Wed, Nov 14, 2018 5:00 AM

Orang Indonesia Pertama Yang Mencapai Puncak Carstensz

dok. merdeka.com


#inspirasimereka Sumber : Merdeka.com

Reporter : Faiq Hidayat

 

Meski telah ditemukan sejak lama, namun puncak Carstensz bukanlah sesuatu yang mudah untuk dicapai. Sampai pada tahun 1962, lebih tepatnya 3 abad setelahnya, sebuah tim ekspedisi yang dipimpin oleh pendaki gunung Austria bernama Heinrich Harrer (Austria) berhasil melakukannya.
Pencapaian itu pun mengusik hati presiden Indonesia saat itu yaitu presiden Soekarno, yang kemudian membentuk sebuah tim setahun sesudahnya dan menugaskan mereka untuk satu tujuan, mengibarkan bendera merah putih di puncak tertinggi di Indonesia.

 

Sugirin prajurit Komando Pasukan Khusus mendapatkan perintah dari presiden Soekarno untuk mengibarkan bendera putih di puncak Irian Jaya. Sugirin yang bersama tim pendaki berhasil menancapkan merah putih di atas puncak tersebut. Padahal Puncak Jaya berdiri menjulang dengan ketinggian 4884 meter di atas permukaan laut. Dulu puncak ini tak pernah bisa didaki.

Tahun 1964, para prajurit Kopassus lah yang pertama kali mengibarkan merah putih di puncak tertinggi tersebut. Misi ini diperintahkan langsung oleh Presiden Soekarno. Letkol (Purn) Sugirin menceritakan, tim pendaki puncak Soekarno berjumlah 56 orang yang merupakan gabungan dari tim ilmiah dan tim ekspedisi Jepang. Namun dalam perjalanannya, hanya tim Kopassus yang bisa bertahan sampai puncak.


"Saya waktu mau berangkat tidak mempunyai perkiraan ada pikiran apa-apa karena sedang berlatih di Yugoslavia. Saat itu pelatihan combat free fall, ada berita dari Indonesia pada dubes kita di sana. Saya waktu itu juga lagi milad yang ada pak Yugo Sudomo diperintahkan oleh komandan, ini tiga orang yang latihan harus segera pulang karena ada tugas khusus tapi tidak disebutkan tugas apa dan sebagainya," kata Sugirin saat berbincang dengan merdeka.com di Rumahnya, Cimanggis, Kamis (23/4).

Setelah mendapatkan perintah, Sugirin yang saat itu bepangkat Peltu (Pembantu Letnan Satu) langsung menuju bandara di Yugoslavia. Kemudian sesampainya di Indonesia di jemput oleh Jenderal Ahmad Yani. 

"Saya atas perintah presiden untuk menjemput menyampaikan perintah penting, kamu (Sugirin) tidak usah menghadap, nanti saya sampaikan mungkin besok atau lusa ada perintah akan datang ke rumah. Sekarang dari sini tak usah menghadap langsung saja ke Bandung," kata Ahmad Yani kepada Sugirin. Saat itu, Sugirin yang masih prajurit bawahan merasa bingung dengan perintah yang disampaikan oleh Jenderal Ahmad Yani. Sugirin lalu mendapatkan amplop berwarna merah dari Presiden Soekarno yang diantarkan oleh Kolonel Sarwoyo.
"Isi suratnya besok pagi harus menghadap ke Jakarta pada tanggal 12 Desember tahun 1963. Terus penerimaan bendera tanggal 11 Desember 1963," ceritanya.

Apa perintah khusus Soekarno tersebut?
"Ini tugas pokok yang harus dilaksanakan dan harus berhasil. Kemudian Pak Karno pegang pundak saya bilang tugas kamu sebagai misi Indonesia, saya tugaskan untuk kibarkan merah putih di puncak tertinggi Irian Jaya, hasil tidaknya tugas ini terletak pada pundakmu. Sudah saya doakan denganku kamu sampai dan harus," kenangnya.

Sugirin prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) mendapatkan perintah presiden Soekarno, untuk mengibarkan bendera merah putih di Puncak Jaya Wijaya. Tim pendaki Kopassus pun langsung terbang menuju Nabire, Papua dengan menaiki pesawat Cessena.


Kemudian, Sugirin bersama tim pendaki langsung menuju puncak tersebut dengan menaiki pesawat Cessena yang mendarat di Nabire, Papua. Selanjutnya berjalan kaki menuju Kumopa untuk menginap di dalam tenda selama tiga hari.

