Wed, Nov 14, 2018 5:56 AM

Cerita Evakuasi Ery Yunanto Tahun 2015

dok. id instagram @lahar_Bara


#catatankaumurban Narasumber : Bakat Setiawan (id instagram @lahar_bara)

 

Hari itu, Sabtu 16 mei 2015, ada yang istimewa di hari itu, dimana keponakan yang tinggal persis di depan rumahku ahirnya menemukan jodohnya dan melaksanakan pernikahan. Jam 7 pagi saya sudah mandi, hal yang belum tentu sebulan sekali saya lakukan. Rasa bangga, bahagia dan iri semua melebur menjadi satu, ya saya bangga dan bahagia karena pada akhirnya keponakanku berani meminang seorang gadis, tapi saya juga iri, karena waktu itu saya dalam proses memperjuangkan cinta yang tanpa ujung.

 

Semua prosesi pernikahan berjalan dengan lancar, sampai pada akhirnya handphone (hp) saya mulai sibuk dengan notifikasi grup whatsapp (wa) barameru, saya kaget ketika ada red code dari ketua kami, yang artinya mengharuskan seluruh anggota untuk segera berkumpul di basecamp. Waktu itu saya izin untuk tidak bisa merapat karena masih ada acara nikahan dan kondisi badan kurang fit. Bukannya izin yang saya dapatkan, justru malah saya langsung di telepon oleh kang Sam ( Syamsuri) . Beliau adalah orang yang mengurus registrasi pendaki di merapi. Dalam teleponnya, dia hanya bilang bahwa aku harus segera merapat ke basecamp saat itu juga. Akhirnya karena rasa penasaran, dengan berat hati saya bersama abi yang juga anggota barameru bergegas menuju basecamp.

 

Sesampainya di basecamp, hal yang tidak biasa mulai terlihat, semua orang menampilkan raut muka yang sedih, cemas dan ketakutan. Dalam benak saya langsung berpikir pasti ada kecelakaan di gunung yang sangat fatal. Perlahan tapi pasti, saya berjalan dari tempat parkir menuju posko, tak ada seorangpun menyapa, semua sibuk, sampai pada ahirnya kang sam menghampiri saya dan langsung memeluk. Belum pernah seumur hidup saya dipeluk oleh kang sam sambil menangis, saya tanya ke dia, ada apa sebenarnya. Dia kemudian bilang, “har ada orang jatuh ke dalam kawah... “

 

Terjawab sudah semua pertanyaanku, wajar semua orang merasa sedih, wajar ketika semua merasa takut, karena mereka sadar betul bahwa yang akan mereka hadapi kali ini bukanlah evakuasi seperti biasanya. Kemudian saya masuk ke posko, karena waktu itu ketua kami sedang tidak berada di tempat dan kebetulan saya adalah wakil ketua dalam organisasi, maka saya tidak boleh larut dalam kesedihan dan kecemasan teman-teman, saya mulai assesment data, mulai dari siapa, kapan dan bagaimana. Saya juga harus mengambil keputusan untuk menutup pendakian, padahal waktu itu ada ribuan pendaki yang ingin naik ke merapi, saya harus memberikan penjelasan kepada para pendaki tentang penutupan jalur.

 

Setelah semua pendaki terkondisi, kami tinggal fokus pada rencana evakuasi, tanpa pikir panjang kami berangkatkan satu team yang tugasnya untuk membersihkan semua pendaki dari atas tanpa kecuali. Saat itu kami belum berfikir tentang bagaimana akan mengambil korban dari dasar kawah, fokus kami adalah bagaimana dengan keterbatasan sdm (sumber daya manusia), kami bisa berbagi tugas. Alhamdulillah teman-teman sangat solid, mereka sangat bertanggung jawab dengan tugas masing-masing, mulai dari menyiapkan logistik sampai dengan memberitahu keluarga korban secara langsung.

