Wed, Oct 24, 2018 2:11 AM

Pelajaran Hidup Dari Mendaki

dok. id instagram @ytnn14


#catatankaumurban Narasumber : id instagram @ytnn14

 

Pendakian Gunung Guntur dan Gunung Papandayan
25-26 Desember 2017

Bukan sekedar bersenang-senang, mendaki kali ini begitu banyak pelajaran hidup yang bermakna. Rencana awal pendakian gue sebenarnya ke gunung Gede dan Pangrango. Dikarenakan melihat situasi yang tak memungkinkan, dan perkiraan hari libur Natal dan Tahun Baru dipastikan ramai. Sampai akhirnya keputusan mendaki ke daerah Garut, antara gunung Cikuray, Papandayan dan Guntur.

 

Gue bersama tiga kawan, diantaranya Aditya Rifaldy, Andika Arisandi, dan Fahri. Mempersiapkan segala kebutuhan untuk mendaki, alat pendakian, logistik, dan lain sebagainya.
Sebenarnya juga pendakian ini adalah rencana gue dan Fahri ke gunung Gede dan Pangrango. Lalu Andika pun punya rencana sendiri ke Gunung Slamet, dan Aditya dua Minggu yang lalu baru saja mendaki Gunung Gunung Gede-Pangrango. Sampai pada akhirnya Andika pun membatalkan rencana pendakiannya ke Gunung Slamet, dan Aditya pun memutuskan akan ikut bersama sekalian ia berangkat menuju Bandung karena akan melaksanakan UAS (Ujian Akhir Semester) di kampusnya sepulang dari mendaki.

 

Pukul 17.00 WIB, kami berempat berangkat dari Bogor menuju Terminal Kampung Rambutan menggunakan Grabcar, dan sampai terminal pukul 19.15 WIB. Kami memutuskan untuk untuk istirahat sejenak sambil makan dan ngopi di warung makan. Setelah beristirahat dan mengisi perut, keputusan kembali dibuat untuk pendakian ke gunung Guntur, dikarenakan Andika sangat ingin kesana, kami pun mengabulkannya. Dan pukul 20.00 WIB, kami berangkat menggunakan bis dan sialnya bis yang kami tumpangi penuh sesak.

 

Akhirnya dari Terminal Kampung Rambutan menuju Garut kami berdiri. Untuk mengisi kebosanan, kami sempat bermain Ludo dan streaming pertandingan bola liga Inggris. Akhirnya setelah berdiri berjam-jam, saat di jalur Nagreg ada penumpang lain yang turun. Kami pun bisa duduk, walau sejenak namun sangat berarti.

 

Pukul 02.15 WIB, kami sampai di point pendakian Gunung Guntur. Pom bensin Tanjung, via Citiis. Baru saja turun dari bis dan kenek bis mengambilkan keril di bagasi bis. Kami dihadapkan oleh beberapa orang menawarkan jasa ojek, kami menolaknya dikarenakan ingin istirahat sejenak, dan mencoba mencari rombongan lain supaya bisa berangkat bersama. Namun kami selalu dipaksa oleh beberapa orang disana dan diketahui sudah keadaan mabuk. Saat gue mencoba merokok pun, tak ada ucapan minta ia langsung mengambil rokok. Karena selalu didesak karena paksaan, kami pun berangkat menuju basecamp dengan tarif 30 ribu/orang. Kami pun menawarnya menjadi 25 ribu/orang dan itu pun hanya 3 motor. Sebenarnya kami tak suka diperlakukan seperti itu, karena kami tamu disini. Yah namun kami tetap berpikir positif bahwa itu mungkin itu hanya ulah segelintir oknum yang tak jelas.

 

Sampai di basecamp, kami langsung ditawari mengisi formulir pendaftaran oleh petugas dengan ramah dan gratis, dan diantar ke warung untuk beristirahat. Karena basecamp Ibu Taty penuh, kami pun dialihkan.


Sampai di warung ibu Hj. (gue lupa namanya), gue pun disambut ramah olehnya. Kami langsung bergegas istirahat, tak lupa makan dan ngopi lagi. Pukul 04.30 WIB, kami bangun dari tidur dan mempersiapkan kembali perlengkapan pendakian. Tak lupa juga sarapan dan ngopi, agar stamina saat mendaki tercukupi.


