Thu, Feb 22, 2018 11:39 AM

Catatan Perjalanan Tragedi Petir di Gunung Prau 22 April 2017

dok.id instagram @fahmysnts_


Jumat, 21 April 2017
Jam 18.40 WIB

"Ndrong, ayo buruan nanti kita ketinggalan bus," Teriak Ardi yang membawa carrier berjalan ke arahku di parkiran PT.

Muncul kepanikan karena bus yang dijadwalkan akan berangkat jam 19.00 wib. Jadi kalau kita ketinggalan bus otomatis tiket bus yang aku dan Ardi pesan hangus.

"Ayo di naik ke motor berangkat! Semoga Robi dan Bang Icuk bisa nahan bus nya kalau kita datang terlambat," jawabku berusaha menenangkan suasana termasuk Ardi.

Ketiga temanku Robi, Bang Icuk dan Istrinya sudah berada di PO (Perusahaan Otobus). Pahala Kencana lebih dulu sejak sore tadi sepulang kerja. Sedangkan aku dan Ardi harus lembur sampai jam 18.20 karena job yang belum selesai jadi tidak diijinkan untuk pulang sore. Demi menghemat waktu aku dan Ardi membawa carrier ke PT agar bisa langsung berangkat bersama ke PO. Pahala Kencana.

 

PO. Pahala Kencana Cikarang
Jam 19.20 WIB

"Mana bus nya rob ?" Tanyaku terheran-heran karna kenapa mereka bertiga Robi, Bang Icuk dan Istri Bang Icuk masih duduk di bangku tunggu PO. Pahala Kencana sambil makan nasi pecel yang dibungkus.

"Bus nya masih di Bekasi Timur ndrong, macetttt," Jawab Robi dengan mulut yang penuh makanan.

"Huh, tau gitu makan dulu" Keluhku sambil melepaskan carrier di bangku tunggu.

"Di kita makan dulu, laper nih. Yuk cari warung," tawarku mengajak ardi untuk mencari makan karena perut yang sudah keroncongan ini sudah tidak bisa ditahan sejak sepulang kerja tadi hehehe..,


"Rob nanti WA ya kalau busnya udah dateng," Robi membalas mengangkat jempolnya yang berarti adalah siap.

"Deeeppp" ponselku berbunyi, pesan whatsapp dari Robi masuk dan mengabarkan bus sudah datang. Melihat jam di tangan sudah pukul 20.00 WIB. Aku dan Ardi bergegas cepat kembali ke PO. Setelah menunggu cukup lama. Akhirnya bus yang kami tunggu datang juga. Kami berlima langsung menaruh carrier ke bagasi bus dan mengkaitkan carrier kami satu sama lain menggunakan carrabiner agar lebih aman. Banyak kasus terjadi hilangnya carrier di bus. Penyebabnya pencurian atau faktor kesalahan kenek busnya. Kalau carrier hilang pasti nyesek banget kan?

 

Terminal Mendolo Wonosobo
Jam 07.45 WIB

Kami sampai di Terminal Mendolo agak siang. Ekspetasinya sampai di Terminal Mendolo itu subuh atau jam 6 pagi supaya bisa santai ngopi-ngopi dulu dan sarapan. Tapi realitanya ? Macet everywhere NGA to the RET NGARET. Mungkin karena long weekend dan ada perbaikan jalan untuk persiapan mudik 2017. Jadi jadwal kami yang di planning kan sedikit meleset.

Tak mau berlama-lama, setelah sarapan kami bergegas untuk mencari kendaraan menuju basecamp Prau Patak Banteng.

"Mau kemana mas ? Prau, Sindoro, Sumbing ?" tanya seorang bapak berbadan gempal dengan logat jawa ngapak yang sepertinya akan mencarikan kendaraan untuk kami. Namanya Pak Amminudin. Beliau memang sudah lama bekerja di Terminal Mendolo ini.  Bisa dibilang calo yang menawarkan pendaki kendaraan menuju gunung yang dituju.

