Thu, Feb 22, 2018 11:29 AM

Titik Rindu

ilustrasi saja


#catatankaumurban Kemarin, saat senja datang dan warnai bukit-bukit di segara anak dalam selimut jingganya. Keheningan datang, buaiku dalam tenangnya.

 

Angin senja itu, teduhkan hati, dari memori akan bukit yang baru ku lalui siang tadi.

Hening. Ingatanku kemudian menyasar, dalam sebuah kenangan, tentangmu.

 

Aku adalah pagi, yang sempat kamu ucap dalam rindu. Aku adalah mentari, yang pernah kamu sapa dengan hangat.

Aku mencoba mengingat, sejauh mana bayangmu melekat.

 

Karena senja, terkadang aku tidak dapat menemukannya. Temukan alasan, jatuh hatiku kepadamu.

 

Perjalanan akan membawa pada banyak perubahan, baik atau buruk. Bisa saja menjadi hilang dan terlupakan.

Dulu, sesuatu bisa menjadi sangat kita rindukan, angankan, dan impikan. Ingin kita genggam erat, peluk dengan mesra.

 

Namun dalam sepersekian detik, bisa saja rasa itu berubah. Bisa saja ia datang, mengetuk pintu hati, memberimu perasaan yang sebelumnya tak pernah terbayang. Pun bisa saja seketika itu memudar, terbungkus pekatnya keraguan.

 

Meninggalkanmu dalam tanya. Memperkenalkanmu pada kerapuhan.

 

Ia yang datang selimutimu dengan kehangatan, bisa saja pergi. Meninggalkanmu dalam kesunyian. Ia yang selalu ada dalam tiap angan impian, bisa saja hilang, terhapus selimut kehampaan.

 

Apakah rindu itu masih sama. Atau ini hanyalah sebuah rindu yang tawar?

Namun senja, aku masih merasakan rasa yang sama terhadapmu. Sama, seperti saat aku menetapkanmu sebagai titik rindu-ku.

 

 

PS : Hanya puisi. Dibuat dalam keadaan setengah sadar. Tidak teruntuk siapa dan apa. Selamat merabu sob!


Sumber : instagram @urban.hikers