Waktu terus berjalan, kami masih belum tau apa yang harus kami lakukan selanjutnya, sampai akhirnya kami berkoordinasi dengan pihak Taman nasional, SAR (Search and Rescue) dan unsur-unsur yang lain. Kami mengadakan rapat sampai subuh tanggal 17, pembahasan kami hanya fokus pada satu hal, siapa eksekutor yang mau untuk turun ke dasar kawah? Sampai hari minggu pagi, kami belum juga mendapatkan orang yang mau dan mampu untuk melaksanakan tugas ini, saya tau semua orang waktu itu berharap banyak kepada saya, karena saya sudah punya pengalaman beberapa kali turun ke kawah untuk melakukan mitigasi dan pemetaan jalur evakuasi. Sungguh waktu itu saya merasa seperti pecundang, saya satu-satunya harapan tapi saya tidak mau melakukannya karena saya sadar dengan kondisi badan yang sedang tidak fit. Saya hanya bisa membantu dengan memberikan semua gambaran tentang jalur ke kawah dan resikonya.

 

17 Mei  Jam 10.00 WIB Minggu

Sampai jam 10 siang, team SMC masih belum menemukan rescuer yang bersedia, semua orang membujuk saya, berharap saya siap dan mau untuk melakukan evakuasi. Waktu itu saya benar-benar bingung dengan apa yang harus saya lakukan, pada dasarnya saya mau jika kondisi saya sehat, tapi benar-benar waktu itu saya sedang tidak sehat. Akhirnya kami kembali mengadakan rapat koordinasi yang menghadirkan lebih banyak unsur bahkan keluarga dari korban. Tak ada seorangpun yang berani mengajukan diri termasuk saya, rapat pun arah pembahasannya lebih kepada mengharapkan agar keluarga korban bisa merelakan jenazah ery untuk tidak di ambil. Waktu itu dari pihak keluarga korban pasrah dengan tim, jika memang benar-benar tak bisa di ambil mereka hanya bisa pasrah, dikuatkan lagi dengan kajian oleh para ahli bahwa ini adalah misi bunuh diri.

 

Dalam hati saya campur aduk, karena bagi saya ini bukan misi luar biasa, ini adalah hal yang sangat biasa, hal yang sering saya lakukan, apakah saya akan membiarkan jenazah untuk tidak diambil? Sedangkan saya bisa untuk melakukannya. Perang batin terus berjalan, antara menjadi pecundang atau menjadi pemenang. Rapat di akhiri dengan keputusan yang mengambang, keputusan ahir dari rapat itu adalah menyerahkan semua ke saya, kalo saya bersedia maka operasi akan di lanjutkan, tapi kalo saya tidak bersedia maka operasi akan dihentikan dengan hasil nihil. Waktu itu saya benar-benar tidak lagi bisa berfikir, kondisi badan saya juga tidak kunjung membaik.
 

17 Mei Minggu 13.00 WIB

Di tengah kebingungan saya, kakak almarhum ery menemui saya secara pribadi, terjadi sedikit obrolan disana, kurang lebih seperti inilah obrolan kami.

 

“Mas lahar saya bisa ngobrol sebentar?”

“Oh bisa mas silahkan.

“Mas lahar kan pernah turun ke kawah, boleh nggak mas saya minta tolong? Saya nggak minta tolong mas lahar untuk ngambil adik saya kok. Saya hanya minta tolong nanti suatu saat kalo mas lahar turun ke kawah lagi, tolong fotokan adik saya, apapun kondisinya.”

Waktu itu saya tidak bisa menjawab apapun, hanya bisa terdiam dan benar-benar merasa menjadi orang yang tidak berguna. Tapi permintaan kakak almarhum tersebut seperti menjadi tamparan keras, benar-benar menjadi semangat baru. Lalu saya menemui sahabat-sahabat saya, saya minta dicarikan doping atau apalah yang bisa membuat saya lebih baik, tak butuh waktu lama, ambulans dari polres Boyolali datang, saya di bawa menuju ambulans, dicek kondisi badan saya yang ternyata waktu itu tensi saya sangat rendah dan memang kondisi saya benar-benar lemah.

 

Kalo saya nggak salah ingat, dokpol yang memeriksa saya waktu itu namanya pak purnomo, kemudian beliau menawarkan saya sebuah suntikan khusus, yang biasa dipakai saat perang katanya. Akhirnya saya mau untuk disuntik, entah berap kali suntikan, kalo g salah 3 kali suntikan. Tak butuh waktu lama, obatnya langsung bereaksi, badan saya menjadi panas dan berkeringat, benar-benar terasa efek obatnya.