Letkol (Purn) Sugirin mempunyai kesan cerita unik saat mendaki puncak gunung Cartenz itu pada tahun 1964. Sugirin yang kala itu masih berpangkat Peltu mendampingi Letnan Soedarto dihampiri anak ke-tiganya bernama Untung di dalam mimpi tidurnya.
Untung merupakan anak Sugirin yang ke-tiga dari tujuh bersaudara. Ketika itu, Untung masih berusia lima tahun.

"Saya mendapatkan jalan dari anak saya sendiri karena sudah satu minggu mencari jalan untuk naik susah," kata Sugirin saat berbincang dengan merdeka.com, Kamis (24/4/2015). 
Saat tengah malam, pria kelahiran Yogyakarta ini memasuki tendanya untuk berdoa dengan kondisi badan ditutup kantong tidur. Tiba-tiba, dia mendengarkan suara anaknya Untung berada di samping.

"Waktu itu tenda gelap banget, saya meraba-raba sekiling nggak ada apa-apa. Tapi Untung kayak duduk di pangkuan saya sambil bilang masih sanggup jalan menuju puncak atas," katanya.
Mendengar suara tersebut, Sugirin merasa bingung dengan anaknya. "Untung bilang sama saya kalau masih sanggup saya antarkan jalannya ke sana (Puncak Cartenz). Untung pun minta ketegasan saya masih sanggup atau tidak," kenangnya.

"Kalau bapak sanggup jam 3 pagi meninggalkan tenda menuju jalan yang Untung tunjukan tadi. Harus tepat waktu tidak boleh meleset, nanti saya antarkan. Jalannya 2 jam lebih untuk bisa menuju puncak, kalau tidak sanggup bapak bisa istirahat di batu besar. Waktu itu ada 2 pemuda tubuh besar serba putih katanya ini yang kuasa hutan ini. Keduanya membawa kertas putih isinya pakaian. Saya berdiri didepannya ini kamu pakai kalau mau keatas jangan sampai jatuh," tambahnya mengenang mimpi itu.

 

"Waktu naik ke puncak semua tak kuat karena cuaca dan kondisi jalan. Namun hanya saya yang tersisa kuat menuju kesana. Sampai disana saya langsung menancapkan bendera merah putih. Padahal orang Papua dulu bilangnya puncak Ngga Pulu," ujarnya.


Tepatnya pukul 03.00 WIT, Sugirin pun langsung bergegas menuju puncak tersebut seorang diri tanpa tim pendaki. Hal itu karena mereka mengalami kelelahan yang sudah menempuh ke atas puncak dengan berjalan kaki selama empat bulan. 

"Saya menghadap pak Darto, dia bilang jangan memaksakan, pentingkan keselamatanmu," ucapnya.

Namun, Sugirin tak menghiraukan perintah Komandan Letnan Soedarto dan langsung menuju ke puncak atas tersebut. Dia tak ingin melupakan pesan anaknya Untung yang harus berangkat jam tiga pagi.

"Saya akhirnya berangkat sendiri ke atas. Sampai tengah saya bangun tenda, mereka (tim pendaki) baru menyusul. Bahkan orang di sana juga menyusul," tuturnya. Kemudian, Sugirin dan tim pendaki lain berhasil mencapai atas puncak dengan mengibarkan bendera merah putih. Tak lupa, upacara bendera merah putih dan lagu Indonesia Raya berkumandang di Puncak Soekarno. Momen itu selalu dikenang oleh Sugirin dengan membuat catatan harian berjudul ekspedisi puncak Soekarno. Catatan itu selalu dibawa Sugirin kemanapun ia pergi dan singgah. 


Setelah berhasil mendaki puncak tersebut, dia mengatakan seluruh tim disambut oleh presiden Soekarno. Soekarno memberikan bintang jasa kelas satu karena berhasil menancapkan bendera merah putih di puncak tersebut.

"Maka setelah berhasil itu 156 orang salaman berurutan, semuanya bagitu datang Soekarno pegang kepala saya, saya kira mau mukul dia pegang kumis saya, itu kumis asli apa dari gunung. Kepala saya di kecup kepalanya," tutupnya.

Sugirin tak bisa melupakan momen itu seumur hidupnya. Sebuah kebanggaan bisa melaksanakan perintah presiden Soekarno dan mengibarkan merah putih di puncak tertinggi Irian. Puncak inilah yang kemudian dinamakan Puncak Soekarno. (end)

 

 

 

Catatan : Pada tahun 1963, puncak ini berganti nama menjadi Puncak Soekarno, setelah itu kemudian diganti lagi menjadi Puncak Jaya. Namun nama yang paling umum digunakan di seluruh dunia adalah Piramida Carstensz. Ketiga nama tersebut pada intinya sama, puncak gunung tertinggi di Indonesia.


Sumber : instagram @urban.hikers