Wed, Aug 15, 2018 1:00 AM

Diikuti Penunggu Gunung Merbabu via Suwanting

ilustrasi saja


#urbanmystery Narasumber : id instagram @sonypramana

 

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Mungkin saya menceritakan sebuah perjalanan panjang tetapi menjadi pembelajaran yang sangat berharga dan tidak semua orang mendapatkannya. Beberapa dari kalian setelah membacanya cukup mengambil positifnya saja, karena saya pun memberi informasi dari cerita ini secara gratis.

 

Kami merencanakan pendakian menuju Gunung Merbabu via suwanting. Dua bulan sebelumnya sudah merencanakan sedemikian rupa dan kami yang awalnya hanya empat orang menjadi sebelas orang yang terdiri dari Sembilan pria dan orang wanita, sebagai penjelasan sepasang cowo dan cewek (kini sudah mantanan) dari cianjur karena memang dari awal saya sudah mengajaknya untuk nanjak bareng lagi setelah pertemuan dari gunung sumbing hehe maaf diceritain gini.

 

Lanjut, jika sesuai planning berangkat naik bus pada pukul 13.00 siang menuju Magelang tetapi lima orang dari teman saya tidak bisa berangkat di jam tersebut dikarenakan terbentur jam kerja. Sehingga dia mencari bus keberangkatan malam dan berangkat pun diubah menjadi pukul 20.00 tetapi tujuan ke Yogyakarta, okelah nggak apa-apa yang penting nggak jauh dari sana. Di perjalanan kami semua masih bercanda dan ngobrol, sampai akhirnya terjebak macet total sampai kurang lebih 4-5 jam di daerah Karawang. Dan kami pun sampai di Yogyakarta pada pukul 14.30 wib, keren ya? Hehe.

 

30 menit kita habiskan untuk istirahat dan makan, lalu melanjutkan perjalanan ke desa suwanting dengan naik bus tapi hanya sampai pertigaan blabak, saat itu sudah pukul 18.00 wib. Lanjut lagi men-carter angkutan dan yang didapat angkot, kami sempat pesimis karena jumlah kami lumayan jika naik angkot. Tapi angkot tersebut memaksa untuk naik saja karena sudah tidak ada angkutan lagi, okelah kami naik.

 

Carrier diikat di atas dengan webbing. Di perjalanan menuju basecamp, angkot ini sepertinya sudah tidak kuat menanjak supir pun sampai banting stir ke kanan dan ke kiri karena memang beban kami sebagian berat namun supir tersebut tetap memaksakan sampai mesin pun seperti bau kepanasan. Dan tiba akhirnya di gang menuju basecamp pada pukul 20.00 wib, dia tidak berani melanjutkan menuju basecamp karena sudah menyadari kondisi mesin angkot tersebut. 24 jam di angkutan kami pun sudah lelah, dan bermalam di basecamp.

 

Sekarang menuju pendakian, diawali dengan doa bersama setelah mengisi daftar simaksi pada pukul 08.00. Lanjut ke perjalanan menuju pos 1, trek aspal berbatu yang agak menguras tenaga lalu satu jam kemudian sampai lah di gerbang menuju pos 1. Disuguhi pemandangan hutan pinus yang membuat pendakian sedikit melupakan lelah. Sampai pos 1 kami belum merasakan hal-hal aneh, sedikit foto-foto lalu melanjutkan perjalanan menuju pos 2. Diperjalanan teman saya merasa jempol kakinya kram karena sepatu yang dipakai kebesaran, dan kami membuat 2 tim agar tidak saling menunggu tetapi tetap menjaga jarak.

 