Pukul 06.00 WIB, kami berpamitan kepada yang punya warung, dan ia pun mendoakan perjalan kami. Jujur kami sangat senang dengan Ibu Hj. yang punya warung, karena dia tahu bagaimana cara menerima para tamu, khususnya pendaki.

 

Beberapa menit kami berjalan, sudah disuguhkan pemandangan indah Gunung Guntur. Lalu datang seorang petugas menanyakan kesiapan kami mendaki, dan ia memberitahukan rute jalur pendakian. Setelah diberikan arahan, kami pun melanjutkan kembali perjalanan.

Jalur yang dilalui sebelum Pos 1 lumayan landai namun sedikit menanjak dan disuguhkan pemandangan indah dan gagahnya Gunung Papandayan dan Cikuray. Kami pun sampai di Pos 1 dan melakukan pendaftaran ulang dan membayar biaya simaksi 15 ribu/orang. Dan istirahat sejenak sambil merokok, karena disini pemandangannya indah dan tempatnya rapi, bersih terawat walau ada beberapa warung.

 

Kami pun melanjutkan perjalanan dari Pos 1 menuju Pos 3 area camp.

 
Singkat cerita, dari Pos 1, Pos 2 dan Pos 3. Jalur pendakian semakin menantang dan terjal, karena banyak bebatuan besar. Kita juga akan melewati beberapa aliran sungai.

Pukul 08.15 WIB, kami sampai di Pos 3. Disana kami melakukan pendataan ulang oleh petugas area camp. Disana kami diberi arahan dan himbauan tentang etika pendakian dan tentang banyaknya pencuri di area camp oleh warga sekitar. Disana kami sempat kaget karena masih banyaknya pencurian dan terdengar banyaknya pendaki yang kehilangan barang-barang berharganya.


Selesai pendataan ulang dan mendengarkan arahan, kami pun langsung mencari area camp yang aman dan terdekat sekitar Pos 3 agar terhindar dari pencurian. 
Kami pun menemukan lokasi camp yang lumayan aman, walau sedikit miring dan dekat jurang. Karena area lokasi camp saat itu sangat penuh. Kami pun langsung menggelar matras sementara untuk sekedar membuat mie dan membuat kopi.  Saat kami beristirahat, terdengar dari pendaki lain sebelah tempat kami beristirahat, bahwa telah terjadi kecelakaan pada pendaki lain. Ia terkena jatuhan batu saat melakukan summit pada shubuh.

 
Gue dan teman lainnya, merasakan sesuatu yang memang sangat berbeda disini, dari beberapa gunung yang pernah kami daki. Di Gunung Guntur sendiri menurut kami saat pertama tiba di area camp memiliki hawa dan situasi yang sangat jauh berbeda, dan terbilang aneh. Kami memperhatikan keadaan sekitar, dan orang-orang yang mendaki memiliki wajah yang mencurigakan.


Jujur, saat di area camp, kami merasa seperti bukan mendaki gunung, karena situasi itu juga yang membuat kami akhirnya membuat keputusan ulang. Opsinya adalah tetap mendirikan tenda disini dan menunggu sampai shubuh untuk summit, karena saat itu baru sekitar pukul 08.30 WIB, terlalu banyak waktu yang terbuang atau pilihan lainnya melanjutkan pendakian ke Gunung Papandayan.


Kami berempat pun berunding, membicarakan rencana ke Gunung Papandayan dengan matang. Rencana waktu, uang dan transportasi. Akhirnya setelah menemui kesepakatan, dan perhitungan matang, kami langsung turun melanjutkan pendakian ke Gunung Papandayan.
Pukul 10.30 WIB, kami turun dari Pos 3 menuju basecamp. Dan tiba di basecamp sekitar pukul 12.00 WIB.


Kami pun kembali beristirahat di warung Ibu Hj. Untuk berunding, makan dan ngopi kembali. Dan yang punya warung pun heran kenapa langsung turun lagi, kami beralasan karena ingin langsung melanjutkan ke Gunung Papandayan.

