Wed, Nov 14, 2018 5:42 AM

Gunung Barujari : Wajah Rinjani Yang Terus Berubah

dok. @urban.hikers


#catatankaumurban Tahun 2012, saya pernah membaca suatu artikel di kompas tentang “Pembentukan Gunung Rinjani Purba.” Ada paragraf yang menarik perhatian saya yaitu, “Penelitian oleh PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) dan Universitas Belgia menyebutkan, erupsi Gunung Barujari pada periode Mei - Agustus 2009 menutupi area seluas 650.000 meter persegi. Garis tepi danau Segara Anak “berubah secara signifikan” akibat masuknya lava ke danau Segara Anak. Luas danau berkurang 460.000 meter persegi. Lava hasil letusan ini berona paling gelap yang menutupi produk lava sebelumnya yang lebih terang. Saat ini Gunung Barujari, yang merupakan anak Gunung Rinjani, masih dalam tahap membangun. Kita tak pernah tahu kapan dia mencapai tahap penghancuran diri.”


Gunung Barujari masih dalam tahap membangun dan itu berarti kejadian yang sama dapat terulang di kemudian hari. Dan seolah menjawab artikel di atas, akhir oktober kemarin (2015), seperti yang ramai diketahui, gunung Barujari kembali meletus. Dampaknya pun meluas hingga terakhir mengganggu jadwal penerbangan.


Itulah alam, sekali berkehendak, manusia tiada daya untuk melawan. Gunung Rinjani, menurut banyak penelitian dahulu berketinggian di atas 5000 m dpl. Namun seiring berjalannya waktu, ketinggian itu berkurang akibat keaktifannya. Letusan-letusan itu membentuk Rinjani menjadi hanya berketinggian 3726 mdpl. Bekas letusannya kini dapat terlihat di sekeliling danau Segara Anak yang merupakan bekas kawah yang tidak aktif. Bekas kawah itu kemudian terisi oleh air dan menjadikannya sebuah danau. Dinding-dinding besar di sekeliling danau itulah saksi dahsyatnya letusan dari gunung Rinjani. Hingga pada letusannya tahun 1944 gunung Barujari (2376 m dpl) terangkat dari dasar danau Segara Anak.

 

Kini, gunung Rinjani tak lebih dari sleeping mountain. Keaktifan kini telah berpindah kedua anak gunungnya yaitu gunung Barujari dan gunung Mas atau gunung Rombongan (2110 m dpl). Gunung Barujari juga pernah tercatat meletus pada tahun 1944, 1966, 1994, 2004, dan 2009.


Dan letusan yang sedang terjadi 2015 lalu, mungkin saja akan merubah kembali wajah dari gunung Rinjani. Karena seperti apa yang ditulis oleh National Geographic Indonesia, ”Mereka lahir, tumbuh, tertidur, mati lalu terbangun dan meletus. Gunung api terus berevolusi, begitu pula seharusnya kita, yang hidup di sekelilingnya.”

 

Catatan tambahan 2018 :

Pada kunjungan saya yang ketiga kali ke gunung Rinjani di tahun 2017 lalu, saya juga melihat beberapa perubahan dari segara anak dan jalur pendakian menuju puncak. Pertama dari jalur pendakian menuju puncak kini lebih banyak material pasir dalam perjalanan menuju puncak, dalam kacamatan saya pribadi kini perjalanan menuju puncak Rinjani jauh lebih enak. Yang kedua dari segara anak, secara langsung yang paling kentara terlihat adalah material di sekitar gunung barujari. Well bisa dikatakan kini jauh lebih tinggi dan sedikit melebar dari sebelumnya. Bahkan jika diperhatikan dengan seksama, bagian pada sisi kiri (jika turun dari plawangan sembalun) bagian gunung barujari sudah mepet dengan dinding sebelah kiri. Well itu juga sebenarnya sebagai jawaban dari pertanyaan saya yaitu “kenapa di beberapa bagian jalur puncak kini lebih berpasir.” Nah sob, untuk hal ini juga harap berhati-hati dengan arus dalam yang mungkin ada di segara anak. Setidaknya kasus pendaki yang meninggal ketika berenang setahun lalu (juni 2017) dapat kalian jadikan pelajaran. Pastikan jika berkegiatan di Segara Anak, kalian minimal ditemani oleh seorang teman kalian. By the way ini cuma opini saya saja yak laugh.


Dan seperti yang disarankan oleh mbah Surono agar warga yang tinggal di sekitar pegunungan berapi untuk selalu waspada. "Ikuti maunya gunung api, karena gunung apinya lebih lama dari manusia," katanya. "Jaga sopan santun. Kalau meletus ada masanya berhenti. Kalau sudah berhenti akan membuat tanah subur, pemandangan indah,"tutupnya. Alam akan terus melakukan siklusnya,dan tugas kita semua untuk memahami dan tumbuh belajar darinya. Salam Lestari.

 

 

Catatan dibuat pada tanggal 5 November 2015. Link catatan > https://www.facebook.com/urbanhikersmagazine/photos/a.364945513608577.1073741828.364940530275742/626629044106888/?type=3&hc_ref=PAGES_TIMELINE < lalu diperbaharui lagi pada tanggal 17 Juni 2018.

.

Referensi Tulisan :
1.Kompas.com
2.Tempo.co
3.Mari Mendaki Gunung
4.Jejak Sang Petualang
5.Liputan6.com


Sumber : instagram @urban.hikers