Sesampainya di pos 2 pada pukul 01.00 wib karena kami saling memback-up teman yang cedera. Kami mencari tempat untuk mendirikan tenda, sebagian dari kami termasuk saya membuka flysheet dan memasak untuk makan. Sebagian yang mencari tempat nge-camp tidak ingin turun dan meminta makanan tersebut untuk dibungkus saja buat makan nanti dia. Setelah makan beberapa dari kami yang masih di bawah pergi ke mereka yang sudah mendirikan tenda. Tersisa 4 orang termasuk saya yang masih di belakang untuk menemani teman saya yang cedera. Dan dia menemukan sebuah tas carrier dan baju yang dijemur, memang sebelumnya ditempat kami memasak ada rombongan yang ingin turun dan kami menunggu mereka pergi. Saya mengira tas tersebut tertinggal, tapi kami sudah disana selama kurang lebih 1 setengah jam namun tak ada satu pun yang datang si pemilik tas tersebut. Saya ditanya oleh teman saya, "ini ada carrier, bawa apa enggak?" Sebelumnya dia bertanya ke 2 teman saya, 2 jawab tidak 1 jawab ya. Namun saya menjawab, "gimana ya? terserah elu dah.. " Setelah saya menjawab, salah satu dari kami ada yang mengatakan, "coba deh dibuka, isinya ada apaan emang?.. " langsung dibuka oleh teman saya yang menemukan tas tersebut, dan isinya berupa jaket gunung 2, sleeping bag, dan beberapa logistik. Dan teman saya berinisiatif untuk membawanya, yang mungkin akan kami butuhkan nanti disana, saya sendiri hanya menyentuh satu barang yaitu tas tenda consina masih ada banderol seharga 780k. Demi menjaga keadaan, kami menempatkan barang tersebut di semak belukar. Dan sampailah kami bertemu dengan yang lainnya di Lembah Manding.

 

Sebelum berangkat, sempat teman saya ada yang cerita bahwa di lembah manding ini agak horor, namun kami memang benar benar lupa dan karena lelah diperjalanan. Tanpa berlama lama istirahat kami membangun 4 tenda yang dibagi 2 kelompok atas dan bawah dengan jarak hanya 3 meter. Saya berada di 2 tenda bawah, saat mendirikan tenda teman saya yang dari Cianjur ini mematahkan beberapa ranting karena merasa agak mencolok ke tenda takut sobek atau semacamnya. Gelap malam pun tiba, kami masih biasa saja ngobrol dengan selipan senda gurau agar letih kami tidak terlalu berasa didalam tenda. Sekitar pukul 20.00 wib di tenda bawah yang berisikan 5 orang, 3 teman saya keluar untuk menyapa tenda yang berdiri dibawah dekat jurang. Teman asal cianjur saya ini sudah tertidur, namun saya pindah ke tenda sebelahnya untuk membuat secangkir teh hangat. Saat saya menikmati teh hangat sendiri di tenda itu seperti merasa diperhatikan entah mengapa tapi saya masih berpikir positif saja.

 

Pukul 21.00 wib teman saya mengajak untuk tidur karena pagi nanti kami akan summit dan lintas ke jalur Selo. Di tenda atas salah satu wanita ini ingin memakan tim-tam (merk wafer coklat) dan itu adalah salah satu logistik dari tas tersebut. Waktu pun berlalu saat kami terlelap dalam letih, alarm berbunyi tepat pada pukul 03.00 wib saya dan teman saya membangunkan yang lainnya untuk prepare summit dan membongkar tenda. Bangun tidur biasanya haus, saya meminta air kepada yang lain ternyata semuanya habis dan mereka menyuruh saya mengambil air, saat saya meminta untuk ditemani kebawah, 2 tenda bawah ini tidak ada yang mau menemani saya lalu saya meminta 2 teman saya yang di atas untuk menemani. Setelah mengambil air, teman setenda saya ada yang menyiapkan peralatan untuk buang air besar, nggak taunya dia memang ingin langsung mencari tempat untuk membuangnya namun dia tidak memberi tahu kepada yang lainnya karena merasa malu untuk izin hal seperti itu kepada yang lain.

 

Tak lama kemudian, teman saya yang dari Cianjur ini ingin mengatakan sesuatu kepada kami yang 2 tenda bawah, karena kebetulan salah satu yang di tenda kami tidak tahu apa yang terjadi dan sedang buang air besar. Dia mengatakan, "sepertinya kita harus mengembalikan barang-barang tersebut.." kami pun bingung sambil bertanya, "kenapa..? " Dia menjawab, "gua kaya dimimpiin temen gua yang udah meninggal, pas gua mematahkan ranting untuk membangun tenda dia tersenyum sambil mengisyaratkan tangan seperti tidak boleh mematahkannya, gua juga dimimpiin ketemu cewek, dia masuk ke tenda lo berdua sambil membanting barang barangnya seperti marah."

