Wed, Sep 19, 2018 1:42 PM

Sang Pejuang Kekayaan Arsitektur Negara

dok. Yori Antar


#inspirasimereka Saat orang-orang berlomba-lomba untuk berwisata ke Wae Rebo, sekedar berwisata atau menikmati keindahan panorama dan budayanya. Ada seseorang yang ketika berkunjung kesana justru prihatin dengan keadaan bangunan disana. Nalurinya sebagai seorang arsitek seolah memanggil jiwanya untuk berbuat sesuatu. Tak lama, ia mendirikan Rumah Asuh dan menggerakkan kepedulian untuk memperbaiki bangunan disana.
.
Pria ini bernama Yori Antar. Nama lengkap arsitek ini adalah Gregorius Antar Awal. Beliau lahir tanggal 14 Mei 1962. Lulus dari Teknik Arsitektur UI pada tahun 1988.
.
Apa itu Wae Rebo?
well bagi yang awam, Wae Rebo adalah nama dari kampung adat yang berada di pedalaman Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Untuk bisa mencapai ke desa ini, anda harus berjalan kaki sejauh kurang lebih sembilan kilometer. Medan yang dilalui pun tidak mudah.

 

Jalan setapak yang mendaki, diselingi tebing curam di kiri kanan jalan. Secara geografis, Wae Rebo ini terletak pada ketinggian 1.200 m dpl (meter di atas permukaan laut). Wae Rebo merupakan bagian dari Desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, NTT. Desa ini sendiri menurut berbagai informasi telah berdiri lebih dari 1000 tahun. Berdasarkan jumlah keturunan, Wae Rebo telah mencapai delapan belas generasi.

 

Di Wae Rebo, hanya terdapat 7 rumah adat, yang oleh warga bangunan itu disebut “Mbaru Niang.”

 

Bangunan berbentuk kerucut dengan tinggi sekitar lima belas meter yang terbuat dari kayu dan beratap rumbia. Nah keberadaan Wae Rebo, ketika itu sempat terancam ketika rumah-rumah adat yang ada mulai roboh satu per satu karena faktor dimakan usia.
.
Sekedar catatan saja, hingga akhir tahun 2008, Wae Rebo memang belum banyak dikenal orang, terutama oleh orang Indonesia itu sendiri. Bahkan sebagian besar warga Manggarai itu sendiri.

 

Bisa dibilang, Wae Rebo lebih dulu dikenal oleh orang asing. Saat itu keberadaan kampung mini yang menyimpan kekayaan budaya Nusantara, terutama arsitektur bangunannya, tersebut masih seperti legenda. Antara ada dan tiada.
.
Saat pertama kunjungan kesana, mas Yori merasa prihatin karena kondisi rumah tinggal masyarakat Wae Rebo ketika itu tinggal tersisa empat rumah. Itu pun dua di antaranya sudah rusak cukup parah. Tiga lainnya bahkan sudah hilang karena rusak pula. ”Dari situlah kemudian lahir rumah asuh, semacam gerakan untuk melestarikan rumah-rumah adat, dan semuanya berawal dari Wae Rebo,” ujarnya. 

.

Semua mata dengan pandangan berbinar mengarah pada pemandangan siluet sosok kampung adat Wae Rebo dari kejauhan yang diselimuti kabut. Tanpa ada yang komando, semua orang dalam rombongan itu berteriak girang sambil bertepuk tangan. ”Rasa capek karena berjalan kaki, jalan dengkul, hingga ngesot pakai pantat langsung hilang. Semua terhapus saat sosok Wae Rebo seperti yang kami lihat di foto ternyata benar-benar kami temui,” ungkap Yori.
.
Momen tersebut hingga hari ini masih begitu melekat dalam memorinya.”Saat itu kami tercatat sebagai orang Indonesia pertama, selain tentu warga Wae Rebo, yang sampai di sana,” kata Yori.
.
Sekembali ke Jakarta, bayangan Wae Rebo terus berkelebat dalam benaknya. Namun ada perasaan resah yang terus menghinggapi batinnya.Terutama kesadaran tentang Wae Rebo yang berada di ujung kepunahan. ”Ibarat seorang dokter, saya telah menemukan penyakit. Pikiran saya, kalau tidak saya obati, sama saja saya telah melakukan dosa profesi,” ungkapnya.
.
Ia pun bertekad untuk memperbaiki kampung adat Wae Rebo.
.
Pendekatan yang dipilih ketika itu mengupayakan pelestarian rumah di Wae Rebo adalah bottom-up. Yori bertanya terlebih dulu kepada masyarakat Wae Rebo tentang ada tidaknya keinginan untuk melestarikan rumah tinggal mereka. Dan jawaban yang didapat adalah sangat mau.
.
Pada kesempatan itu pula diperoleh fakta bahwa mereka tidak melakukan perbaikan selama ini karena tak punya dana. Bagaimana tidak, hutan adat di sekitar mereka sudah menjadi hutan negara. Tentu pohon-pohon disana tidak boleh ditebang.
.
Dari situlah Yori lalu melakukan pendekatan ke sejumlah pihak agar bersedia menjadi donatur. Setelah dana terkumpul, pembangunan bisa segera dimulai. Masyarakat Wae Rebo dilibatkan secara aktif dalam pembangunan kembali Mbaru Niang di sana. ”Sulit sekali saat kali pertama. Sebab, masyarakat sendiri memang sudah lama tidak memperbaiki rumah itu.”
.
Upayanya meraih penghargaan Award of Excellence melalui UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation.

 

Sebuah penghargaan tertinggi dalam bidang konservasi warisan budaya. Wae Rebo mengalahkan pesaing-pesaing dari seluruh dunia yang tak kalah berkualitas.
.
Nama Wae Rebo pun kemudian menasional setelah sebelumnya menginternasional. (end)

.

.

Sumber Tulisan : 
-http://www.republika.co.id/berita/koran/rana-koran/16/05/13/o743w220-kampung-di-atas-awan-wae-rebo
-http://arch-diarymoo.blogspot.co.id/2014/03/v-behaviorurldefaultvmlo.html
-http://www2.jawapos.com/baca/artikel/18145/gerakan-penyelamatan-berawal-dari-wae-rebo
-http://travel.detik.com/read/2016/05/24/192423/3216906/1382/yang-berbahaya-di-puncak-dunia


Sumber : instagram @urban.hikers