Wed, Oct 24, 2018 1:52 AM

Rimba Ibukota : Arah Waktu Perubahan (Bagian 3)

dok. @urban.hikers


#catatankaumurban Senin itu, terasa penat sekali bagi Rimba. Kuliah sampai sore, bertemu temannya di tempat yang berjauhan hingga mesti balik ke rumah untuk suatu keperluan dengan orang tuanya. Persoalannya adalah ketiga tempat itu terpisah jarak yang lumayan jauh, belum lagi ditambah dengan kepadatan jalanan ibukota, kendaraan yang melanggar rambu jalan hingga banyak proyek-proyek baru di Jakarta.

 

Di pertengahan jalan, Rimba memutuskan untuk berhenti sejenak di sebuah taman kota. Disana ia sibuk memperhatikan petugas PPSU (Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum) yang sedang melukis tembok-tembok di sekitar taman. Sebuah hal yang mereka lakukan untuk menyambut pagelaran Sea Games 2018 nanti. Bisa dibilang di bulan Juli ini suasana kota Jakarta semakin penuh dengan kesibukan. Maklum, proyek ditargetkan harus selesai pada akhir Juli.

Proyek seperti ini pun bukan tanpa kendala, bahkan tingkat kesadaran beberapa masyarakat pun masih kurang. Hal itu dapat dilihat dari berita tindakan vandalisme yang dilakukan segelintir orang.

 

Bagi pemuda seperti Rimba, hal yang paling dikesali olehnya pembangunan yang seperti tidak memperhatikan kehidupan warga yang hidup di Jakarta. Pembangunan serentak, menyebabkan beberapa titik kemacetan parah di Jakarta. Namun meski begitu Rimba juga sadar, hal ini juga demi kebaikan kota itu sendiri, “ambil selalu positifnya rim, di masa depan kota ini mungkin akan jadi lebih baik karenanya,” nasehat ayahnya suatu waktu. Dan karena itulah, sekesal apapun ia pada apa yang ia temui di perjalanan, ia selalu mengambil nilai positif dari apa yang dilihatnya. Mengambil sebuah pelajaran bahwa sesuatu itu dibangun untuk sebuah tujuan.

 

Awal Juli kemarin, urban hikers berkesempatan untuk berkunjung ke taman nasional Bromo Tengger Semeru. Baik berwisata ke gunung Bromo dan mendaki gunung Semeru. Gunung-gunung yang menjadi favorit bagi turis lokal maupun mancanegara.

Bagi saya pribadi, ini adalah kunjungan saya yang ke empat ke gunung Semeru. 2013, 2014, 2016 dan 2018. Dan begitu banyak perubahan yang terjadi. Dari booking yang kini sudah 100% online, pelarangan tissue basah masuk ke dalam kawasan, adanya breafing sebelum pendakian dan keberadaan sebuah toilet basah di ranukumbolo.

 

Pro kontra tentang kebijakan-kebijakan tersebut nyatanya pasti ada. Kontroversi, raut-raut kekesalan, protes pun pernah ada dan saya pun pernah menjadi salah satu diantaranya hahaha. Waktu itu yang saya pertanyakan adalah adanya tarif masuk untuk tenda dan kamera. Namun dengan banyaknya masukan, pihak taman nasional pun sudah mengubahnya. 

Yang paling saya kagumi dari itu semua adalah keteguhan dari pihak taman nasional untuk terus melanjutkan program-program yang ada dan mereka pun nyatanya mau mendengarkan keluhan-keluhan dan memperbaikinya. Ya, meski kurang tepat namun mereka mau mencoba dan belajar untuk tumbuh dari kesalahan-kesalahan tersebut. Dan yang mereka lakukan adalah demi kemajuan bersama, termasuk penduduk desa sekitar pendakian itu sendiri.

Sederhana namun sebuah hal yang belum banyak saya temukan di banyak tempat lain, di kaki gunung yang lain. Kadang lebih banyaknya pengelola jalan sendiri, warga jalan sendiri, relawan jalan sendiri. Perkembangan pun tersendat, lebih banyaknya jalan di tempat. Dan masih banyak yang melihat itu bukanlah sebuah persoalan, selama keuntungan masih didapat, perkembangan masih sulit untuk dapat masuk. Jangankan masuk, mencoba pun akan di "dehem" dengan keras oleh pihak tertentu.

 

Di Semeru saya melihat sebuah sinergi dari taman nasional, relawan dan penduduk desa itu sendiri. Dari mana melihatnya? Well saya pribadi melihatnya dari pembangunan yang terjadi di desa itu sendiri. Rumah ibadah, balai desa, usaha-usaha warga, kini mulai tumbuh dan diperbaiki. Bahkan jalan menuju desa ranu pani pun kini semakin mulus dan rutin dilakukan perbaikan. Kemarin saya dibuat kagum dengan perhatian dari pihak taman nasional dengan ditaruhnya rambu-rambu di sepanjang jalan menuju Bromo dan Semeru.

 

Bukankah itu sebuah penanda bahwa pembangunan itu benar tepat guna.

 

Memang masih banyak hal yang bisa dan harus diperbaiki lagi. Namun melihat sinergi yang terjadi diantara semua pihak, pertumbuhan yang dirasakan hampir merata oleh banyak orang, melihat bagaimana semua orang begitu menyayangi gunung Semeru dan Bromo. Saya pikir, taman nasional ini akan menjadi salah satu yang terdepan dalam perkembangan, terutama dari segi pelayanan.

Menarik untuk terus mengamati perkembangan Semeru di masa yang akan datang. Dan semestinya, banyak pihak yang dapat belajar dari perkembangan yang terjadi disana.

 

“Ibarat rindu

Aku melihat Semeru

Selalu seperti itu

Esok mungkin datang menggebu

Lalu hilang dalam butiran debu

 

Namun rindu selalu ada untuknya

Dan entah untuk alasan apa

Esok pasti kuyakin kembali jumpa

Karena dia itu nyata

Dan selalu menanti dalam keagungannya”

 

Semoga dan semoga pengelolaan di semeru dapat terus menjadi lebih baik. Tetap ramah dan merakyat. Dan semestinya banyak pihak dapat berkaca dan belajar dari mereka.

Semeru, kalian luar biasahhhhhh……, heart


Sumber : instagram @urban.hikers