Wed, Sep 19, 2018 2:35 PM

Rimba Ibu Kota (bagian 2)

dok. @kojexbolang


#catatankaumurban Rimba Ibu Kota :

Awal Februari, Jakarta tengah dilanda cuaca tak menentu. Kadang panas namun sering juga datang hujan dengan derasnya. Di tengah kemacetan Senin sore itu, Rimba memilih waktunya untuk bersantai di sebuah warung kopi belakang kampusnya. Menghindari macet menjadi salah satu alasannya. Ketika hari sudah beranjak malam, Rimba baru melangkah pulang. Namun tak seperti inginnya, jalanan ke arah rumahnya masihlah macet. Perbaikan jalan, galian kabel, perempatan tanpa rambu jalan, kendaraan melawan arus, jam pulang kantor hingga antrian pintu masuk tol, menjadi salah satu sebabnya.

 

Saat menghadapi macet di tengah jalan, hujan pun turun dengan derasnya. Tak ada tempat untuk berteduh dan mau tak mau Rimba menghadapi hujan itu. Sial bagi Rimba, ia tidak mempersiapkan menghadapi hujan alhasil pakaian dan barang yang ia bawa pun basah sebasahnya. Tak lama hujan mereda. Di salah satu terowongan yang ada di ibukota, Rimba menghadapi permasalahan lain, yaitu banjir. Dan sialnya lagi, hanya itulah satu-satunya jalan yang bisa ia lalui. Alhasil ia pun melewati banjir dan sialnya bagian mesin motornya terendam air dan harus dibuka. Sayangnya Rimba tidak membawa kunci untuk membukanya, mau tak mau ia harus mencari bengkel yang masih buka.

 

Naik gunung itu menyenangkan, dengan catatan : Matangkan Persiapan. Fisik, peralatan maupun pengetahuan tentang gunung yang akan ditapaki. Tak perlu melahap pengetahuan itu secara utuh, perlahan pun tak masalah. Terpenting adalah mampu memahaminya, belajar darinya dan tumbuh karenanya.

 

Soal cuaca? Indonesia hanya memiliki 2 musim, hujan dan kemarau. Dan sekarang makin terbantu berkat kehadiran banyak aplikasi canggih yang bisa ngecek prakiraan kondisi cuaca di gunung.

 

Persiapan naik gunung apa aja? Fisik dan peralatan. Fisik bisa dilatih dengan berolahraga, peralatan pribadi bisa dicari dengan memulai dari apa saja yang paling dibutuhkan. Jaket, raincoat, sepatu gunung, sarung tangan, headlamp, sleeping bag, kupluk, gaiter, trekkingpole. Jika tak mampu dibeli satu waktu maka pinjamlah namun jangan lupa dibalikkan. Soal perlengkapan tim, bicarakanlah agar tak ada miskomunikasi di perjalanan.

Dan seiring dengan waktu yang berjalan, dirimu akan semakin berkembang. Dan patut dicatat, sesuaikan dengan kebutuhan dan lama perjalanan, simplenya jangan membawa seisi lemari sementara lama perjalanan hanyalah 1 malam.

 

Seringkali, beberapa dari kita tidak belajar dari apa yang sudah dilalui. Akan selalu memiliki alasan atas sebuah pertanyaan. Beragam jawaban pun bisa hadir, baik sebuah koreksi maupun sebuah pembenaran. Namun semua kembali diri masing-masing, maukah mencari jawaban itu dan belajar darinya untuk langkah ke depan.

 

Sebagian dari kita akan mempelajarinya di awal, sebagian di tengah perjalanan, sebagian lagi kadang harus menemukan jawaban itu dengan cara terkeras. Kadang butuh hujan agar sadar betapa pentingnya membawa raincoat. Semua memang butuh proses, dan semua akan kembali kepada pribadi masing-masing. Karena nilai dari sebuah perjalanan akan selalu dimulai dari dirimu, bukan orang lain. Jangan sampai perjalanan menegurmu karena ketidaksiapanmu. Selalu dahulukan keselamatan dan keselamatan dalam perjalanan. Salam lestari.


Sumber : instagram @urban.hikers