 

17 Mei  Jam 17.00 WIB - Keputusan

Setelah saya merasa kondisi saya membaik dengan cepat, akhirnya saya menemui smc dan menyatakan bahwa saya siap dengan bisa beberapa syarat. Waktu itu benar-benar menjadi keputusan dalam keputusasaan, saya mengajukan beberapa syarat, mulai dari peralatan, tim, dan satu syarat yang agak konyol. Waktu itu saya bersedia naik asalkan saya di temani oleh tim pilihan sya sendiri, dibekali dengan peralatan terbaik dan syarat terakhirnya, saya tidak ingin nama saya di tulis dalam daftar tim yang terlibat di lapangan. Tentu saja ini menjadi sedikit perdebatan, secara prosedur, semua orang yang terlibat harus terdata. Tapi saya punya alasan tersendiri kenapa saya mengajukan syarat itu, alasan saya satu hal, ketika operasi gagal dan saya mati di lapangan, anggap saya tim ilegal yang tidak berkoordinasi sehingga SMC tidak akan disalahkan oleh publik karena di anggap telah mengirimkan orang untuk misi yang sebenarnya sudah dilarang untuk dilaksanakan.

 

Alhamdulillah semua syarat saya disetujui oleh SMC, saya dan team pun melakukan persiapan secara sembunyi sembunyi tanpa terpantau oleh orang luar. Akhirnya smc menelepon keluarga saya, intinya memohon izin dan doa restu agar operasi berjalan lancar dan semua team diberikan keselamatan.

 

17 Mei 20.00 - Pamit

Aku, gimar, abi, alip, Sony dan seorang lagi aku lupa namanya. Kami berangkat dari basecamp barameru setelah sebelumnya packing dan beristirahat sejenak karena dari semalam kami semua belum tidur. Malam itu rasanya benar-benar berbeda ketika kami ingin berangkat, hampir semua warga desa keluar rumah, hampir semua relawan dan anggota barameru yang berada di bawah seperti orang yang takut kehilangan kami. Ketika kami pamit dan meminta doa restu kepada kawan-kawan di basecamp, satu persatu memeluk kami, dan tak sedikit yang meneteskan air mata, seolah-olah kami akan pergi jauh dan takkan pernah kembali. Bagi kami saat itu, kami adalah harapan satu-satunya, kami adalah harapan terakhir, di pundak kamilah sebuah harapan dari keputusasaan mereka gantungkan. Dan kami semua yakin, bahwa tuhan akan selalu bersama niat baik.

 

17 Mei 21.00 WIB - Gaib atau Halusinasi

Sekitar jam 9 kami sampai di pos 1 watu belah, cuaca saat itu mendung tebal. Tubuh kami terasa sangat berat, tidak biasanya seperti ini. Mungkin karena kondisi fisik yang kurang fit atau mungkin kami terserang penyakit lapartermia (joke ala mas lahar, suatu kondisi dimana tubuh kurang makan) akhirnya kami memutuskan untuk istirahat saja di pos satu, kami keluarkan peralatan masak dan tidur, kami masak mie instan dan membuat secangkir kopi, kemudian kami tidur di pos 1 dan berharap esok hari akan cerah.

 

Saat kami lelap tertidur, saya merasa ada seseorang yang membangunkan saya dan saya pun berdiri sambil mencari siapa gerangan yang membangunkan tidur Indah ini. Aku lihat teman-temanku asik ngorok, semua terlelap dan hanya aku yang terbangun. Aku kaget setengah mati ketika aku melihat sosok laki-laki dengan pakaian kejawen (berpakaian adat jawa) mendatangiku dan bukan hanya satu orang saja, tapi banyak sekali, kemudian dia memintaku untuk mendekat dengan melambaikan tangannya, tanpa pikir panjang aku pun menghampiri nya, lalu dia mengucapkan satu kalimat, “nak pancen arep di jipuk monggo, penting kudu kowe, penting kowe ora nguyoh” ( kalo memang mau diambil silahkan, asalkan kamu yang ngambil, dan jangan kencing). Setelah kejadian itu saya tak ingat lagi apapun sampai akhirnya gimar membangunkanku, aku anggap waktu itu hanyalah halusinasiku saja, aku anggap hanya mimpi, bagaimana mungkin saya bisa menahan kencing berhari-hari di atas sebuah gunung.