 

Pukul 13.15 WIB, kami kembali pamit kepada Ibu warung Hj. (yang gue lupa namanya) Kemudian kami ditawari oleh beberapa ojek, disana kami menerima paksaan kembali, suatu yang berbelit-belit. Masalah ongkos dan tujuan pemberhentian pom bensin atau sampai Terminal Guntur/Garut. Karena waktu yang semakin terbuang dan masalah yang berbelit-belit. Kami memutuskan hanya sampai Pom bensin. Dengan tarif 25 ribu/orang. Kami menawarnya menjadi 20 ribu/motor. Karena saat itu hanya ada 3 motor, dan kami berempat. Saat itu menemui kesepakatan, tapi pada akhirnya setelah sampai Pom bensin kami ditagih kembali dikarenakan hitungannya perorangan. Kami disini cekcok masalah kesepakatan, akhirnya karena tak ambil pusing kami berikan saja 10rb. Walau awalnya tak terima, akhir di ambil juga uangnya.

 

Kami pun menunggu mobil Elf menuju Terminal, Andika menanyakan rute perjalanan kepada penjaga warung dan diberi tahu kalau naik Elf sebenarnya tak usah turun di Terminal, langsung saja turun di pertigaan Cisurupan, agar irit biaya juga. Informasi yang sangat berharga. Tak berapa lama, ada pasangan suami-isteri juga datang dan menanyakan kendaraan yang akan ia tumpangi menuju Terminal. Ia juga baru saja turun mendaki dari Gunung Guntur, setelah kami berbincang, ia ternyata berasal dari Batam dan akan meneruskan ke Gunung Cikuray dan gunung-gunung di Jawa lainnya. 


Mobil Elf yang kami tunggu tiba, kami pun menaikinya dan berbincang di dalam mobil.

Singkat waktu, ia kemudian pamit turun terlebih dahulu di Terminal. Dan kami pun meneruskan menuju Cisurupan. Didalam mobil kami beberapa kali diajak berbincang oleh warga sekitar, ia seorang ibu-ibu membawa anaknya yang berusia sekitar 3 tahun. Sangat ramah dan kami senang. Sampai pada waktu kami ditagih tarif ongkos oleh sang kenek Elf sebesar 20 ribu/orang. Karena sebenarnya juga kami tak tahu berapa tarif dari Pom bensin Cikajang-Cisurupan, kami bayar saja. Tiba-tiba ibu tersebut merasa tak suka pada kenek Elf, menurutnya si kenek seenaknya saja menagih tarif.

 
Ibu itu pun berbincang dengan Aditya, karena posisi keduanya berdampingan. Ibu itu pun menanyakan kepada Aditya, tujuan kami mendaki gunung apa dan asal kami dari mana. Setelah Aditya menjawab kami dari Bogor dan akan ke Gunung Papandayan, ibu itu langsung merasa kasihan pada kami karena ibu itu juga tinggalnya di Bogor. Ibu itu pun menawarkan kebaikannya supaya kami ikut dengannya menggunakan mobil pribadinya. Dan suaminya sudah menunggu untuk menjemputnya di Pom bensin Cisurupan. Kami sempat ragu menerimanya, karena orang yang baru kami kenal. Setelah berbincang lama dalam mobil, akhirnya kami yakin jika ibu itu orang baik. Ia pun lalu menelpon suaminya.

 

Singkatnya, kami tiba di Pom bensin Cisurupan. Tak lama datang mobil Xenia hitam berplat F. Sangat terkejutnya, sang suami ibu tersebut langsung membantu memasukan keril kami ke mobilnya. Suami ibu tersebut berasal dari Ambon, dan bekerja di daerah Sentul, Bogor. Ia seorang pensiunan. Kami di ajak berbincang oleh suaminya, dan ternyata sangat ramah dan baik. Dan tak ketinggalan juga si anak ibu tersebut pun bertingkah lucu, di dalam mobil kami merasa mimpi. Alasan ia tinggal di Garut adalah untuk mencoba bertani, dan merasa Bogor sudah tak terlalu nyaman karena hampir sama seperti Jakarta. Mereka baru tinggal sekitar 8 bulanan di Garut setelah pindah dari Bogor. Dan ternyata juga perkebunannya tepat sekali di daerah Wisata Alam Gunung Papandayan, dan ia pun mempunyai Villa, kami pun diberi tahu lokasinya, saat melewatinya ternyata jaraknya kurang lebih 5 menit dari pintu parkir Gunung Papandayan, karena masih satu area wisata. Kami sangat beruntung bisa bertemu keluarga yang baik tersebut, ia pun menawarkan kebaikannya lagi jika kami sudah turun agar bertamu dan mampir ke perkebunannya dan rumahnya. Agar bisa jemput untuk diantarkan dan makan dirumahnya. Sekali lagi kami sangat senang atas kebaikannya. Anaknya berjumlah 7 orang, yang 6 orang tinggal di daerah sekitar daerah Jabodetabek. Dan di Garut mereka hanya tinggal bertiga beserta pegawai kebunnya.

