Thu, Feb 22, 2018 11:37 AM

Tuan Guru


#inspirasimereka Sang Guru Penghijauan Kaki Gunung Rinjani:

.
Mendapat banyak penghargaan dari dalam dan luar negeri. Terakhir anugerah Kalpataru Kategori Pembina Lingkungan dari Presiden Indonesia pada peringatan Hari Lingkungan Hidup 2016.

Menghijaukan ratusan ribu hektar tanah di pulau Lombok, wajib memiliki 1 juta bibit tumbuhan setiap tahun, membagikan bibit pohon secara gratis, mengajarkan muridnya untuk peduli terhadap lingkungan dari sekedar menjaga kebersihan bahkan wajib menanam dan merawat pohon tersebut, peduli terhadap kesetaraan gender, - bahkan ia mengatakan dalam satu wawancara “Jangan heran jika di sini ada santriwati yang nyopir traktor atau merakit software komputer dalam tempo sekitar 15 menit” - , mengelola sampah, mengajak masyarakat untuk peduli terhadap hutan, menjaga hutan tersebut hingga yang terbaik dari pria ini adalah ia menjadi contoh nyata, dari apa yang dilakukannya.

Pulau Lombok pun Indonesia bangga memilikinya. Kami pun tak ragu memilihnya sebagai “Tokoh Penghijauan” tahun 2016 versi #edelweisaward

Pria ini bernama Hasanain Juaini. Hasanain Juaini lahir di Narmada Lombok Bara, Kota Narmada, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, 17 Agustus 1964. Ia biasa dipanggil Tuan Guru, dan merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Haramain, Kota Narmada, Lombok Barat, #NTB.

Atas segala yang ia lakukan ia pun mendapat penghargaan Ramon Magsaysay Award (Nobel versi Asia) tahun 2011 karena kiprahnya yang luar biasa dalam bidang pembangunan pesantren peduli lingkungan, pemberdayaan perempuan dan toleransi antar umat beragama. (FYI orang Indonesia lain yg meraih pengharagaan ini K.H. Abdurrahman Wahid, Ali Sadikin, Ahmad Syafii Maarif, Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, KPK)

 

 

Konsep pesantren yang dikelolanya memang sangat dikenal ramah lingkungan, bagaimana tidak selain penanaman pohon dan perawatannya, beliau juga memasukkan kurikulum pengelolaan sampah. Benar-benar meneladani kalimat “kebersihan sebagian daripada iman.”

”Saya tak melakukan apa-apa, hanya menjalankan hobi. Puluhan tahun saya melakukan apa yang diperlukan umat karena memang senang mengerjakannya,” katanya. Hasanain menambahkan, ”Saya cepat terinspirasi pada apa yang saya lihat dan pikirkan. Kalau tak dikerjakan, saya merasa tersiksa, terbebani, dan tidak bisa tidur,” ujarnya dalam wawancara kepada kompas.com
.
Video adalah hasil wawancara di acara Televisi “Lentera Indonesia” di saluran Net TV


Sumber : instagram @urban.hikers