"Ke prau pak," jawab Bang Icuk yang berada disampingku.

"Oh ke Prau, nanti naik bus 3/4 yang ada di seberang sana ya mas. Masih ada kosong dan busnya langsung berangkat. Biayanya ke Prau 20.000 per orang. Yuk kesana biar saya taruh carrier nya diatas bus, gimana ?"  jelas Pak Amminudin sambil menawarkan membawa carrier ku ke bus.

"Yaudah ayo berangkat," jawab Ardi dengn cepat.

Ternyata di dalam bus hampir penuh yang mayoritas isinya pendaki dari berbagai daerah, hanya sisa 3 bangku kosong saja. Bisa di bilang sih Gunung Prau itu cocok untuk pemula, selain treknya yang singkat. Jika cuaca cerah keindahan Gunung Prau memang selalu bikin mata terpesona. Banyak pendaki yang lebih menghabiskan waktunya di Gunung yang memiliki ketinggian 2.590 mdpl ini. Aku dan Ardi duduk di bawah dekat pintu mobil sedangkan Robi, Bang Icuk dan Istrinya duduk di bangku bus. Sekitar jam 09.00 wib bus pun berangkat.

 

"Ndrong, kita mau naik via Patak Banteng atau via Dieng?" tanya Bang Icuk dengan wajah penuh keseriusan.

"Via Valen aja bang hahaha..," candaanku agar menenangkan keseriusan dari wajah Bang Icuk.

"Serius ndrong, lewat Dieng aja kali ya. Kalo lewat Patak Banteng treknya lebih parah ya ndrong dari pada Dieng ? Gua khawatir sama bini gua ndrong. Gua masih trauma pas gua sama bini gua ke Bromo Desember tahun lalu. Sampe rumah ngeluh perutnya sakit, ternyata keguguran. Gua gak tau kalo bini gua lagi ngisi," Jelas Bang Icuk yang tampak khawatir dengan istrinya itu.

"Sebenernya trek Patak Banteng dan Dieng itu sama aja bang. Sama-sama nanjak hanya 11-12 gak beda jauh. Patak Banteng lebih miring jalurnya tapi lebih singkat waktunya untuk sampai di puncak. Sedangkan Dieng jalurnya lebih panjang," jawabku sambil menjelaskan kedua trek tersebut. Diantara kami berlima. Hanya aku yang sudah pernah ke Prau 3 kali. Dan mereka Ardi, Robi, Bang Icuk dan istrinya belum pernah mendaki ke Gunung Prau ini. Mereka sangat penasaran dan selalu mengajak aku untuk menemani mereka ke Gunung Prau. Jadi wajar saja mereka berempat selalu bertanya tentang medan jalur Gunung Prau.

"Lewat Dieng aja deh ndrong lu pernah kan lewat jalur Dieng?" uusul Robi yang ingin mencari aman.

"Iya ndrong lewat Dieng aja," sahut Ardi yang setuju dengan usul yang diajukan Robi.

"Yaudah deh kalo gitu," jawabku dengan penuh keraguan sambil melihat langit dari pintu bus yang tampaknya awan putih tebal sudah menutupi langit yang biru. Feeling ku berkata sudah di pastikan lagi hujan akan turun dalam beberapa jam kedepan.

 

 

DIENG
Jam 10.45 WIB

Sesampai di Dieng, kami berlima langsung mencari warung untuk membeli air mineral 1,5 liter dan membungkus makanan untuk persedian diatas nanti. Jadi sesampainya di atas gelar tenda kami tidak repot lagi untuk memasak.

Tadinya aku ingin Glamour Camping saat di Prau. Tapi perjalanan kali bisa dibilang tergesa-gesa, banyak yang tertinggal. Misalnya lampu LED warna warni dan bendera yang ketinggalan. Untuk logistik sederhana saja tidak terlalu banyak. Karena kami hanya semalam saja di Prau.

