Wed, Oct 24, 2018 1:17 AM

Misteri Kematian di Aik Kalak Gunung Rinjani

dok.istimewa


#catatankaumurban Periode 2016 – 2017 terjadi 3 kasus kematian di satu tempat yang sama di gunung Rinjani, kasus itu terjadi di mata air panas bernama “Aik Kalak,” yang lokasinya terletak tidak jauh dari Segara Anak, gunung Rinjani. Letaknya yaitu di air terjun yang berada di bawah.

 

Aik Kalak yang dalam bahasa Sasak berarti Air Panas. Sejak zaman dahulu, sumber air panas ini cukup terkenal, dan sudah menjadi tempat wisata pemandian bagi masyarakat se-Pulau Lombok dan dari luar daerah. Nah menurut versi Tetua Adat di Sambelia, konon Aik Kalak merupakan pemandian Jayengrana, nama tokoh central dalam cerita pewayangan yang populer di Gumi Sasak.

 

Dan banyak yang masih mempercayai bahwa air panas ini mempunyai khasiat tertentu, hal itu dapat dilihat dari kunjungan pengunjung (terutama penduduk lokal) yang khusus datang untuk ke mata air panas ini saja. Bahkan saya pernah bertemu seseorang dengan mengenakan pakaian putih, berkain sarung sambil menenteng sebatang kayu di bahu kanannya, yang di bagian ujung kayu itu terdapat sebuah buntalan. Buntalan tersebut dari kain sarung, saya sih menebak bahwa isi di dalamnya adalah perlengkapan pribadi beliau.

 

Karena itu tidak mengherankan bila Aik Kalak sering dikunjungi banyak orang untuk berbagai tujuan, seperti pengobatan (bagi mereka yang sakit) atau meningkatkan ketahanan tubuh (bagi mereka yang sehat). Para pengunjung umumnya meyakini Aik Kalak punya kekuatan untuk itu, sehingga mereka yang datang selalu mandi atau berendam disana.

 

Air panas ini datang dari salah satu anak gunung Rinjani yaitu Gunung Rombongan (dikenal juga sebagai gunung Mas).

 

Well kembali ke topik pembahasan, jadi periode 2016 – 2017 ada beberapa kejadian buruk yang terjadi di Aik kalak. Kejadian buruk pertama menimpa seorang pendaki bernama Ike Suseta Adelia (25 tahun) asal Palembang.

Pada hari minggu, 8 Mei 2016 sekitar pukul 17.00 waktu setempat Ike Suseta Adelia bersama keempat rekannya memutuskan mandi di Aik Kalak. Lokasinya di pemandian yang paling bawah, yang seperti air terjun itu. Namun, seperti penuturan kesaksian dari teman-temannya, pada sekitar pukul 18.00 waktu setempat, tiba-tiba korban dan keempat rekan-rekannya seolah ditarik dari dalam air panas tersebut.

 

Keempat rekannya bisa selamat dalam kejadian ini, namun Ike tidak berhasil diselamatkan. Ike pun tidak dapat mereka temukan dengan segera. Rekan-rekan Ike terus mencarinya, namun tidak kunjung menemukan Ike. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk melaporkan kejadian ini ke pos Sembalun.

Baru pada hari senin, 9 mei 2016 sekitar pukul 10.00 waktu setempat jenazah berhasil ditemukan. Jenazah ditemukan mengambang di mata air panas tempat mereka berendam.

Dan sebelum berangkat menuju Lombok, Ike mempunyai pesan terakhir kepada orang tuanya di Bandara, “Pi, Izinkan Ike pergi..”

Kata terakhir Ike Adelia ini dikatakan hingga tiga kali kepada Ayahnya saat mengantarkan Ika Adelia menaiki pesawat tujuan lombok. Pihak keluarga tidak menyangka jika kata-kata yang diucapkan berulang kali oleh Ike Adelia ini adalah pertanda bahwa Ike Adelia akan pergi untuk selamanya.

 

Kejadian yang sama kembali terulang di tahun serupa, tepatnya kali ini menimpa warga Malaysia bernama Ng Tin Teck (24 tahun) pada tanggal 9 november 2016. Ng Yin Teck pada saat itu tak sendirian ketika mendaki, ia juga di temani oleh buruh pengangkut barang atau porter dan seorang pramuwisata, serta satu pendaki lain berinisial JB, perempuan 22 tahun asal Jerman. Ng Yin Teck bersama rombongan mandi di pemandian air panas pada Selasa 8 November 2016, pukul 12.30 Wita. Korban menyelam ke dalam air beberapa menit, setelah itu tidak muncul lagi ke permukaan.

 

Pendaki yang lain pun segera mencari Ng Yin Teck, dilingkupi dengan penuh kekhawatiran. Mereka terus mencari keberadaan Ng Yin Teck hingga akhirnya secara tiba-tiba Ng Yin Teck muncul ke permukaan dalam keadaan mengapung dan sudah tak bernyawa lagi sekitar pukul 19.00 Wita. Ya, Ng Yin Teck ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.

 

Dan kejadian terakhir menimpa Taufik Budi Prasetiyo (23 tahun), pendaki asal Jomblang, Mulyodadi, Bambang Lipuro, Bantul, Jogjakarta. Taufik sendiri ketika itu mendaki bersama rekannya, Muhammad Ali (21) dan Setio Teguh (22). Menurut Ali, Taufik yang berangkat melalui jalur darat sejak Selasa (18/4/2017) bertemu dengannya dan Teguh yang menggunakan jalur udara pada hari Kamis (20/4/2017). Gunung Rinjani sendiri bagi mereka menjadi tujuan pendakian terjauh selama ini.

