Sun, Jan 20, 2019 4:05 PM

Mengenang 12 Tahun Kepergian Nurdiyanto Dalam Dekapan Ceremai

Photo Dok. Jajang Nursamsi


Ditulis oleh : Alpath Fajar Hidayat (@alpathh)

Salam Lestari!

Sebelum ke cerita izinkan saya memperkenalkan diri, saya pendaki asal Indramayu yang baru giat-giatnya mendaki tahun 2015, sebelum saya naik ke gunung saya termasuk orang yang haus akan informasi, tentang jalur, sumber air, sejarah, legenda, mitos-mitos, maupun kejadian apapun di gunung tersebut. Awal tahun 2016 saya tidak sengaja membaca berita tentang kematian yg dialami pendaki dari kota saya di Gunung Ceremai. Saya pun penasaran tentang detail cerita itu, siapa, kapan, bagaimana, kenapa ia bisa mengalami hal tragis tersebut.

Semestapun menjawab, tahun 2017 saya dikenalkan oleh Jajang (narasumber) di bisnis konveksi yang ia geluti, Jajang ternyata saksi kunci kejadian 12 tahun tersebut. Saya menulis ini dengan niatan agar kita bisa terus berhati-hati, sadar diri ketika di alam bebas, juga untuk mendoakan orang-orang dipanggil sebelum kita. 

Rabu 27 Juni 2007, 11 orang Indramayu yang terdiri dari SMP yang sama (Giri, Nurdiyanto , Wahyono , Jajang , Zaelani, Herlan, Wawan, Dwinuraji, Wahyudin, Komarudin dan Galih) rencananya akan melalukan pendakian ke Gunung Ceremai dalam rangka reuni. Kami berangkat dari Indramayu ke Kuningan dan sampai di basecamp Palutungan sekitar jam 5 sore, kami langsung ke pos pendakian namun tidak ada penjaga di pos, lalu kami menunggu sambil istirahat dan minum kopi sampai akhirnya ada penjaga datang ke pos lalu kami izin naik.

Kami sampai di pos pertama Cigowong jam 9 malam dan langsung membuat perapian di tepi jalur air, oiya dulu belum ada shelter juga belum ada wc di Ciwogong. Suasana sangat sepi saat itu, maklum saja pendakian belum setenar seperti sekarang, dan kami adalah kelompok satu-satunya. Pukul 11 malam, 9 anak masuk tenda untuk istirahat. Tersisa 2 orang di perapian. Tiba-tiba saya (Jajang) dan Wawan mendengar suara ranting jatuh, lalu saya sorot keatas tidak ada apa-apa. Wawan yang saat itu mendengar suara itu kembali melanjutkan membakar kayu2 kering. Saya masih penasaran dengan suara itu dan masih bermain senter ke arah pohon besar dekat jalan air. Seketika mata saya terbelalak melihat sesosok berwarna hitam tinggi besar dan mata merah memandang kami berdua. Saya langsung menepuk wawan dan bilang bahwa itu bukan ranting jatuh. Hanya saya yg melihat hal tersebut. Kami berdua langsung masuk tenda dan saya langsung mengusulkan pada teman2 untuk menghabiskan logistik kami malam itu dan langsung turun kebawah. Tentu saja itu ditolak mentah-mentah oleh rombongan. Perasaan saya tidak enak mengingat tidak biasanya saya ditampakan hal tersebut ketika mendaki gunung.

Hari Kamis Tanggal 28 Juni 2007, Sekitar pukul 5 pagi sebelum matahari terbit, kami berangkat dari pos Ciwogong ke arah puncak dengan Nurdiyanto didepan dengan semangat yg menggebu-gebu. Saya dan teman saya Giri berada dipaling belakang, maklum saja. Kondisi saya memang saat itu kurang sehat ditambah malam tadi melihat hal menakutkan.

Pos demi pos kami lewati, kami pun sempat turun ke Goa Walet yang ada di sebelah kanan bawah jalur pendakian, tidak ada kendala saat kami mendaki sampai akhirnya 50 meter sebelum puncak dan waktu menunjukan pukul 12 siang langkah kami terhenti, Hujan dan badai mengoyak perbukitan, kami langsung berlindung di bawah pohon cantigi disekitar jalur. Kejadiaannya tidak lama namun cukup membuat kami basah kuyup. Kabut pun datang.. Kami semua menggapai puncak Ceremai dengan badan basah karena hujan. Kami melakukan sujud syukur di puncak lalu berfoto-foto ria. Oiya ternyata rombongan kami bukan satu-satunya di puncak gunung, ada 1 rombongan berjumlah 4 orang juga ada dipuncak kala itu dan mereka naik dari jalur Apuy Majalengka.

Karena kami semua mengigil dan dalam kondisi lemah, saat itu kami ubah rencana yang tadinya turun kembali lewat Palutungan mencoba mencari jalan menuju jalur Linggarjati di arah kanah kawah. Kami rombongan pun setuju mengingat kami ber-11 membutuhkan tempat berlindung segera dan jalur Linggarjati adalah jalur tercepat dari puncak untuk mencapai vetegasi hutan yg rapat. Kami mulai menyusuri kawah ke arah kanan. Dengan kondisi kabut yg amat tebal kami tidak menemukan jalur tersebut. Keputusan sulit pun dibuat, kami kembali ke jalur Palutungan jalur pertama awal kami naik.