 

Tiba di pintu masuk Papandayan, si ibu mengantar kami ke Pos pendaftaran dan si Bapak berbincang dengan petugas pos. Dan rasanya kami merasa seperti anak dari si ibu dan bapak tersebut. Kami pun pamit kepada mereka, dan mereka pun memberi restu agar berhati-hati. Ada rasa seperti kehilangan juga setelah kami perlahan berjalan menuju parkir dan Pos 3 Papandayan.

 

Pelajaran hidup sangat berharga, setelah penderitaan dimulai dari Terminal Kp. Rambutan berdiri berjam-jam didalam bis, bertemu dengan oknum tukang ojek yang mabuk dan perjalanan Gunung Guntur kami dipertemukan dengan keluarga yang sangat ramah dan baik. Allah SWT memang adil, dan semoga keluarga tersebut selalu dalam lindungan Allah SWT, Amin.

 

Lanjut cerita…,
Pukul 16.30 WIB, di Pos 3 Papandayan, kami melakukan pendaftaran ulang pendakian. Ternyata penjaga Pos nya sangat ramah, baik, dan lucu. Kami sempat bercandaan dengannya, dan kami diberitahukan lokasi yang baik untuk kami, yaitu mendirikan tenda di Ghober Hut karena sepi dan banyak yang tidak tahu dengan keindahannya. Dikarenakan di Pondok Saladah banyak pendaki dan dipastikan ramai. Dengan pertimbangan, kami pun mengikuti saran penjaga Pos.

Kami pun bergegas menuju Ghober Hut, dikarenakan waktu pun semakin sore. Dijalur pendakian sudah semakin sepi oleh para pengunjung, kebanyakan sedang dalam perjalanan turun menuju parkiran. Tiba di jalur persimpangan menuju Hutan Mati dan Ghober Hut. Fahri terlihat lemas dan kedinginan. Gue perhatikan dan ternyata benar dia sudah sangat lemas, kedinginan dan tangannya pucat membiru. Disaat itu kami sempat memberi arahan kepada Fahri, ternyata dia sedikit malu bilang dengan keadaannya. Akhirnya kami beristirahat dan jalan perlahan.

 

Waktu hampir gelap dan sepi, kami masih di jalur pendakian. Sesekali ada motor yang lewat. Dan pukul 17.45 WIB kami tiba di Ghober Hut. Penjaga Pos menghampiri kami, menanyakan lokasi mana yang akan kami jadikan sebagai area camp. Karena waktu dan tenaga yang tak memungkinkan, kami pun memutuskan untuk mendirikan tenda di Ghober Hut. Pos penjaga pun mengantarkan kami, dan memberikan arahan-arahan. Benar saja, tempatnya masih sepi hanya ada beberapa tenda, dan pemandangannya luar biasa. Dan kami pun diperbolehkan untuk membuat api unggun dengan ketentuan jangan menebang atau mematahkan dahan, ranting yang utuh. Kami pun setuju dengan aturan-aturannya.

 

Pemandangan sore itu masih sedikit cerah, pemandangan Gunung Cikuray pun sangat jelas terlihat, kami pun sejenak melepas lelah sambil menikmati pemandangan.  
Kami pun segera mendirikan tenda, dan beristirahat, membuat makanan dan ngopi. Gue dan Andika memutuskan untuk mencari ranting kayu yang sudah jatuh untuk membuat api unggun, dikarenakan memang disana sangat dingin walau angin tak terlalu kencang bahkan sama sekali jarang.

