Wed, Oct 24, 2018 2:12 AM

Saat Turun Dari Mahameru

dok.unknown


#mountpedia Blank 75? Apa tuh sob? Well bagi beberapa pendaki, istilah itu mungkin sudah tidak asing lagi. Singkatnya, Blank 75 dikenal sebagai zona tengkorak dalam jalur pendakian di gunung Semeru. Kenapa? Karena Blank 75 merupakan titik dimana sering terjadi musibah dalam pendakian di gunung Semeru.

Musibah yang bahkan sudah merenggut banyak nyawa. Tak heran, Blank 75 juga dikenal sebagai zona kematian di gunung Semeru.

Blank 75 sendiri merupakan sebuah jurang yang sangat dalam. Dinamakan 75 karena dalamnya mencapai 75 meter. Sementara menurut situs AMC Malang, blank 75 merupakan seluruh area turun antara lereng pasir Mahameru (Plawangan/Kelik, Arcopodo dan sekitarnya) sampai ke Kalimati atau area vegetasi.

Jalur di titik tersebut merupakan daerah yang harus diantisipasi bagi pendaki. Jika tidak, malapetakalah yang akan dihadapi. Sudah seringkali Blank 75 memakan korban, terutama saat pendaki sedang melakukan perjalanan turun dari puncak gunung Semeru.

Menurut mantan Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Ayu Dewi Utari gawatnya adalah bahwa Blank 75 merupakan jalur yang akan dilewati pendaki baik ketika naik maupun turun. Blank 75 memiliki keistimewaan tersendiri, karena di jalur itu ada dua arah yang bisa dilewati, “ada arah ke kanan dan ke kiri. Pendaki harus tepat dalam memilihnya,” ujar Ayu sebagaimana dikutip dari detik.com.

Dua pilihan itu sangat menentukan karena jika memilih arah jalur ke kanan pendaki akan menemukan jalur jalan yang landai dan pastinya nyaman untuk dilewati. Sebaliknya,jika memilih jalur ke kiri, pendaki akan menemukan jalan terjal dan sempit.

Meskipun demikian, justru jalur belok ke kanan yang landai itu seringkali memakan korban. Dikarenakan di jalur tersebut kedua sisi jalan setapak adalah jurang dengan kedalaman diatas 10 meter. “Berbeda dengan belok ke kiri, meski jalannya terjal. Namun itu adalah jalur yang benar menuju pos bawah,” beber Ayu.

Pendaki harus waspada saat turun dari puncak karena penuh dengan jalur jebakan yang membuat pendaki rawan mengalami disorientasi arah. Ayu pun hanya bisa mengimbau, bagi pendaki agar tetap waspada ketika melakukan pendakian. Keselamatan sangat penting, meski nyali berani dimiliki, “dari pada ada masalah,” tutupnya.

 

Nah berikut ada beberapa tips untuk persiapan kalian mendaki gunung semeru. Pertama pahami dulu beberapa nama berikut :
1.KELIK = merupakan nama batas vegetasi (pertemuan antara hutan dengan lautan pasir di gunung Semeru) yang diambil dari nama seorang pendaki yang mengalami musibah disana. Di tempat lain umumnya dikenal sebagai PLAWANGAN, namun banyak juga yang menyebutnya dengan nama itu (plawangan) biar lebih mudah diingat.

2. Sejak tahun 2014, selain melewati Arcopodo, ada jalur baru menuju puncak,yaitu melalui jalan dekat pos rusak dekat Kalimati. Kalian tinggal berjalan lurus saja searah dengan pos rusak yang berada di Kalimati. Jalur ini kabarnya memang merupakan jalur lama yang biasa digunakan untuk evakuasi.

3.Diharapkan bersabar ketika naik ke puncak, karena ada beberapa jalan sebelum Kelik yang kecil dan cuma bisa dilalui oleh satu orang. Tak heran jika musim pendakian tiba, di jalur ini umum terjadi kemacetan.