 

18 Mei 05.00 WIB Packing menuju Pasar Bubrah

Setelah gimar membangunkan ku, kemudian kami semua kembali packing dan melanjutkan perjalanan ke pasar bubrah, pagi itu begitu cerah, badan saya pun terasa ringan dan benar-benar fit. Kami sangat bersemangat pagi itu, semesta seperti mendukung kami. Dalam perjalanan kami menuju pasar bubrah, ada beberapa kejadian lucu yang kami alami, lebih tepatnya di alami gimar, beberapa kali dia harus berhenti untuk kencing bahkan sampai buang air besar. Hal itu menjadi lucu, karena itu pengalaman pertama buat gimar buang hajat di merapi. Ahirnya setelah 40 menit perjalanan, kami sampai di pasar bubrah, kami langsung menuju ke bunker, bertemu dengan team barameru yang lain yang memang sudah menunggu kami sejak hari sabtu. Susu, kopi panas dan mie instant sudah menyambut kami, kamipun langsung menyantap hidangan istimewa yang dibuatkan oleh senior dan pak ketum.

 

18 mei 2015 07.00 WIB

Setelah kami cukup kenyang, kami pun bergabung dengan relawan yang lain untuk membuat skenario tentang apa yang akan dilakukan hari ini. Saya lupa siapa yang memimpin briefing hari itu, akhirnya saya pun dipanggil untuk memberikan gambaran tentang rencana operasi versi saya. Garis besarnya, saya butuh 4 orang yang menemani saya turun sampai blank 50, saya siap turun sendiri ke dasar kawah, asalkan naiknya saya di tarik. Kemudian ditunjuklah 4 orang dari SAR DIY (Search and Rescue Daerah Istimewa Yogyakarta) yaitu endro, tatto,muksin,mamed ( kalo tidak salah ingat). Waktu itu kepercayaan diri saya semakin bertambah, karena saya yakin saya di dampingi oleh orang-orang yang profesional dalam bidang vertical rescue. Setelah berdoa bersama, kami pun naik dengan semangat membara menuju puncak, sesampainya di Puncak, kami persiapan semua peralatan yang benar-benar asing buat saya, saya pun menjadi orang pertama yang turun ke kawah sampai ke blank 50 kemudian di susul oleh 4 orang lainnya.

 

18 mei 2015 09.00 - Blank 50

Sekitar jam 09.00, kami semua sampailah di blank 50, blank 50 letaknya persis di dinding kawah woro, saya menamakan blank 50 karena ketinggian tebing terahir sebelum menuju dasar kawah itu sekitar 50 m. Teman-teman dari SAR DIY kembali memasang peralatan untuk saya pergunakan turun ke dasar kawah, saya hanya bisa menunggu dan melihat saja, karena saya tidak paham dengan teknik-teknik vertical rescue. Saya perhatikan mereka sangat terlatih, tanpa harus saling bertanya, mereka tau apa yang harus dilakukan. Setelah sekitar setengah jam menunggu, peralatan yang akan saya pakai pun telah siap, saya pun langsung turun ke dasar kawah. Memang bukan hal baru bagi saya, karena sebelumnya telah beberapa kali turun ke kawah lewat jalur yang sama persis. Sesampainya di dasar kawah, saya dipandu oleh tim yang dari puncak, mereka membuatkan lintasan imajiner buat saya, saya seperti orang yang mencari harta karun dalam film-film kartun, saya harus berjalan maju sekian langkah, lalu belok kiri atau kanan.

 

Hal itu dilakukan untuk menghindari ranjau yang suhunya ratusan drajat. Alhamdulillah dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) meminjamkan alat untuk memantau suhu dari atas Puncak merapi, saat itu sangat dibutuhkan kerjasama tim yang kuat karena kita tak pernah tau apa yang akan terjadi. Komunikasi dengan mbah jay terus saya lakukan untuk menemukan titik jenazah yang sudah terpantau dari puncak lewat binokular, saya di arahkan harus berjalan ke arah mana. Alhamdulillah cuaca saat itu cerah, jadi saya bisa leluasa berada di dalam perut merapi.