 

Pukul 19.00 WIB, kami membuat api unggun sambil menikmati kopi panas dan rokok dibawah ribuan cahaya bintang, langit pun sangat indah oleh cahaya bintang dan bulan. 
Tak lama datang seorang pendaki bertanya, dan kami sambut dengan ramah dan mengajaknya bergabung. Lalu datang juga rekannya bersama rombongannya. Mereka 2 cowok dan 3 cewek, 2 cowok orang Majalengka dan 3 cewek orang Magelang. Mereka bertemu di Terminal dan ternyata dulunya salah satu mereka bekerja di satu perusahaan yang sama di Bekasi.

 

Kami membantu mereka mendirikan tenda, dan akhirnya menjadi teman pendakian kami. Kami saling bantu dan memberikan makanan. Suasana persaudaraan semakin terasa. Api unggun perlahan mati dan ranting terbakar habis. Dikarenakan malas mencari ranting dan sudah malam. Saat Aditya dan Andika pergi ke Toilet ternyata ia membeli kayu bakar, gue sempat bertanya-tanya ternya ada yang jual juga. Api unggun pun kembali menyala, kami semua bercerita tentang pengalaman hidup dan banyak hal di hadapan api unggun. Dengan suasana dingin dibawah bintang-bintang, sambil bercerita.

 

Sampai pagi tiba, saat membuka jendela tenda. Langit begitu indah dan awan bergulung-gulung, perlahan sinar matahari menyinari. Sungguh ini mengagumkan. Lalu melanjutkan perjalanan menuju Pondok Saladah. Benar saja disana sangat penuh oleh ratusan tenda, kami beristirahat sejenak disana dan kemudian menikmati keindahan Tegal Alun, kemudian melanjutkan ke Hutan Mati dan kembali menuju rumah.

 

Sebenarnya masih ada kisah menarik lainnya, saat kami di dalam bis menuju Jakarta. Berbincang dengan para pendaki. Dan bis yang isinya pendaki semua. 
Apa yang kami rasakan saat di Gunung Guntur ternyata juga terjadi pada beberapa rombongan pendaki asal Jakarta dan Bekasi. Diantara mereka bahkan telah kecurian barang dalam tenda, tenda tersebut dirobek menggunakan sejenis pisau saat mereka terlelap tidur. Ada yang kehilangan dompet, rokok, dan lain sebagainya. 


Dan beberapa pendaki mempunyai bukti sebagai orang yang mereka curigai sebagai pencuri di Gunung Guntur. Ia memberikan bukti pada penjaga Pos, dan ternyata ia mengenalinya bahwa itu memang warga sekitar. Yah semoga ini menjadi pembelajaran, karena mendaki bukan hanya sekedar liburan dan bersenang-senang. Semoga kita semakin berhati-hati dalam melakukan pendakian. (end)

 

 

 

Punya cerita tersendiri saat pendakian? atau cerita misteri saat pendakian? atau memiliki tips/ilmu/pengetahuan soal pendakian? Punya kisah tentang seseorang yang menginspirasi? Memiliki referensi film atau acara televisi yang mungkin akan bermanfaat bagi orang lain, terutama para pejalan? Punya toko outdoor untuk dipublikasikan?  Memiliki kisah perjalanan ke suatu tempat wisata beserta tipsnya? Ada event seperti lari, panjat tebing, navigasi darat (kecuali open trip dan pendakian missal yah).

Punya info tersebut? Mau berbagi ke website kami?
Silahkan untuk mengirimkan materi tulisan ke redaksi kami > urbanhikersmagazine@gmail.com < 
Dimohon jika itu tulisan milik orang lain untuk tidak lupa mencantumkan sumbernya.

.

.

Bagi yang mau mendukung atau beriklan di website, silahkan hubungi > Phone: (+62) 857-7792-0672 atau kirim email ke : urbanhikersmarketing@gmail.com
.
.
Sekian informasinya, ditunggu ya sob tulisan-tulisannya. Let’s share happiness and story to everybody  ^^

 


Sumber : instagram @urban.hikers