirasat buruk). Kami agak enggan kembali ke Tamiajeng karena selain jaraknya yang agak jauh, kami ingin mendaki melewati jalur yang ada candinya.

 

Dengan perasaan agak kecewa, kami bertiga ngopi dulu di warung dekat pos pendaftaran. Penjaga warung yang juga menjadi petugas kebersihan tanya kepada kami," mau muncak mas? Saya antarkan lewat belakang mau? Tapi kasih buat beli rokok ya." Tanpa pikir panjang kami pun mengiyakan tawaran penjaga warung tersebut. Tapi sebenarnya aku agak kurang yakin juga, kalau mendaki lewat belakang berarti kami pendaki ilegal. Kalau ada apa-apa bagaimana?

 

Sekamir jam 10 pagi kami berangkat. Kami diantarkan melewati belakang warung untuk menghindari petugas di pos pendaftaran. Jalur yang kami lewati sangat miring, karena sebenarnya ini bukan jalur. Kami dituntun sampai benar-benar sampai ke jalur pendakian yang sebenarnya. Sampai di sini mas penjaga warung bilang," tak anter sampai sini ya, jalurnya sudah kelihatan, yang pernah lewat sini siapa?" Rudi dan Rio spontan menoleh ke arahku. Aku bilang kalau aku belum pernah lewat jalur ini. Mas penjaga warung kaget," lho belum pernah lewat sini? Ya sudah ikuti jalurnya saja, jalurnya nggak susah kok." Setelah salam tempel kami pun berpisah dengan mas penjaga warung. Kami pun melanjutkan perjalanan 

 

Di awal pendakian terasa berat. Entah jalurnya yang menanjak di awal atau kami yang kurang olahraga. Sepanjang perjalanan kami sering berhenti untuk sekedar minum atau makan snack. Sekitar 2 jam perjalanan dengan santai, sampailah kami di candi pertama yaitu Candi Bayi. 

 

Di bawah candi bayi ada tanah lapang yang bisa buat mendirikan beberapa tenda. Rio yang terlihat kelelahan langsung menidurkan badannya seolah-olah tidur diatas kasur. Rudi sibuk mengatur beberapa kamera yang sudah dipersiapkan dari rumah. Aku hanya sesekali foto dan mengamati keadaan sekitar, karena dari berangkat tidak bertemu satu orang pun naik atau turun. Membuat hati semakin ragu untuk melanjutkan pendakian. 

 

Setelah beristirahat cukup lama kami pun melanjutkan perjalanan. Dari candi bayi kami menuju ke candi kedua yaitu candi putri. Untuk menuju ke candi putri seharusnya kami menyeberangi jalur lahar / sungai purba. Tapi anehnya kami tidak menemui jalur di samping jalur lahar tersebut, hingga akhirnya kami naik mengikuti jalur lahar tersebut. 

 

Awal perjalanan di jalur lahar tidak ada yang aneh. Tapi semakin jauh kami mendaki melewati jalur lahar kami tidak menemui tanda-tanda kalau jalur ini pernah dilewati orang. Tidak ada bekas puntung rokok, botol minuman, ataupun snack. Kami semakin ragu dengan jalur ini. Aku dan Rudi sempat naik ke pinggiran jalur lahar yang rawan longsor untuk melihat sekitar, tapi tak terlihat jalur lain. Hanya pepohonan rapat. 

 

Kami bertiga tetap memaksakan naik melewati jalur lahar dengan harapan ada tempat datar untuk bermalam. Tapi semakin keatas jalur semakin menyempit di kanan kiri dan semakin menanjak. Hingga akhirnya kami sampai di tanjakan dengan kemiringan hampir 90 derajat yang penuh bebatuan. Kami menyerah dan balik arah. Kami sepakat untuk bermalam di candi bayi karena hari sudah hampir gelap. 

 

Kami turun menuju candi bayi dengan setengah berlari karena hari mulai gelap. Rudi di posisi paling depan dan agak jauh. Sementara aku ditengah menunggu Rio yang paling belakang. Akhirnya kami sampai candi bayi sesaat sebelum adzan maghrib. Kami sudah agak tenang tapi disinilah awal kejadian mistis dimulai. 