 

Selama pendakian ketiganya tidak menemui kendala yang berarti hingga berhasil mencapai puncak gunung Rinjani dengan lancar. Mereka pun lalu melanjutkan perjalanan menuju Segara Anak (22 Mei 2017)

 

Pada 23 April sekitar pukul 07.30 WITA Taufik bersama temannya Muhammad Ali bergegas mengambil air di mata air yang terletak tak jauh dari Aik Kalak. Selesai mengambil air, mereka pun ingin merasakan sensasi mandi di air panas. Ali mengatakan, dirinya mengajak Taufik untuk mandi bersama pendaki lainnya. Namun, tak dihiraukan korban. "Saya lalu naik meletakkan wadah air, ketika saya turun Taufik sudah tidak ada. Saya hanya menemukan pakaian dan peralatan mandi," ucapnya. Dia mengaku, tidak mendengar suara teriakan minta tolong.

 

Ali kemudian meminta tolong kepada pendaki lain yang sedang berada disana untuk melakukan pencarian. Namun meski lokasi kolam habis diselami, korban tidak juga berhasil ditemukan, dan pencarian pun dihentikan pada hari itu (lokasi yang sama dengan kejadian di atas).

 

Pencarian pun dilakukan sehari setelahnya, dengan lebih banyak pihak termasuk petugas yang terlibat. Namun hasilnya masih nihil. Padahal kolam pencarian tidaklah besar (yang pernah ke Rinjani dan mengunjungi aik kalak pasti paham dengan ukuran lokasi ini) namun tetap saja korban masih tidak ditemukan.

 

Baru pada 25 april 2017, pukul 08.00 Wita, atau berselang dua hari setelahnya, tubuh Taufik akhirnya muncul di permukaan.

 

3 cerita berbeda, 1 tempat dan akhir yang sama dan terjadi hanya dalam selang waktu 1 tahun.

 

Benar, bahwa kecelakaan dalam pendakian tidak ada yang dapat menduga dan bahwa kematian itu akan tiba pada saatnya. Namun sangatlah disarankan bagi sobat untuk selalu mengutamakan keselamatan saat pendakian. Safety first.

Mulai dari persiapan fisik dan mental, perlengkapan memadai, mendaki melalui jalur legal dan lapor kepada petugas. Di perjalanan selalu untuk saling menjaga satu dengan yang lain dan lebih berhati-hati dengan tempat-tempat yang bisa mempengaruhi keselamatan. Jangan tergoda melakukan hal-hal kurang bermanfaat.

 

Well bagi yang mau berendam, tidak ada larangan waktu tertentu kok untuk berendam jam berapa di aik kalak. Beberapa rekan perjalanan juga pernah berendam di jam 8-9 malam waktu setempat. Namun ini saran, sekedar saran dari kami saja, sebaiknya :

  1. Hindari waktu peralihan dari sore ke malam. Jam 17.00 s/d 18.00 (hindari berkegiatan di waktu maghrib).
  2. Jika bisa memilih berendam di kolam paling atas saja
  3. Jika memilih berendam di kolam yang bawah, usahakan untuk tidak datang sendiri.
  4. Jangan bertindak dan berulah yang aneh-aneh
  5. Menurut kabar, ada dua versi cerita dari kolam yang merenggut nyawa para korban. Pertama adalah faktor alam, kabarnya ada arus di dalam air dan batu besar yang menyebabkan korban yang tertarik arus air sehingga menjadi sulit keluar karena terjepit. Yang kedua adalah faktor mistis, cerita tentang sang penarik penunggu kolam.

 

Sekali lagi, kami hanya bisa menghimbau bagi sobat urban yang akan berkunjung kesana untuk berhati-hati. Antusias boleh namun jangan sampai lalai memperhatikan faktor keselamatan. Dan juga untuk waspada dalam melangkah ketika menuju aik kalak, kenapa? Karena jalur di sekitar sana terjal, kecil dan licin. Ketiga, harap berhati-hati dengan ranjau yang banyak berada di sekitar segara anak dan aik kalak laughlaugh

 

Mari kita juga berdoa untuk ike, Ng dan Taufik, semoga amal ibadahnya dapat diterima di sisi-Nya.

Sekian informasinya, semoga dapat mengambil hikmah dan pelajaran daripadanya.  Salam lestari. (awal)

 

 

Punya cerita misteri saat pendakian? atau memiliki tips/ilmu/pengetahuan soal pendakian? Punya kisah tentang seseorang yang menginspirasi? Memiliki referensi film atau acara televisi yang mungkin akan bermanfaat bagi orang lain, terutama para pejalan? Punya toko outdoor untuk dipublikasikan?  Memiliki kisah perjalanan ke suatu tempat wisata beserta tipsnya? Ada event seperti lari, panjat tebing, navigasi darat (kecuali open trip dan pendakian massal yah).

Punya info tersebut? Mau berbagi ke website kami?
Silahkan untuk mengirimkan materi tulisan ke redaksi kami > urbanhikersmagazine@gmail.com < 


Dimohon jika itu tulisan milik orang lain untuk tidak lupa mencantumkan sumbernya.


Sumber : instagram @urban.hikers