 

Sontak setelah dia bercerita seperti ini saya langsung berkata "kalo mau ceritain beginian mending di basecamp aja dah, gua ngeri ngapa-ngapa doang, kalo udah begini gua pengen kita berangkat pas udah terang aja takut kenapa kenapa..." Perbincangan pun di tutup dan barang barang logistik pun dimasukan kedalam trashbag. Disini sudah pukul 05.00 teman saya yang dari Cianjur ingin dia sendiri yang meletakkan kembali ketempat asalnya. Saat dia kembali, teman saya yang cewek ini dari Cianjur marah-marah kecewa karena sudah jam segini masih prepare dengan berkata, "ini udah jam berapa? Jam segini masih disini!! " Setelah mendengar perkataan ini saya merasa dia sudah kecewa atas jadwal yang telah kami tentukan untuk summit. Saya pun meminta pasukan tenda yang atas untuk summit duluan, dan teman saya yang dari cianjur ini ingin duluan dengan yang atas karena dia ingin menjaga stabilitas tim.

 

Sebelumnya sudah ada sarapan yang dibuat oleh tenda atas tapi kami berempat tidak ada yang berniat untuk makan, lalu membuangnya ke dalam trashbag. Oke sekarang tinggal kami berempat yang summit belakangan, dengan membawa sisa logistik yang mungkin tenda atas lupa dibawa saat sarapan. Ada kecap botol yang tertinggal, oh mungkin ini bisa dipakai untuk pendaki lain yang membutuhkan maka dari itu teman saya meletakannya di bekas pohon patah. Di perjalanan menuju pos 3 kami berempat saling memback-up satu sama lain dan diikuti oleh seekor burung jalak. Salah satu dari kami ada yang membawa sampah di trashbag sisa makan dan sampah yang terkumpul sejak pendakian dan dia mulai merasakan agak sakit karena berat bawaannya. Saat dia mengatakan seperti itu, teman saya ada yang mengatakan, "kalo nggak kuat, taro aja di pinggir ntar juga dibawa ama yang opsih disini,” seketika saya merasa ini jangan sampai terjadi, "daripada ditinggal mending gua bawain aja sini trashbagnya. Setelah diikat di tas saya, saya ingin duluan karena bawaan saya sangat berat kalo diseimbangkan dengan yang cedera dan yang lain mungkin saya malah bisa menyusul cedera juga.

 

Sesampainya di pos air sebelum pos 3, saya istirahat tidak lama kemudian teman saya memanggil untuk meminta saya back-up yang cedera, dengan sigap saya pun turun lagi dan membawa tasnya. Setelah semua sudah sampai, kami beristirahat sejenak lalu melanjutkan perjalanan lagi. Dan terulang kembali, saya sampai duluan di pos 3, saya berinisiatif untuk menjemput kembali yang cedera lalu sampailah kami semua berempat dipos 3 pada pukul 12.30 wib.

 

Di pos 3, kami bertemu pendaki lain yang hendak turun. Kami berkenalan dengan 2 orang yang ternyata beliau adalah porter dari basecamp suwanting, kami meminta beberapa buah salak dan buah naga lalu meminta nomer teleponnya untuk saling bersilaturahmi apabila kami kesini lagi. Tak lama kemudian kabut tebal pun menyelimuti pos 3, kami mulai kelaparan. Teringat sarapan yang tadi pagi dimasukan kedalam trashbag, kami bongkar lagi dan diangetin lagi. Entah ini sampah ternikmat, nasi yang tadinya setengah mateng menjadi mateng sempurna. Setengah jam berlalu, situasi mulai kelabu dan perdebatan pun di mulai. Teman saya merasa yang kakinya cedera ini sudah tidak kuat lagi untuk melanjutkan perjalanan, tapi yang punggungnya cedera malah ingin melanjutkan. Lalu dia mengambil sikap untuk turun lagi lewat suwanting, lalu keputusan ada di saya. Di pikiran saya, ini yang 7 orang duluan gimana? Mereka nunggu kami berempat di puncak apa enggak? Di atas mereka terjebak badai apa engga? Semoga aja ga kenapa kenapa. Tapi ini teman saya yang cedera ga bisa melanjutkan perjalanan sepertinya, lalu saya pun mengatakan "oke kita turun lagi, walaupun sebenarnya ingin sekali ke puncak suwanting tapi keselamatan kita lebih penting dan semoga saja mereka yang duluan tidak terjadi apa apa dan selamat sampai basecamp selo. 