 

18 mei 2015 11.00 - Coklat dan Sang Penunggu Gunung

Hampir satu jam lebih saya berputar mencari keberadaan jenazah ery yunanto dan akhirnya terlihat dari kejauhan sesosok mayat yang sudah pasti itu ery. Bayangkan ketika kamu berada di dalam sebuah kawah gunung berapi, hanya ada kamu dan sesosok mayat dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, tak sanggup jika harus menjelaskan seperti apa kondisinya. Bayangkan sendiri ketika ada manusia terjatuh dari ketinggian 200 meter dan langsung menimpa batu yang tajam, seperti kita menjatuhkan semangka dari ketinggian 20 atau 30 meter, ya itulah kondisinya.

 

Setelah memberikan laporan kepada tim yang di atas, saya memutuskan untuk istirahat sejenak sambil menikmati rokok. Waktu itu logistik yang saya bawa hanya satu botol teh pucuk dan sebatang coklat yang dikasih oleh sahabat saya ketika saya akan naik. Saat itu yang ada dalam pikiran saya hanya sebuah penyesalan, kenapa ini harus terjadi, kenapa harus ada korban, kenapa peringatan saya tidak dihiraukan? Ya, tanggal 6 mei atau 10 hari sebelum kejadian, saya membuat sebuah postingan di fb (facebook), yang isinya adalah peringatan kepada pendaki agar tidak ke Puncak merapi karena sangat berbahaya. Dan ternyata 10 hari setelah postingan yang sempat menjadi bahan bully untuk diri saya sendiri karena dianggap terlalu berlebihan menyampaikan tentang bahaya Puncak merapi tersebut, merapi seperti ingin membuktikan bahwa perkataan saya bukan hanya sebuah imajinasi yang berlebihan.

 

Ditengah lamunan saya, kembali saya mengalami hal yang tidak masuk akal, entah hanya ilusi atau nyata. Saya di datangi kakek-kakek yang sudah tak asing buat saya, karena beberapa kali saya pernah melihatnya di pasar bubrah. Kemudian dia bertanya kepada saya. “nopo le cah ndladak koyo ngono ndadak arep kok jipuk? Mustokoku di idak-idak, ben rasah kok jipuk ben iso ge pepeling (kenapa anak kurang ajar seperti itu harus kamu ambil?  Mahkotaku di injak-injak,  sudah tidak usah di ambil, biar bisa dijadikan peringatan.)”  Lalu aku jawab “pangapunten mbah, melas keluargane wonten ngandap nenggo, kulo nyuwun plilah panjenengan, jenazah ery bade kulo beto wangsul ("mohon maaf mbah, kasihan keluarga korban menunggu dibawah, saya minta kerelaan anda, jenazah ery akan saya bawa pulang.)” Mbah itu berkata lagi “yo nak pancen kudu kok jipuk, aku tinggalono, karo kowe penting ora nguyoh (ya kalo memang harus kamu ambil, tinggali aku, dan kamu jangan kencing.)”

Merapi kui dudu mung tumpukan watu karo lemah, merapi kui rogo, rogo ki ono sukmane, rawaten nak ora pengen ciloko, sopo cidro bakal ciloko, sopo sing tresno bakal oleh kamulyan (merapi itu bukan hanya tumpukan Batu dan tanah, merapi itu raga, dan Setia raga punya sukma, rawatlah jika tak ingin sengsara, siapa jahat bakal sengsara, dan siapa yang sayang akan mendapatkan kebahagiaan.)”

Tak lama saya segera terbangun dari lamunan, waktu itu matahari tepat di atas kepala. Saya kembali menghampiri jenazah ery yunanto.

 

18 mei 2015 13.00 WIB - Sadis Untuk Sebuah Kelancaran Operasi

Waktu semakin siang, aku benar-benar dikejar waktu, berpacu dengan gas beracun yang hanya bisa terurai oleh sinar matahari. Saya sudah melewati batas kemampuan maksimal dan tidak sanggup untuk mengangkat jenazah ery sendirian. Akhirnya saya putuskan untuk meminta bantuan dari sahabat saya endro sambodo yang berada di blank 50. Tanpa pikir panjang, endro pun turun untuk membantu saya menyangkat jenazah. Sambil menunggu endro sampai ke titik mayat, saya coba merapikan jenazah ery. Saya tutup bagian kepala ery, karena tidak ingin endro melihat kondisinya.