Lalu kami turun dengan kondisi kabut dan angin besar, sampai di Goa Walet tiba-tiba salah satu dari kami kelelahan. Nurdiyanto sesak nafas serta dibarengi menggigil hebat tidak bisa melanjutkan perjalanan. Takut terjadi apa-apa jika kami tidak buru-buru turun. Kami sepakat menggendong Nurdiyanto secara estafet menuju pos terdekat Sang Hyang Ropoh, yang mana vegetasinya lebat. Kami membuang apapun yang tidak perlu di atas Goa walet. Baju, alat-alay pendakian yg tidak perlu kami tinggalkan demi memudahkan perjalanan turun kami. Untuk menggendongnya pun cukup sulit mengingat Nurdiyanto punya perawakan jangkung diantara kami semua.

Tepat di atas disimpang Apuy, Nurdiyanto menunjukan gejala hipotermia, dia mulai meracau tidak jelas tidak mau melanjutkan perjalanan dan minta turun dari gendongan kami. Kami juga sempat mengejar 4 pendaki dari datang dari arah apuy untuk meminta pertolongan namun mereka sudah hilang ditelan kabut. Dengan kondisi baju basah kami langsung respon cepat membuka semua baju dan celana Nurdiyanto dan cepat-cepat memasukannya ke sleeping bag kering. Dan menaruhnya di cerukan diatas Simpang Apuy, untuk menghindar hujan. Karena saat itu tempatnya tidak muat untuk kami berlindung masih dekat Nurdiyanto di bawah sekitar 10 meter. Kami langsung memasak mie untuk menggembalikan kondisi Nurdiyanto, saat kami menawarkan mie, minuman atau makanan lain Nurdiyanto selalu menolak. Mie yg kami suguhkan diatas nesting ia buang. Kondisinya sudah memprihatinkan. Saya langsung menampar-nampar wajah dia agar ia sadar, namun kondisinya tidak juga membaik.

Sebenarnya bukan kondisi Nurdiyanto saja yg mengkhawatirnya, kami ber-11 juga sudah kehabisan tenaga kala itu. Kami berlindung dengan menggelar tenda seadanya. Agar kami tidak mati kedinginan. Sekitar pukul 2 siang, kami berunding untuk mencari bantuan, setelah perdebatan sengit akhirnya 2 orang yg hafal jalur bertugas untuk mencari bantuan ke bawah. Yaitu Giri dan Wawan. Kami kesulitan berfikir kala itu, dan tetap menemani Nurdiyanto sampai larut malam.

Jumat, 29 Juni 2007, Sekitar kira-kira pukul 2 pagi Nurdiyanto sudah diambang batas lalu menjerit histeris dan memanggil nama saya. Kami semua mendengar hal itu namun tidak kuat menghampiri Nurdiyanto. Sekitar pukul 4 pagi tidak lagi ada suara, dan salah satu dari kami mengecek kondisi Nurdiyanto. Lalu menemukan bahwa Nurdiyanto sudah tidak bernafas. Teman saya yang bertugas mengecek kembali lalu memberi tahu kami bahwa Nurdiyanto sudah tiada. Seketika kami semua menangis.

Di lain tempat, Giri dan Wawan sampai ke perumahan warga pukul 6 sore kala itu, bebarengan dengan adzan Magrib. Mereka langsung ke rumah-rumah warga yang bisa dimintai tolong, namun tidak ada yang mau keatas membantu mereka, karena seharusnya tidak ada yang boleh mendaki pada saat itu, namun memang kami tidak tahu akan hal tersebut.

Lalu mau tidak mau, Giri dan Wawan mengabari teman-teman komunitas di Indramayu untuk meminta pertolongan, lalu membuat laporan di Polsek terdekat namun ditangani dengan tidak ramah. pertolongan pun datang dari Indramayu sekitar pukul 12 malam di basecamp Palutungan. Pada saat itu kabar meninggalnya Nurdiyanto belum diketahui orang-orang di bawah. Lalu diputuskan 4 orang tetua dari komunitas untuk memberi bantuan secepat mungkin untuk Nurdiyanto dan kawan-kawan.

Letih, lapar, dan ditambah kondisi cuaca yang tak kunjung membaik kami memutuskan turun pukul 7 pagi dan membiarkan jenazah Nurdiyanto di Cerukan tersebut, hampir mustahil membawanya ke bawah dengan kondisi kami yang seperti ini. Kami ber-8 berjalan dengan hati yang tidak karuan karena peristiwa tersebut,

Kami melewati beberapa pos sampai akhirnya kami bertemu dengan 4 orang bantuan dari bawah tepat di pos Arban dan memberi kabar bahwa teman pendakian kami ada yang meninggal diatas sana. Logistik yang mereka bawa lalu dibagi untuk ber-8 kami yang kelaparan. Kami pun memberi tahu lokasi jazad teman kami itu kepada rombongan bantuan, Lalu 3 orang dari 4 orang di tugaskan langsung mengevakuasi jasad Nurdiyanto.

Lalu kami ber-8 diantar oleh 1 orang teman kami untuk langsung turun ke basecamp mengingat kondisi kami yang terus menurun. Di basecamp kami langsung di sambut oleh teman-teman kami dan para pencari berita, serta tim SAR, TNI dan POLRI yang akan melakukan evakuasi.

Sementara 3 orang yang diatas untuk melakukan evakuasi terjebak badai disekitar pos Sang Hyang Rangkah, Hampir semua tim yang diterjunkan semuanya terhalang cuaca buruk, Tim Gabungan yang pun dibentuk mengalami hal yang sama, mau tidak mau evakuasi dilakukan secara estafet dari pos ke pos. Medan yang licin dan cuaca buruk yang tak kunjung berhenti membuat proses evakuasi berlangsung sampai 2 hari. 


Sumber : Jajang Nursamsi, Alpath Fajar Hidayat