 

Jujur saya kalo naik kuat kuat saja Insya Allah, tapi kalo turun saya lebih baik tidak berurutan karena itu saya pilih lari saja untuk menghindari banyak berhenti berhenti saat turun yang selalu menahan kaki. Saya pun memilih jalan belakangan, sekiranya sudah agak jauh saya lari dan seterusnya sampai di lembah manding lagi. Dan kecap yang diletakan sebelumnya itu sudah tidak ada, entah itu dibawa oleh pendaki yang turun sebelumnya atau yang naik, tetapi selama saya turun dari pos 3 tidak ada satu pun pendaki yang naik dikarenakan sudah hari minggu. Saya melanjutkan perjalanan turun lagi dan kaki saya sudah agak merasakan sakit yang kiri. Setelah melewati gentong air yang kemaren tempat menyembunyikan barang tersebut, dibawahnya ada trash bag yang bersandar dengan gundukan tanah. Teman saya ngecheck apa isi trashbag tersebut, apakah itu yang tadi pagi teman saya tinggalkan yang berisi barang tersebut atau sampah pendaki lain? Setelah memeriksanya, kata dia seperti 2 trashbag yang disusun bolak balik dan terlihat isinya ada uang 5 ribu rupiah dan 4 bungkus kopi cappucino lalu saya bilang, "oh ada kopi yaudah bawa aja buat nanti kita ngopi berempat di bawah..", sesampainya di pos 2 saya sudah merasa tidak kuat membawa carrier dan trashbag, teman saya berinisiatif menukar tas dia yang agak ringan lalu melanjutkan perjalanan ke pos 1.

 

Sinar matahari pun semakin redup, dan waktu menunjukan pukul 17.40 wib, pada saat itu kami belum masuk ke hutan pos 1. Teman saya mengatakan, " jangan sampai kita ketemu magrib di hutan." Setelah mendengar perkataan ini kami pun meningkatkan kecepatan kami, lalu sampailah kami di dalam hutan. Beberapa menit menginjakkan kaki di hutan, terdengar suara adzan berkumandang. Pertama saya tetap melanjutkan perjalanan, lalu kedua kalinya terdengar lagi adzan dari sisi lain, dan ketiga kali baru teman saya mengatakan untuk berhenti karena adzan magrib lalu saya mengatakan "ini udah 3 kali gua denger adzan, kok dari tadi pada diem aja? Kalo gua mending lanjutin aja." Dalam hati saya merasa kalau sudah gelap di hutan saat magrib takutnya kita malah kenapa-kenapa. Dengan kaki yang sudah pincang saya tetap memaksakan untuk tidak berhenti, tetapi teman saya yang membawakan tas saya bilang break dulu dengan sigap saya bantah untuk tetap berjalan karena saya pun yang kakinya begini masih memaksakan. Saat melanjutkan lagi, entah seperti kami berempat diperhatikan di sekitar kami. Dan teman saya tersebut bertanya, " ini jalannya bener nggak? Kok jauh amat kayanya, perasaan naik nggak jauh begini?" sebenarnya jangan sampai kita berucap seperti itu karena akan menjadi sugest buat kita juga tapi saya balas " udah diem, ikutin gua aja." Dan akhirnya pintu masuk pos 1 terlihat dan ada beberapa motor yang menawarkan jasa ojek. 

 

Sesampainya di basecamp pada pukul 19.30 wib, teman saya memesan nasi goreng dan makan sepiring berempat. Lalu dia memesan air putih hangat, saya berinisiatif untuk menyeduh kopi yang tadi tapi ditolak karena dia lagi ingin minum air putih hangat. Tak lama kemudian setelah kami semua mandi, kami berempat bercerita tentang kejanggalan yang terjadi saat naik dan turun. Kami ulas semuanya saat pendakian dan pas turun saya menceritakan membawa kopi 4 bungkus. Salah satu teman saya ini bingung dan bertanya "kok lu tumben ngopi cappucino, biasanya kopi item ? " Nah dijelaskan bahwa kopi tersebut boleh nemu di trashbag. Teman saya yang lain bercerita tentang seniornya naik gunung 6 orang dia pernah menemukan 6 batang rokok dan 6 batang korek kayu disuatu gunung karena stok rokok pun habis mereka ingin membakarnya tapi dilarang oleh senior teman saya ini karena itu jebakan mahluk gaib. Seketika setelah mendengar cerita itu kami saling lempar lemparan kopi karena takut, soalnya jumlahnya sama untuk 4 orang. Tidak lama kami mencoba menghubungi 7 teman kami yang di selo dan kabarnya mereka sudah di perjalanan pulang lalu kami pun tidur di basecamp lagi.