Minus istrinya Bang Icuk. Karna dia yang Fotoin.

 

Gerbang Basecamp Gunung Prau via Dieng


Saat kami tiba di basecamp Dieng kabut mulai turun. Langit yang kami idam-idamkan ( langit biru ) sudah berubah menjadi gumpalan awan tebal dan gelap. Keraguan mulai muncul dari wajah kami berlima. Disini mulailah keluar ego, antara melanjutkan perjalanan atau mendaki ketika malam hari sampai cuaca benar benar cerah.

 

"Mendung nih, yakin nih pada mau naik?" tanyaku dengan penuh keraguan.

"Naik aja ndrong, kita udah jauh jauh kesini. Yang lain gimana?" jawab Ardi.

Robi, Bang Icuk dan Istrinya hanya menjawab "Terserah" yang berarti isi dari jawaban tersebut adalah "Keraguan". 

Setelah berunding dan jawabannya "Terserah" mulu sampai ingus jadi es karena udara semakin dingin. Akhirnya sepakat untuk terus naik dan jika cuaca makin buruk wajib hukumnya untuk turun demi keselamatan!.

Berhubung sudah adzan dzuhur kami putuskan untuk sholat dzuhur dan jamak sholat ashar terlebih dahulu supaya di beri kelancaran dan keselamatan. Selesai sholat aku langsung mendaftar SIMAKSI. Tiket pengunjung masih belum berubah sejak setahun terakhir aku kesini. Yaitu Rp. 10.000 per orangnya.

"Mau hujan loh mas, jangan lupa pakai jas hujan. Safety first mas. Kalau cuaca tidak mendukung lebih baik turun" Jelas dan perintah pengurus basecamp.

"Nggih, matur suwun yo mas" Balasku dengan ramah

 

Jam 12.15 WIB

Semua sudah siap, sebelum memulai pendakian kami berdoa bersama supaya di beri perlindungan dan keselamatan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Berdoa dimulai! Awal perjalanan melewati perkebunan warga. Dan kabut yang sangat tebal mulai turun. Hujan gerimis menemani kami dari awal perjalanan hingga pos 1.

Karena fisik yang masih belum lelah, sampai di pos 1 kami hanya mengatur nafas dan melanjutkan perjalanan lagi. Tiba-tiba hujan turun sangat deras disertai angin dan petir yang meyambar-nyambar saat kami beranjak dari pos 1. Di sepanjang perjalanan kami hanya bertemu pendaki yang hendak turun, dan yang naik via Dieng setahu aku tadi hanya 2 kelompok saja, kelompok kami dan kelompok yang lain sudah kami balap sebelum pos 1. Tapi entah di atas masih ada kelompok lain lagi atau tidak yang naik via Dieng ini.

 

Berkali kali kami terpeleset di jalur. Karena medan trek yang licin seperti aliran sungai. Membuat kami mulai kelelahan. Akhirnya kami berhenti di pos 2. Di pos 2 aku mulai takut dengan petir yang menyambar dengan cahaya yang silau. Apalagi aku juga khawatir dengan Istri Bang Icuk yang tampak dari mulutnya hanya mengeluarkan kata "Astaghfirullah", "Allahuakbar". 

"Handphone, HT matiin cepat, petirnya bahaya!. Gimana kondisi masih aman ? Masih mau lanjut?" tanyaku sambil memastikan mereka berempat yang mulai gemetar kedinginan.

"Lanjut yuk, diem malah tambah dingin" Sahut Bang Icuk sambil menggemgam tangan Istrinya yang kedinginan.

Setelah berhenti kurang lebih 10 menit di pos 2 kami melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Jujur aku takut sekali saat melanjutkan perjalanan ke pos 3 ini. Karena jalur mulai terbuka. Aku takut bahaya yang akan terjadi jika aku meneruskan perjalanan.