 

Di Candi Bayi kami menata jas hujan untuk alas karena kami tidak membawa tenda. Kami juga memasak mie instan sambil menikmati tenggelamnya matahari. Awalnya kami mau melanjutkan perjalanan turun, tapi kami urungkan karena kondisi sangat gelap dan tertutup kabut. Kami mulai menyiapkan tempat buat tidur, selain alas dari jas hujan, rio juga membawa selimut yang cukup buat kami bertiga. Tidak lama kemudian turun hujan rintik-rintik, tapi tak berlangsung lama. Tidak sampai membasahi kami bertiga. Sesekali kami ngobrol hal-hal yang tidak penting dan tak terasa aku tertidur. 

 

Rio yang tidur di sebelahku tiba-tiba membangunkanku dengan keras dan sedikit berteriak, "ries ada anjing." Aku kaget dan lamgsung bangun sambil mencari-cari anjing itu. Setengah tidak sadar karena bangun tidur aku pun juga kebingungan karena tak melihat sosok anjing satu pun. Tetapi suara anjing yang menggonggong ke kami bertiga seperti berjumlah puluhan. Rudi yang tidur di sebelah kananku juga bengong karena tidak melihat anjing dan hanya mendengar suaranya. Kami bertiga langsung kompak bersembunyi dibalik selimut sambil gemetaran. 

 

Setelah tidak mendengar suara anjing kami bertiga mulai bangun dan ngobrol. Waktu menunjukkan jam 12 lebih. Malam masih panjang. Untuk mengusir rasa takut kami bertiga ngobrol dan tidak ada yang tidur. Kira-kira jam 3 dinihari kami dikagetkan suara anjing menggonggong dengan keras sekali tepat di sebelah rudi. Kami menoleh ke arah kanan tapi tidak ada apa-apa. Lagi-lagi kami kompak bersembunyi dibawah selimut. Kami bertahan selimutan sampai terdengar suara adzan subuh. Kami pun lega karena sebentar lagi matahari terbit dan tak akan ada gangguan lagi. 

 

Setelah melihat matahari terbit dari balik gunung penanggungan kami gembira bukan main seperti menyambut hari raya. Kami sudah lelah melewati malam yang panjang penuh gangguan. Setelah kami berfoto kami pun memulai perjalanan turun di pagi hari

 

Setahun kemudian aku, Rio dan Rudi mencoba mendaki lagi melewati jalur yang sama. Tapi kali ini ditemani oleh Andre dan Odi yang lebih berpengalaman. Dan akhirnya sukses sampai puncak. Sesampai di warung kami sempat ngobrol dengan penjaga warung yang lain. Penjaga warung itu bilang kalau dari bawah sampai candi bayi itu ada penunggunya siluman anjing. Badannya manusia kepalanya anjing. Seketika langsung merinding dan teringat perjalanan setahun yang lalu. (tamat)

 

Pesan Moral : Selalu lakukan persiapan dan jangan terburu dengan rasa antusiasme berlebih. Dahulukan kata safety ketimbang evakuasi. Salam lestari.

 

 

Punya cerita misteri saat pendakian? atau memiliki tips/ilmu/pengetahuan soal pendakian? Punya kisah tentang seseorang yang menginspirasi? Memiliki referensi film atau acara televisi yang mungkin akan bermanfaat bagi orang lain, terutama para pejalan? Punya toko outdoor untuk dipublikasikan?  Memiliki kisah perjalanan ke suatu tempat wisata beserta tipsnya? Ada event seperti lari, panjat tebing, navigasi darat (kecuali open trip dan pendakian massal yah).

Punya info tersebut? Mau berbagi ke website kami?
Silahkan untuk mengirimkan materi tulisan ke redaksi kami > urbanhikersmagazine@gmail.com < 


Dimohon jika itu tulisan milik orang lain untuk tidak lupa mencantumkan sumbernya.

.

.

Bagi yang mau mendukung atau beriklan di website, silahkan hubungi

> Phone: (+62) 857-7792-0672 atau kirim email ke : urbanhikersmarketing@gmail.com <

 


Sumber : instagram @urban.hikers