 

Setelah menunggu sekitar satu jam, ahirnya endro datang, benar saja, meskipun dia sudah sangat terbiasa menghadapi jenazah tapi kali ini berbeda situasi dan kondisinya, endro sempat blank beberapa saat. Saat itu endro sempat berkata, “ayo mas cepat kita selesaikan, aku nggak mau terjadi apa-apa, aku pengantin baru mas,” hahahaha…, suasana mencekam pun pecah seketika, karena hanya ada aku, endro, dan ery, kami pun bercanda untuk menghilangkan kebosanan. Kantong mayat kami buka, perlahan kami memasukkan bagian besar dari jenazah ery, baru kemudian kami kumpulkan bagian-bagian kecil dari organ-organ ery. Ada satu kejadian yang diluar batas peri kemayatan yang harus kami lakukan, karena sulit nya memasukkan beberapa bagian tubuh almarhum, terpaksa saya harus memotongnya menjadi beberapa bagian. Mohon maaf mungkin ini sadis dan di luar kewajaran, tapi inilah jalan satu-satunya, karena waktu semakin sore dan kami harus segera menyelesaikan ini semua. Sekali lagi kami mohon maaf.

Akhirnya jenazah pun ter packing dengan sempurna, dengan usaha yang keras, dibawah tekanan waktu dan rasa takut kami berdua mengangkat jenazah dari titik jatuh menuju titik vertikal, dimana jenazah akan di tarik ke atas, lumayan jauh dan lumayan menguras tenaga, tapi tak ada alasan untuk menyerah karena kami tau, dibawah sana ada ribuan orang yang mengharapkan keberhasilan kami. Doa dan kerjasama tim yang solid lah yang membuat operasi ini berjalan dengan lancar.

 

18 mei 2015 15.00 WIB - Hati Yang Tertinggal, Kembali ke Puncak dengan Senyum dan Rasa Sakit

Setelah kami membawa mayat menuju posisi tali rescue, kami pun kembali menuju titik kami turun. Dalam perjalanan kami menuju titik untuk naik, ternyata kami masih menemukan satu bagian tubuh yang tertinggal, saya jadi ingat dengan sosok yang menemui saya dalam lamunan tadi, bahwa dia minta untuk di “tinggali’ , mungkin ini yang dia inginkan. Akhirnya kami pun menguburkan bagian yang tertinggal itu sembari berdoa kepada Allah semoga ini adalah kejadian pertama dan terakhir kalinya. Setelah kami menguburnya, kami lanjutkan ke titik penjemputan, endro saya persilahkan untuk naik duluan, saya kembali sendirian di dasar kawah, menunggu endro sampai ke titik aman blank 50. Akhirnya tiba giliran saya untuk naik, benar-benar butuh perjuangan karena harus menahan rasa sakit di kaki saya. Ketika turun, betis saya kejatuhan batu dan lumayan nyeri, tapi rasa sakit itu saya abaikan karena ada hal yang lebih penting daripada sekedar menuruti rasa sakit. Setelah saya sampai di atas blank 50, kami berlima sama-sama mengucapkan puji syukur karena kami masih diberikan keselamatan. Dan karena waktu yang semakin sore, kami putuskan untuk segera naik ke Puncak, kami tidak mau kemalaman di dalam kawah merapi. Karena kaki saya cidera, saya mendapatkan giliran pertama untuk naik, baru kemudian di susul oleh 4 orang lainnya.

 

18 mei 2015 17.00 Puncak, Senyuman, Tangis, dan Sebuah Persahabatan.

Waktu semakin sore, jenazah ery masih menggantung di tengah-tengah dinding kawah merapi. Saya menjadi orang pertama yang sampai Puncak, waktu itu hanya ada rasa syukur, hanya ada rasa haru, ternyata di Puncak sahabat-sahabat kami sudah menunggu dengan penuh kekawatiran yang jelas terlihat diwajah mereka. Satu per satu mereka memelukku, mengucapkan selamat atas keberhasilan ini. Rasa haru pun semakin menjadi, dan tak terasa air mata ini pun menetes. Dalam hati saya berkata, “oh tuhan, terimakasih engkau anugerah kan sahabat – sahabat yang menemaniku dalam suka dan duka, berikanlah mereka panjang umur dan kebahagiaan, amin.” Setelah kami berlima sampai Puncak, kami pun langsung turun, dan penarikan mayat akan dilanjutkan esok harinya.