Kami bertemu pendaki yang hendak turun sedang berteduh di bawah flysheet saat 5 menit sebelum sampai pos 3. Kami ijin untuk menumpang teduh bersama di bawah flysheet ukuran 3x4 itu. Makin tunggi cuaca makin buruk, angin membuat tubuh ini kaku kedinginan bahkan jari-jari tanganku sudah pucat dan keriput sudah tidak bisa digerakan dengan sempurna. Keempat temanku sudah mengalami gemetar kedinginan luar biasa. Jas hujan/ponco kami sudah tidak berguna. Karena pakaian kami seluruhnya basah oleh hujan angin yang begitu deras. Batinku berkata aku dan ke empat temanku sudah pasti terkena gejala-gejala hypothermia. Kalau diam seperti ini bahaya juga. Pilihannya 2, naik memaksakan keselamatan atau turun dengan bijaksana.

 

Tak lama hujan mulai reda tapi petir masih menyambar. Kami berlima terus melanjutkan perjalanan ke pos 3 karena kami pikir hujan mulai berhenti jadi tidak masalah untuk melanjutkan perjalanan. Sebenarnya tindakan kami ini salah. Sebaikanya jangan kalian tiru ya, BAHAYA!

 

Sepanjang perjalanan mulutku hanya bisa mengucap istighfar dan meminta perlindungan kepada-Nya begitupun keempat temanku. Karena di pos 3 ini petir menggelegar seperti tepat diatas kepala diatas tiang pemancar diatas sana. Aku seperti orang gila benar-benar gila yang menantang maut! Astaghfirullah. Di pos 3 kami tidak berhenti dan tetap terus melangkah. Aku tidak mengira fisikku dan teman-temanku bisa secepat ini. Dari basecamp ke pos 3 hanya butuh waktu 1 jam 50 menit. Benar-benar keluar dari perkiraan. Mungkin kalau diam berhenti kami akan kedinginan jadi kami terus berjalan demi menjaga suhu tubuh agar tidak turun.

 

Puncak Prau (2.590 mdpl) sudah mulai terlihat dari sesudah pos 3 kami berjalan. Dan terlihat banyak orang juga dipuncak sana yang sedang berteduh dibawah flysheet. Tiba-tiba petir menyambar, cahayanya sangat silau, ledakannya sangat menggelegar. Sampai membuatku refleks memejamkan mataku, menutup kedua kupingku dan menundukkan badanku. Rasanya lemas, ingin kujatuhkan badan ini ketanah. Teman-temanku pun sudah tampak pasrah. Benar benar orang gila lepas batinku! Menantang maut. Harga diriku sebagai lelaki disini hampir jatuh. Entah yang mengalir di mataku ini air hujan atau air mata. Petir tadi ternyata menyambar pendaki yang ada diatas sana. Astaghfirullahaladzim...

 

Kami terdiam tak ada satu kalimat pun terucap. Aku menengok kebelakang, terlihat Bang Icuk tergeletak lemas diatas batu. Petir yang tadi membuat Bang Icuk shock berat. Istrinya pun memeluk Bang Icuk sambil memeramkan kedua matanya. Robi dan ardi berada dibalik batu berlindung diri dari terpaan angin. Hujan tiba-tiba deras lagi. Kami berlima berlindung dibalik batu dan berpelukan satu sama lain berharap bisa menghangatkan tubuh. Hujan dan angin makin deras disertai petir yang menggelegar. Di balik bebatuan kami berdoa supaya hujan petir ini segera berakhir. Aku makin khawatir dengan Istrinya Bang Icuk termasuk Bang Icuk sendiri. Wajahnya mulai pucat dan bergemetar. Kami berlima di balik batu sedang melawan hypothermia. Ini adalah pertama kalinya aku terkena gejala hypothermia. Sungguh dijadikan pelajaran bersama dari perjalanan ini.