 

Pagi harinya kami menuju perjalanan pulang dengan agak kere padahal uang cukup untuk sampai ke yogyakarta tqpi kami memilih jalan kaki dan nebeng mobil losbak. Tidak sampai pertigaan blabak, losbak tersebut meminta kami turun karena beda arah tujuan lalu kami melanjutkan lagi jalan kaki. Di kantong kaki ada uang 9 ribu, salah satu dari kami ada orang padang kebetulan ada warung nasi padang lalu menyuruh dia untuk membelinya lima ribu dan alhasil dapat sebungkus walau isinya hanya nasi 2 centong dengan kuah sayur, daun singkong dan sambal hijau entah ini kebersamaan yang luar biasa. Kami lanjut lagi perjalanan menuju yogyakarta.

 

Di terminal yogyakarta, kami berpisah 2 pulang dan 1 teman saya ikut dengan saya karena ingin bertamu dirumah kakak saya di boyolali. Nah teman yang saya ajak ini tidak tahu kejadian tas tersebut tapi hanya menduga saja dan memang ternyata dugaan dia memang benar karena kami membawanya. Dia sempat kesal namun saya redam. Di boyolali saya berdua tidak merasakan apapun kejanggalan, esoknya kita berdua beranjak ke Yogyakarta.

 

Sesampainya disana, saya merasa punggung sudah tidak kuat karena bawaan yang memang banyak, dia pun ingin menukar lagi seperti halnya di pos 2 Suwanting. Kita berdua sudah memesan tiket kreta berdua untuk pulang, namun di perjalanan teman saya ingin mengambil uang di atm bca sana bertanya kepada satpam dekat stasiun lempuyangan. Setelah bertanya, satpam tersebut berbalik tanya kepada teman saya, "mas sampean bawa ya? " Teman saya, "bawa apa ya mas? Saat ditanya begini saya berpikir maksud satpam ini kita bawa bunga edelweis kali ya? Lalu dibalas lagi dengan pertanyaan yang sama, saya berpikir lagi maksudnya apaan lagi? Bawa narkoba? Gara gara tas segede gaban begitu. Dan terakhir satpam tersebut bertanya, " sampean bawa dari rumah mas? Itu yang di atas kepala?" Seketika saya merinding disco, mungkin satpam tersebut bisa melihat mahluk ghaib atau gimana. Jawab teman saya," waduh mas kayanya ini bawaan dari gunung merbabu deh, yaudah saya lanjut lagi ke stasiun ya mas, terima kasih... " Langsung setelah menutup pembicaraan dia merinding. Lalu saya menyuruh dia untuk berjalan didepan saya, dan saya foto dia dari belakang dengan tas saya ada apa, saya bertanya kepada teman saya yang duluan kemarin pulang, langsung dia memberi tahu kepada seniornya apa yang terjadi kepada kita berdua, dia zoom apa yang saya foto dan benar ada beberapa lekukan dari tas yang membentuk sebuah tengkorak. Dan sampai lah kita berdua di stasiun, senior teman saya menyuruh beli sebotol air untuk dibacakan lalu diminum oleh kita berdua, dan membeli kopi pahit hitam untuk diletakan diantara tas kita berdua lalu meninggalkan kopi tersebut. Dan kita berdua pun naik kereta dan sampai dirumah masing- masing.

 

Sesampainya di rumah langsung beristirahat, namun saya masih halu dengan tas saya karena kejadian di yogyakarta. Teman saya yang wanita dari cianjur merasa kecewa atas pendakian di merbabu, sehingga kami bertiga di blok whatsapp (wa) dan instagramnya (IG) oleh dia. Hari pun berganti dan mendapat kabar bahwa teman saya yang menemukan tas tersebut adiknya bisa melihat dan merasakan mahluk ghaib. Adiknya saat teman saya sampai rumahnya, katanya melihat kakaknya itu membawa mayat dan sesosok perempuan disampingnya lalu mengusir kakaknya untuk jangan kerumahnya karena adiknya ketakutan. Malamnya kami berempat kumpul membicarakan kejadian saat di merbabu dan kejadian yang menimpa adiknya teman saya.