 

18 mei 2015 18.00 WIB - Pasar Bubrah, Djarum Super Hadiah Dari Ery

Akhirnya kami pun kembali ke pasar bubrah, meskipun dengan menahan rasa sakit di kaki, tapi seakan semua rasa sakit itu hilang oleh canda tawa teman-teman di pasar bubrah. Segelas kopi panas dan mie instan sudah menunggu kami. Setelah kami makan, saya mengeluarkan sebungkus rokok djarum super, saya bagikan satu-satu kepada mereka. kami pun joinan rokok, bergantian menghisap sambil bercerita tentang segala yang terjadi di dalam kawah. Setelah rokok habis, ada yang bertanya kenapa rokok saya jadi djarum super, padahal biasanya rokok saya bukan itu. Dan terpaksa saya jelaskan bahwa rokok itu saya nemu di dekat jenazah ery, reaksi mereka beragam, ada yang misuh, ada yang terdiam, dan ada yang seperti ketakutan. Benar-benar lucu waktu itu, kami bisa tertawa lepas dan sejenak menghilangkan semua rasa penat. Setelah lelah kami sedikit terobati, kami kembali membahas tentang skenario pengangkatan jenazah untuk esok hari. Sayang rasa sakit di kaki tak kunjung hilang, bahkan tambah sakit, saya pun meminta izin untuk turun duluan dan tidak bisa melanjutkan operasi untuk esok hari. Alhamdulillah teman-teman mengizinkan saya untuk turun duluan malam itu juga. Akhirnya dengan ditemani beberapa orang, saya turun dengan kaki pincang, saya menolak untuk di gendong apalagi di tandu... Gengsi!!!!

 

18 mei 2015 20.00 WIB - Basecamp, Baju Batik, Air Panas, dan Air Mata

Jam 8 malam hari senin saya pun kembali ke basecamp dengan selamat meskipun menahan rasa sakit, sesampainya di basecamp pelukan demi pelukan menghampiriku, dari senior-seniorku, dari sahabat-sahabatku. Semua meluapkan kegembiraannya, semua meluapkan emosinya, kembali air mata mengiringi setiap pelukan para sahabat. Setelah sejenak saya beristirahat, kang samsuri membawakan saya baju ganti, handuk dan air panas untuk mandi. Rasanya benar-benar lega, bukan karena mandi tapi karena pada akhirnya saya bisa kencing setelah dua hari menahannya. Setelah mandi, saya pun kembali mengenakan baju batik yang sama lengkap dengan sepatu pantofelnya. Saya memakai batik karena belum sempat pulang dari acara resepsi keponakan dan saya memakai ini agar wartawan tidak tau kalo saya orang yang telah turun ke kawah. Benar saja, tak ada satupun wartawan yang tau bahwa sayalah orang yang turun. Kemudian saya turun menuju posko tngm (Taman Nasional Gunung Merapi) untuk memberikan laporan dan evaluasi tentang hasil operasi. Semua berjalan sesuai rencana, tanpa tercium oleh media, saya serahkan semua dokumentasi evakuasi kepada SMC yang waktu itu di pegang oleh mas tokek dan gembrik.

 

18 mei 2015 22.00 WIB - Pesan Kakak Almarhum Yang Disampaikan Oleh Alam

Setelah saya membuat laporan kepada SMC, kemudian saya menemui keluarga dan sahabat korban yang masih menunggu di posko. Terlihat jelas rasa duka yang mendalam di wajah mereka. Saya pun menghampiri kakak korban, saya beritahukan bahwa ery sudah diketemukan. Sedikit dialog yang masih saya ingat..

“Mas, alhamdulillah ery sudah diketemukan, tapi mohon maaf kami tidak bisa menyelamatkan nya.”

“Terimakasih banyak mas lahar ( menangis sambil memeluk saya). Bagaimana kondisi adik saya mas? Apakah gosong? Apakah sudah tidak bisa dikenali?”

“Iya mas sama-sama, saya sudah menjalankan amanah mas untuk mengambil jenazah adik mas, kondisinya baik kok mas, utuh dan masih bisa dikenali (tidak mungkin saya menceritakan yang sesungguhnya)”

“Apakah mas lahar ada fotonya?”