 

Hujan mulai berhenti, hanya sedikit gerimis kecil. Sekitar 20 menit kami berhenti dan berlindung di batu. Akhirnya kami putuskan tetap naik untuk melihat kondisi diatas sana apakah ada yang tersambar petir atau tidak. Feeling ku berkata pasti sesuatu yang buruk terjadi diatas sana. Benar saja, sesampai di puncak Prau terlihat 3 orang pendaki yang meninggal akibat tersambar petir tergeletak di atas tanah di rintiki gerimis hujan. Suasana sangat mencekam histeris. Keluh kesah rasa sakit, nangis dirasakan diatas sana. Seluruh badanku lemas. 

 

Seorang berbadan kurus membawa daypack lari turun ke basecamp untuk menginformasikan ada kecelakaan diatas sini. Aku dan keempat temanku terus berjalan tidak mau lama-lama berada di puncak karena petir yang masih menyambar-nyambar. Tidak ada satu kata pun terucap semua diam. Dan tetap melanjutkan perjalanan ke bukit teletubies untuk camp. Aku cukup ngenas, bahkan pikiran jelek pun terlintas. Bagaimana jika kelompok kami terkena petir, Astaghfirullahaladzim jangan sampai terjadi ya Allah.

 

Sesampai di bukit teletubies jam 3 sore kami langsung mengeluarkan tenda dan menggelarnya bersama-sama. Kami membawa 2 tenda, tapi kami lebih dulu menggelar tenda kapasitas 4 orang. Yang kapasitasnya 2 orang kami tunda. Karna cuaca kembali memburuk, kabut tebal dan huja deras mengguyur kembali. Kami mempersilahkan Istri Bang Icuk mengganti pakaiannya di vestibule. Dan kami berempat ganti pakaian yang basah di dalam tenda. Jangan ditiru ya, ada adegan kocaknya laugh

 

Setelah pakaian basah sudah di ganti, aku langsung membuka makanan yang kami beli di Dieng tadi. Berharap nasi bisa menaikkan suhu tubuh yang kedinginan ini.

"Haduh SB (sleeping bag) gua basah lagi lupa dikasih plastik,"  teriak Bang Icuk.

Suasana kembali mencekam, Robi dan Ardi sudah mulai tertidur kelelahan. Sedangkan Bang Icuk kedinginan memakai 1 SB berdua bersama Istrinya karena SB nya 1 lagi basah.

 

Jam 17.00 Wib

"Brrrrr... Gua kedinginan bray. Turun aja yuk. Gua udah nggak nahan dinginnya nih," keluhan Bang Icuk terdengar.

Kulihat wajahnya makin pucat dan bergemetar hebat. Tak mau ambil resiko. Kami semua packing ulang semua barang dan segera turun. Diluar masih gerimis.

"Yang di dalam tenda, gimana kondisinya aman tidak?" Terdengar teriakan seorang laki-laki yang nampaknya adalah ranger basecamp.

"Kami mau turun pak, bisa bareng tungguin kami ?" jawabku sekenanya.

"Saya tunggu di puncak ya, mau evakuasi korban," sahut ranger sambil menunjuk ke arah puncak.

 

Jam 17.45 WIB

Semua sudah selesai packing ulang dan siap untuk turun. Kami berdoa untuk keselamatan saat turun.

"Mas maaf, mau turun?" tanya ranger lainnya kepadaku di puncak 2.590

"Iya, mau turun mas," jawabku sambil melihat jenazah yang sudah siap di tandu dan di bawa turun.

"Maaf nih mas, minta tolong bisa bawakan tenda ini sampai basecamp?" 

"Bisa mas, sini saya yang bawa."

Kalau aku lihat yang mengangkat jenazah turun ke basecamp itu ranger dan warga lokal. Tidak ada Tim SAR. Kami dipersilahkan untuk jalan lebih dulu. Aku yang memimpin di barisan depan. 