 

Teman saya ini menanyakan kepada temannya dia yang bisa melihat mahluk tersebut lalu mengirim foto saat kami berempat, dan ternyata dibalik kami berempat masih masing diikuti oleh sosok mahluk dari merbabu. Pertama, teman saya ada yang di ikuti oleh nenek-nenek yang mengira dia adalah anaknya karena mirip. Kedua, ada yang diikuti oleh tengkorak dan anak kecil. Akhirnya dia buka suara, dia saat membuang air besar ke sebuah rumput dan menginjak sesuatu seperti ranting patah dan ternyata itu adalah sisi kiri tengkorak tersebut yang tak terlihat dan dia buang air besar di tengkorak tersebut, dan anak kecil yang ikut suka dengannya karena mengira dia adalah om nya. Nah teman saya yang adiknya bisa melihat mahluk itu, katanya diikuti oleh sosok wanita pendaki yang dulu pernah wafat disana dan tas yang ditemukan adalah tasnya dia. Dan siapapun yang menemukan tas tersebut akan dibuat terlena dan tergiur untuk membukanya dan membawanya. Dan saya pun sama, diikuti oleh sosok cowok pemuda yang dulunya adalah leader team, katanya dia merasa suka dengan kepemimpinan saya saat di pendakian kemarin.

 

Beberapa hari berselang, adiknya teman saya kerasukan oleh penghuni yang merupakan rajanya disana, sebut saja mbah. Dia ingin kami semua meminta maaf atas apa yang telah kami perbuat. Pertama atas tas tersebut, kedua ranting yang dipatahkan saat mendirikan tenda, ketiga ada sepasang laki laki dan perempuan yang berpacaran di lembah manding. Teman saya ini langsung meminta maaf atas kejadian disana mewakili kami semua. Tapi dia tidak menerima, mereka ingin kami semua membersihkan tempat yang telah 2 orang sepasang itu lakukan disana, teman saya meminta cara lain untuk meminta maaf karena kesibukan masing-masing yang tidak bisa kami tinggalkan. Atau memilih memotong ayam cemani dan segelas kopi. Dan kami pun diberi 2 pilihan, berempat kami berunding apa yang harus kami lakukan. Dengan gaya bicaranya, mahluk tersebut sangat santun, tapi sedikit tersentak mungkin karena memang marah dengan kelakuan kami. Kami diberi waktu untuk meminta maaf, karena jarak dengan 2 teman kami yang di Cianjur itu jauh, saya menceritakannya via WA menjelaskan semuanya dan ingin mereka berdua pun meminta maaf terutama yang mematahkan ranting, karena ranting tersebut adalah bagian tubuh dari mahluk disana yang dihancurkan oleh teman saya. Saya pun ingin dia menceritakan kepada mantannya dia yang ikut bersama kami karena semua harus tahu apa yang telah terjadi. Hari demi hari terlewati, adik teman saya dan keluarganya ini makin drop karena ulah kami semua, dan ingin kami semua menyelesaikan permintaan ini. Sudah beberapa kali mahluk tersebut masuk kedalam tubuh adiknya teman saya, akhirnya kami dikumpulkan berempat langsung berinteraksi langsung dengan si mbah lembah manding ini. Beliau ingin permohonan maaf dari kami maunya dengan cara apa, kami masih pusing karena kesibukan kami dan tidak ingin memakai darah ayam cemani.

 

Sebulan setelah pendakian gunung merbabu, barulah kami bertemu dengan seniornya teman saya yang dia juga bisa membantu permasalahan kami dengan mahluk tersebut. Pada malam rabu, kami berkumlul dirumah teman saya yang adiknya merasa terganggu. Mencari jalan keluar gimana kalau ada perwakilan yang harus membersihkan tempat disana. Saya pernah berpikir untuk menghubungi pihak basecamp suwanting memberi tahu masalah ini tapi ditolak oleh beberapa teman saya. Dan pada akhirnya malam itu juga sayaa mencari kontak disana dan langsung menghubunginya. Pihak basecamp setelah kami ceritakan kejadian ini  dia bertanya, "ini naiknya kapan? Kalo udah sebulan mungkin kalian naik bareng dengan saya, saya menemani wanita dengan pakaian corak polkadot."

"Pas akhir bulan lalu mas tepat saat ada pendaki yang hilang dari selandia baru, saya berempat sampai pos 3 saja mas, sepertinya kita ketemu disana mas,” jawab saya.

"Oohh di pos 3 kalo siang nyampe pos 3 berarti ketemu saya berdua, saya kirim foto saya ya," setelah dia mengirim fotonya, ternyata dia orang yang saat kami meminta buah salak dan buah naga. Dan dia ingin membantu kami membersihkan tempat saat kami menemukan tas dan di lembah manding.