4.Saat turun dari puncak gunung Semeru, pendaki sangat diharapkan untuk FOKUS dan jangan terlalu terburu-buru. Kebanyakan korban masuk ke Blank 75 karena tidak sengaja berbelok arah ke kanan akibat lari dari atas dan masuk ke dalam zona tersebut. Perhatikan jalur yang dilewati dan menjelang kelik, jangan mengambil jalur terlalu ke kanan, sebab blank 75 adalah akumulasi kesalahan pendaki dari salahnya memilih jalur ketika turun.

 

Lalu yang kedua sudah pasti persiapan peralatan tempur kalian. Jaket gunung, celana panjang, kaos kaki, sepatu gunung, buff/slayer/selendang/kupluk, headlamp sarung tangan. Penggunaan trekking pole dan gaiter juga sangat dianjurkan, mengingat dalamnya trek pasir yang akan lewati. Ada istilah, “mendaki ke puncak semeru itu maju selangkah turun 3 langkah.” Ya karena pasir itu. Yang perlu diperhatikan adalah melindungi jari tangan, telinga, hidung, jari kaki karena dingin rentan menyusup tubuh dari area tubuh kita tersebut.

 

Umumnya summit gunung Semeru dilakukan dari dinihari (bahkan ada yang memulainya dari jam 21.00 - 22.00 wib). Semua dilakukan dengan pertimbangan jarak tempuh, beratnya medan dan kepadatan yang akan terjadi jalur. Dan ingat yah, ada batas waktu aman di puncak gunung Semeru karena pertimbangan gas beracun yang keluar dari kawah Jonggring Saloko. Bagi mimin batas aman itu adalah jam 09.00, lewat dari itu saya nggak berani.

 

Untuk air + logistik usahakan bawa masing-masing, jangan bergantung dengan orang lain. Jika bisa bawa tas/daypack ukuran kecil (seperti ukuran tas pesepeda), tas itu kalian taruh dalam packingan kalian dan khususkan dipakai pada saat summit atau darurat. Fungsinya? membawa logistik + air + kamera dll saat summit. Keberadaan tas punggung jauh lebih nyaman ketimbang kalian mengenakan tas selempang. Jika kalian malas untuk membawa tas punggung, carrier juga bisa masuk pertimbangan untuk digunakan saat summit.

Lalu bagaimana min memperhatikan jalur turun agar kita tak tersesat? Nah berikut mincan ada tips mudahnya :
1.Perhatikan bekas jejak kaki di pasir
2.Sebagai tanda alamnya kalian bisa perhatikan pepohonan yang berada di kelik
3.Bisa juga memperhatikan gunung Kepolo yang sangat terlihat di depan mata ketika turun. Itu bisa kalian jadikan sebagai kompas alam.

4. Sejak 2015, pihak taman nasional dan relawan juga sudah memasang sebuah kain di pohon terakhir yang ada di batas vegetasi. Hal itu dapat pula kalian jadikan patokan.

5.Selalu usahakan untuk selalu jalan berdampingan. Akan lebih bagus jika dengan teman seperjalanan, namun jika dengan orang lain juga tidak masalah. Selama bisa saling menjaga.

Berikut adalah beberapa kesalahan terbesar pendaki ketika turun dari puncak gunung Semeru :
1.Terlalu Terburu-buru
2.Berjalan Sendirian
3.Kurang Fokus


Sebenarnya, ada 1 jawaban simple kenapa kita terkadang kurang fokus ketika turun dari puncak. Jawabannya karena tampilan visual yang kita lihat. Ketika naik, pandangan kita hanya tertuju pada 1, Puncak. Sedangkan ketika turun, pandangan kita menyasar ke segala arah, hingga membuat kita lupa dan kurang fokus dengan 1 jalan turun.

“Bisa melihat lebih luas bukanlah sebuah jaminan akan keselamatan.”

Sekali lagi, yang terpenting dari itu semua adalah sikap, kerjasama tim, ego dan fokus.
Tahu batas diri dan Tidak memaksakan diri, gunakan logika bukan hasrat semata adalah jalan terbaik. Ingat sob, “Puncak itu hanya salah satu dari banyak tujuan dalam hidup namun nyawa bukanlah alat taruhan.”

Dahulukan SAFETY HIKE bukan SELFIE HIKE. Salam lestari.


Sumber : instagram @urban.hikers