“Enggak mas, saya gak sempat foto (padahal dokumentasi saya sangat lengkap, maaf mas saya bohong, saya tidak ingin keluarga tau kondisi yang sebenarnya)

“Sebenarnya saya tadi ingin meminta satu hal mas, saya ingin dibawakan Batu yang berada di dekat jenazah adik saya.”

“Lha ini mas sudah saya bawakan ( entah kebetulan atau apa, saya membawa beberapa batu dari dasar kawah merapi, mungkin inilah yang dinamakan satu hati)”

“Terima kasih banyak mas, terima kasih.”

 

 

19 mei 2015 00.00 WIB

Tidur dengan penuh kedamaian karena pada akhirnya tak ada satu pun media yang tau bahwa saya salah satu orang yang mengambil jenazah ery yunanto. Dan saya beserta semua relawan berhasil melaksanakan operasi yang dianggap sebagai oprasi SAR yang tidak mungkin bisa dilakukan.

 

19 mei 2015 08.00 Jaga Rahasia Atau Potong Kepala

Pagi itu saya di datangi oleh keluarga korban yang meminta agar tak ada satupun gambar atau apapun tentang ery yang beredar keluar. Padahal di new selo sudah ada puluhan wartawan dan beberapa stasiun tv yang siap live saya harus putar otak, mencari cara agar jenazah ery bisa sampai bawah tanpa terdeteksi oleh media. Akhirnya saya kumpulkan anggota barameru di basecamp, waktu itu ada 14 orang. Kami menyiapkan skenario evakuasi lewat jalur lain, dan hanya 14 orang ini yang tau akan kami bawa lewat mana jenazah ery, bahkan kami membuat sebuah perjanjian demi sebuah amanah, bahwa siapapun yang membocorkan ini, siap dipotong kepalanya. Strategi pun kami rancang dengan rapi, tugas kami bagi mulai dari yang mengalihkan perhatian media sampai yang harus membungkam mulut supir ambulance. Meskipun saya sempat mendapatkan tekanan dari berbagai pihak, tapi saya tetap merahasiakan skenario ini, bahkan smc pun tidak saya beritahu.

 

19 mei 2015 16.00 WIB – Evakuasi Berjalan Sesuai Rencana

Akhirnya setelah menunggu cukup lama dan harus dengan sembunyi-sembunyi, jenazah ery sampai ke basecamp dengan sempurna, tanpa diketahui oleh satupun media. Iring-iringan mobil polisi dan keluarga melewati kami, dan sujud syukur pun saya lakukan karena pada akhirnya semua proses evakuasi berjalan dengan lancar.

 

19 mei 2015 20.00 WIB - Penyamaran Yang Terbongkar

Sepandai-pandai tupai meloncat akhirnya jatuh juga. Itulah peribahasa yang tepat, saya berhasil bersembunyi dari media lebih dari 24 jam. Sampai akhirnya terbongkar sudah, semua media menghujani saya dengan ratusan pertanyaan, dan saya tidak punya pilihan lain selain bicara.

 

Demikian sedikit cerita tentang evakuasi ery yunanto, semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua, mohon maaf kepada keluarga almarhum karena pada akhirnya saya harus menceritakan ini. Semoga arwahnya tenang disana. Buat kalian disana yang menganggap kami hanya mencari sensasi dengan melakukan misi ini, sungguh tak ada niatan tersebut, kami melakukan ini semua karena kami merasa kami adalah manusia.

 

Satu orang terasa banyak, jangan tambahkan lagi jiwa yang mati sia-sia.

Mendaki gunung itu bukan tentang menginjakkan kaki di Puncak tertinggi, tapi tentang menghargai hidup, menghargai alam, menghargai penciptaan.

Ketika di alam, tak ada yang lebih mengerti tentang kita selain diri kita sendiri, ketika di alam, hanya ada tiga hal yang pasti. Kita, alam, dan tuhan.

Terimakasih telah membaca tulisan ini, dan akhir kata....

Hidup itu bukan tentang seberapa banyak kita menerima, tapi tentang seberapa banyak kita memberi.

 

Boyolali, maret 2018.

Bakat Setiawan, Lahar Barameru.

 


Sumber : instagram @urban.hikers