 

Esok harinya berkumpullah kami pada malam kamis, yang dihadiri oleh kami berempat yang turun lewat suwanting lagi dan 1 teman kami perempuan yang di kira si mbah melakukan hal yang tidak patut. Dengan pengakuannya saya pun percaya, dia tidak melakukan hal yang dikiranya audah kelewatan, mungkin saat malam ngobrol dia tidak sengaja saat bercanda kepalanya bersandar di bahu teman saya dan merasa si mbah ini terganggu oleh pasangan yang bukan muhrim. Kami 6 orang yang mendaki gunung merbabu kumpul di kamar. Tidak lama adik teman saya kerasukan oleh si mbah, beliau menagih janji permohonan maaf kami. Lalu senior kami ini meminta dengan sangat halus dan hormat kepada si mbah ini untuk memaafkan kami semua yang 11 orang ini atas perlakuan kami jika itu merupakan kesalahan. Kami tidak bisa memilih jalan memotong ayam cemani. Dan si mbah membalas, "oke, saya akan memaafkan kalian semua asal kalian meminta maaf dengan tulus dari hati kalian dan sampaikan kepada teman kalian yang tidak hadir disini. "

"Baik mbah, kami benar benar meminta maaf dan akan kami sampaikan kepada yang lainnya," balas senior teman saya itu. Dan sebenarnya, semua mahluk di gunung merbabu ada di satu ruangan ini. Lalu si mbah bertanya kepada yang lainnya, dan akhirnya permohonan maaf kami diterima. Dan setelah kejadian ini, kami semua yang hadir saat itu yang tadinya seperti kapok dan takut untuk kesana lagi malah merasa seperti ingin sekali membersihkan jalur suwanting dan mungkin itu bukan sekarang bisa jadi tahun depan apabila masih memiliki umur.

 

Pesan moral : 

Mungkin kami sudah lelah duluan di perjalanan menuju basecamp pendakian, sehingga kami pun lupa untuk bertata krama dan mengucap salam. Apalagi pos lembah manding yang katanya memang terkenal angker tapi saya pun sampai lupa padahal sudah diberitahu oleh teman saya. Alam punya aturan tersendiri, kita bersebelahan dengan mahluk ghaib. Jaga sikap dan omongan. Memang benar, jangan mengambil apapun selain gambar. Dan tetaplah berdo'a supaya tuhan-mu menjagamu selama pendakian, dan pulang bersama teman kalian. Ambil positifnya dari kisah ini, dan negatifnya sebagai modal pembelajaran supaya tidak lagi terjadi yang seperti ini. Sebelumnya saya tidak ingin menceritakan kisah ini, tetapi saya ingin yang membaca ini tidak dirasakan oleh orang lain. Mohon maaf juga atas kebodohan kami. Dan ini hanya 3/4 dari cerita semuanya, karena ada privasi yang tidak bisa dijelaskan berikut dengan nama teman-teman saya, cukup saya saja jika pembaca ingin menilai kami. Entah percaya atau tidak, tapi saya benar benar mengalaminya. Terima kasih banyak kepada admin @urban.hikers yang berkenan menerima kisah kami, semoga ini menjadi ilmu yang bermanfaat bagi yang lain, dan maaf jika penulisannya kurang rapi. (tamat)

 

 

 

Punya cerita misteri saat pendakian? atau memiliki tips/ilmu/pengetahuan soal pendakian? Punya kisah tentang seseorang yang menginspirasi? Memiliki referensi film atau acara televisi yang mungkin akan bermanfaat bagi orang lain, terutama para pejalan? Punya toko outdoor untuk dipublikasikan?  Memiliki kisah perjalanan ke suatu tempat wisata beserta tipsnya? Ada event seperti lari, panjat tebing, navigasi darat (kecuali open trip dan pendakian massal yah).

Punya info tersebut? Mau berbagi ke website kami?
Silahkan untuk mengirimkan materi tulisan ke redaksi kami > urbanhikersmagazine@gmail.com < 


Dimohon jika itu tulisan milik orang lain untuk tidak lupa mencantumkan sumbernya.

.

.

Bagi yang mau mendukung atau beriklan di website, silahkan hubungi

> Phone: (+62) 857-7792-0672 atau kirim email ke : urbanhikersmarketing@gmail.com <

 

Sumber : instagram @urban.hikers