 

Pos 1 : Jam 19.30 WIB

*brakkkkkkk grskkkk*

"Apaan tuh?" tanyaku yang curiga dan menengok kebelakang. Ternyata si Robi jatuh guling-guling karna terpeleset. Pecah tiba-tiba suasana tertawa ngakak. 

"Hussst jangan kenceng-kenceng ketawanya" Tegurku ke teman-teman sambil menahan tawa.

"Tau luh, gua jatoh bukanya dibantuin malah diketawain" Robi kesal.

"Haha biar suasana ga mencekam juga rob. Dari tadi pada serius banget turunnya ga ada suara sama sekali" Sahut ardi.

"Yang paling belakang aman gak Bang Icuk?" tanyaku memastikan Bang Icuk tidak kenapa-kenapa di barisan paling belakang.

"Amaaannn, lanjutt," sahut Bang Icuk.

Sudah sampai di ladang kebun warga dan didepan sudah terlihat ramai banyak orang, polisi, tim SAR, wartawan dan warga lokal sudah menunggu jenazah turun di basecamp.

Perjalanan kali ini adalah perjalanan paling buruk sepanjang aku mengenal hiking. Menantang maut, melihat orang tersambar petir, berjuang melawan hypothermia.

 

Semoga dari perjalanan ini kita bisa belajar dari kesalahan untuk kedepannya. Mari kita ambil hikmahnya bersama-sama. Ambil yang positif buang yang negatif. 

 

Point pentingnya apa saja pelajaran yang bisa di ambil dari perjalanan ini ?

1. Saat hujan di sertai petir sebaiknya tidak menyalakan benda elektronik yang mengandung sinyal. Karena itu BAHAYA bisa mengundang petir. 

2. Mendaki saat musim hujan bukanlah pilihan yang tepat. Tapi jika memaksakan, persiapkan diri matang matang. Safety first! Bungkus peralatanmu menggunakan plastik seperti SB, pakaian, lampu penerangan DLL.

3. Jangan berada di puncak paling tinggi di gunung saat hujan disertai petir. Usahahakan kita berada lebih rendah dari puncak.

4. Kontrol egomu! Jangan memaksakan naik jika cuaca buruk. Utamakan keselamatan! Gunung gak bakal kemana-mana kok masih di situ-situ aja. Emangnya kenangan yang bisa datang dan pergi begitu saja lahhh laugh laugh

 

Terimakasih sudah membaca ceritaku sampai habis. Jika ada kesalahan kata atau pertanyaan lagi. Bisa kirim ke :

mailemail : fahmy2507@gmail.com

Instagram : @fahmysnts_

 

 

 

Punya cerita tersendiri saat pendakian? atau cerita misteri saat pendakian? atau memiliki tips/ilmu/pengetahuan soal pendakian? Punya kisah tentang seseorang yang menginspirasi? Memiliki referensi film atau acara televisi yang mungkin akan bermanfaat bagi orang lain, terutama para pejalan? Punya toko outdoor untuk dipublikasikan?  Memiliki kisah perjalanan ke suatu tempat wisata beserta tipsnya? Ada event seperti lari, panjat tebing, navigasi darat (kecuali open trip dan pendakian massal yah).

Punya info tersebut? Mau berbagi ke website kami?
Silahkan untuk mengirimkan materi tulisan ke redaksi kami > urbanhikersmagazine@gmail.com < 
Dimohon jika itu tulisan milik orang lain untuk tidak lupa mencantumkan sumbernya.

.

.

Bagi yang mau mendukung atau beriklan di website, silahkan hubungi > Phone: (+62) 857-7792-0672 atau kirim email ke : urbanhikersmarketing@gmail.com
.
.
Sekian informasinya, ditunggu ya sob tulisan-tulisannya. Let’s share happiness and story to everybody  ^^


Sumber : instagram @urban.hikers